
“Apa kau sudah menyerah Pak Bupati Bagus? Ayolah terima saja takdirmu. Bahwa kau harus mati ditanganku. Sebab dengan kematianmu lengkap sudah kematian tiga serangkai kota Jombang yang melegenda itu,” oceh Dokter Dono memegang tangan kanan milik Bupati Bagus yang baru saja ia patahkan.
“Tjueh, walau aku harus mati di sini. Tak akan aku menyerah begitu saja walau aku tak memiliki lengan lagi!” ujar Bupati Bagus masih tampak terengah-engah dan merasakan sakit begitu dahsyat.
“Kau terlalu ceroboh Bagus, dia Dokter gila itu. Berhasil mengelabuhimu dengan sedikit tipu daya menggunakan wajahnya yang mirip dengan Jaka. Sudah aku bilang dari dahulu, jangan kau terlalu menyayangi Si Jaka melebihi Penciptamu,” ucap naga hitam yang baru saja berhasil menghancurkan Ganggalion.
Memang pendamping gaib dari Bupati Bagus selalu menang melawan pendamping ciptaan Dokter Dono. Tetapi keadaan berimbang tengah terjadi antara Bupati Bagus melawan Dokter Dono.
Namun Dokter Dono masih diuntungkan dengan tubuh mesinnya. Walau ditebas beberapa kali oleh Bupati Bagus. Bahkan seharusnya Dokter Dono sudah kalah. Karena kedua tangan dan kedua kakinya sudah ditebas semua oleh Bupati Bagus.
“Sekarang apa lagi yang akan kau lakukan Pak Bupati? Kedua tanganmu sudah hilang. Sudahlah biarkan aku memenggal kepalamu. Biarkan aku membawa tubuhmu sebagai kelinci percobaanku berikutnya,” cetus Dokter Dono dengan kaki dan tangan mesinnya begitu jemawa dan sombong.
“Walau aku sudah tidak memiliki lengan untuk mengeluarkan teknik gaib. Walau aku sudah tak memiliki lengan untuk memegang ujung pedangku. Aku masih memiliki mulut dan gigi untuk menggenggam pedang dan api. Aku adalah pemimpin utama yang sebenarnya di kota ini. Jangan kau remehkan kekuatan kami Joko,” teriak Bupati Bagus menggigit gumpalan api yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya.
Gumpalan api tersebut mulai membentuk sebuah pedang. Kali ini naga hitam ikut berubah menjadi api hitam yang dapat membakar apa saja. Walau api itu sendiri dapat terbakar dengan sambaran api hitam jelmaan naga hitam.
“Bersiaplah menemui kemungkinan terburuk dari usaha terakhirku ini Dokter Dono. Kau belum pernah tahu bukan pedang magma berbalut api hitamku ini. Majulah Dokter Dono hadapilah pedang neraka milikku ini,” teriak Bupati Bagus berlari ke arah Dokter Dono sambil menggigit pedang neraka miliknya.
“Akhirnya muncul juga pedang legenda yang aku incar selama ini. Terima kasih Bupati Bagus kau telah menunjukkannya padaku. Jikalau aku membunuhmu, aku tak akan rugi. Sebab pedang itu akan aku miliki nantinya. Kemarilah kawan kita tentukan akhir dari pertarungan kita. Bahwa kematianmu adalah awal berdirinya masa dan era baru level selanjutnya tentu bukan era manusia,” kelakar Dokter Dono.
Lalu dua kekuatan saling berbenturan sudah. Lalu kekuatan gaib alami dari alam beradu kuat dengan kekuatan mesin ciptaan. Bahkan dua kekuatan besar era ini saat bertemu di satu titik. Menimbulkan getaran dahsyat di bumi kota Jombang.
***
Dar, dar, duar,
Tampak kilatan petir dan guntur di atas langit pusat kota Jombang. Sampai-sampai kilatan itu dan dentuman itu. Terdengar jelas dari area pasar Ngoro di mana divisi Bari tengah bertempur antara hidup dan mati.
Bahkan dentuman tersebut sampai membuat sebagian setan ketakutan dan lari meninggalkan pertempuran area Pasar Ngoro. Membuat beberapa pasukan dari anggota TOH yang semula terus berdatangan. Tampak sedikit ada kekhawatiran di benak mereka.
“Suara apa itu tadi Gus Bari? Begitu mengerikan benturan kekuatan tersebut. Siapa rupanya yang tengah bertarung di area tengah-tengah pusat kota Jombang?” tanya Pras yang terus mendampingi Gus Bari bertempur.
“Aura ini milik temanku yang sudah lama tak bertarung. Sudah lama sekali dia tak mengeluarkan aura seperti ini. Dia adalah pemimpin utama dari kenyataan kota Jombang. Dia Pak Bupati Bagus yang lebih kuat dari Haji Jaka dan lebih cerdas dari Lurah Dava. Dialah sebenar-benarnya pemimpin kota Jombang yang sesungguhnya,” jawab Gus Bari.
“Rupanya beliau yang tengah bertarung. Makanya auranya begitu mengerikan, lalu siapa rupanya yang mampu mengimbangi kekuatan Pak Bupati?” kembali Pras bertanya.
“Jangan kau lengah wahai para Panglima ras manusia!” teriak Segawon dan salah satu raja raksasa. Mereka bersamaan menyerang Pras dan Gus Bari.
Sisi Gus Bari ada satu raja raksasa yang memiliki kalung dengan untaian seratus tengkorak manusia. Tetapi tengkorak itu adalah tengkorak dari para panglima musuh yang pernah ia kalahkan. Raja raksasa memukul ke arah tanah di mana di situ ada Gus Bari. Seketika Gus Bari menghindar dengan cepat.
Sisi Pras ada Segawon yang terus menyabetkan pedang pencabut arwahnya ke arah Pras. Tetapi Pras masih bisa menