TOH Level Up

TOH Level Up
Lari malu, Maju kematian



“Sabar kita tunggu momen yang pas kawan,” ucap Gus Bari bersembunyi di puing-puing bangunan kecamatan Ngoro di sekitar pertigaan sebuah pasar tradisional.


“Mereka adalah para raja gaib dari bangsa raksasa dan genderuwo Gus. Terlalu kuat kalau kita lawan dengan pasukan kita yang sekarang,” ujar Pras kaki tangan Gus Bari yang tengah berjongkok di sampingnya di balik satu tembok pasar.


“Kau benar dengan kekuatan kita yang hanya sepuluh orang. Kita rasanya tak mampu melawan seratus raja gaib dari bangsa raksasa dan genderuwo itu,” ujar Gus Bari menatap sisa pasukannya yang hanya ada sepuluh orang ditambah ia dan Pras berarti dua belas orang jumlahnya.


Sedangkan pas di tengah-tengah pasar. Tampak seratus raja-raja raksasa dan genderuwo. Sedang asyik menyantap hidangan makan malam mereka. Bahkan bahan makanan mereka adalah sebuah tumpukan mayat warga yang menggunung di tengah-tengah mereka.


“Lalu kita harus bagaimana Gus Bari. Kalau kita biarkan saja seratus raja itu. Tentu akan lebih banyak jatuh korban Gus,” ujar Pras yang ingin terus bertarung. Tetapi masih ragu jua, sebab sekumpulan setan di depannya adalah kumpulan makhluk buas bertitel Raja.


“Biarkan saja mereka pergi, kita berperang harus memakai otak dan strategi. Jangan sampai kita mati konyol dengan cepat. Sebab perang kali ini entah kapan berakhir. Aku juga tiada tahu dan tak bisa mengerti kenapa perang kali ini terjadi?” ujar Gus Bari.


Tiba-tiba ada yang mendekat sambil mengendap-endap dari barisan belakang. Ternyata dia adalah Santo salah satu telik sandi dari klan Raji.


Sebenarnya dia memiliki anggota berjumlah jua sepuluh anggota. Tetapi divisi telik sandi baru saja dibentuk yang ia ketuai sendiri. Tugasnya menyebarkan segala kemungkinan perang dan segala informasi mengenai perang.


Maka dari itu telik sandi jarang ikut perang terbuka. Mereka disebar hanya untuk memberi informasi pada pasukan-pasukan dalam kota.


“Lapor Gus Bari dan saya membawa hanya kabar buruk kali ini. Tetapi tetap saya mendapatkan kabar baik. Walau kabar itu entah kabar baik atau bukan aku juga kurang memahami. Sebab persepsi setiap otak yang menerimanya tentu berbeda-beda,” ujar Santo hendak menyampaikan kabar.


“Katakan Santo kabar apa yang hendak kau sampaikan?” tanya Gus Bari semakin penasaran.


“Kabar buruknya adalah dua pemimpin utama kita telah gugur. Haji Jaka dan Lurah Dava beserta istri mereka telah tiada,” jawab Santo mengabarkan berita buruk dan sangat buruk bagi pasukan yang tengah berjuang di perang kota Jombang kali ini.


“Innalillahi Wainnaillaihi Raziun. Dahsyatnya tipu daya dan akibat perang kali ini. Bahkan masa kekosongan pemimpin di kota ini sudahlah terjadi. Lalu apa jasad mereka sudah diamankan? Takutnya ada pihak-pihak dari setan yang ingin menggunakan jasat para ketua,” ujar Gus Bari kembali bertanya.


“Kabar buruk selanjutnya memang yang Gus Bari tanyakan. Sampai sekarang jasat Haji Jaka dan Lurah Dava beserta istri-istri mereka belum diketemukan,” jawab Santo memaparkan kegetiran kota Jombang dengan kematian para Panglima besar.


“Lalu apa tidak ada kabar baik lain selain kematian para kesatria TOH?” ucap Gus Bari agak kesal dengan keadaan yang begitu mengerikan kali ini.


“Ada Gus, ada dua saja kabar baik, tetapi tidak sepenuhnya baik. Pak Bupati Bagus sedang bertarung mati-matian dan beliau masih hidup. Beliau bertarung di pusat kota melawan Dokter Dono yang ternyata adalah Joko kembaran dari Haji Jaka. Lalu pasukan macan selatan dari Wonosalam yang dipimpin oleh Gus Pendik. Berhasil menghancurkan dua negara setan sekaligus,” jawab Santo.


“Setidaknya masih ada kabar baik sebagai penyemangat kita berperang. Tapi kenapa kau sebut kabar baik itu tidak sepenuhnya baik?” tanya Gus Bari.


“Ternyata kekuatan setan kali ini sungguh luar biasa berat untuk kita lawan. Eh sebentar, tadi kau bilang Dokter Dono yang ternyata Joko atau kembaran Haji Jaka. Bukannya dia manusia, kenapa sampai Gus Bagus melawannya. Ada kaitan apa Dokter tersebut dengan perang ini?” kembali Gus Bari bertanya.


“Dokter Dono adalah dalang dari semua peristiwa yang terjadi saat ini. Hanya itu saja informasi yang aku dapat tentang Dokter gila itu. Maafkan aku mungkin kalau kita masih ada usia dan masih dapat bertemu kembali. Akan aku berikan informasi tentang Dokter Dono lebih detail. Sebab perang kali ini adalah perang pertama kami divisi inteligen atau telik sandi. Kami sungguh merasakan kengerian perang kali ini,” ucap Santo.


“Baiklah kalau begitu Santo laporanmu saya terima. Pergilah dan sebarkanlah informasi penting ini pada yang lain. Agar semua tahu keadaan yang sebenarnya seperti apa di kota Jombang ini,” ucap Gus Bari.


“Baik saya mohon undur diri Gus, Assalamualaikum,” ucap salam dari Santo, tetapi belum sempat Santo memutar posisi duduknya.


Ada satu pedang beraura gelap dan berlendir. Menghunus tepat di ulu hati dari arah belakang tembus ke depan.


“Allahuakbar Santo, woi!” teriak Gus Bari seketika berdiri. Begitu jua dengan Pras dan sepuluh anggota divisi bari lainnya.


“Argtz, tolong, tolong, tolong Gus Bari!” suara Santo tampak begitu lemah dan serak. Wajahnya terlihat begitu ketakutan dan kesakitan.


“Mau ke mana kawan? Buru-buru sekali. Main-mainlah dahulu kita, aku kan baru datang dengan puluhan bala tentaraku,” ucap Segawon lanang raja diraja dari seluruh siluman asu baung atau siluman anjing hitam.


Tampak pedang kematian berlendir milik Segawon yang telah menghunjam dada Santo ditariknya kembali dengan cepat. Membuat Santo tak bernafas lagi dan jatuh tersungkur berlumuran darah.


“Hem darah perjaka memang sangat segar. Tak salah tadi aku lekas menusuknya tepat di jantungnya,” oceh Segawon sambil menjilat sisa darah Santo dari ujung pedangnya.


Auuu, Auuu,


Rupanya tanpa Gus Bari dan pasukannya sadari. Telah datang puluhan siluman anjing hitam yang berkerumun di sekitar mereka. Bahkan kali ini divisi Gus Bari terkepung sudah depan dan belakang.


Depan mereka di tengah pasar ada seratus raja raksasa dan genderuwo. Belakang mereka puluhan siluman anjing setan yang di pimpin oleh Segawon lanang.


“Kalau seperti ini kondisinya Pras. Baiknya kita tidak bersembunyi lagi. Kita harus melawan mati-matian sampai darah penghabisan. Kalah secara terhormat atau lari sebagai pecundang Pras?” ucap Gus Bari mengambil pedang angin miliknya.


“Aku tidak mau lari sebagai seorang kesatria yang takut akan kematian Kapten. Aku memilih bertahan untuk menemanimu bertarung. Walau pada akhirnya kematian yang menjemputku. Bahkan ini adalah keinginanku mati secara terhormat bersama Kapten yang aku idolakan,” jawab Pras tersenyum sambil mencabut pedang anginnya. Pras jua memiliki pedang angin, sebab ia adalah murit dari Gus Bari.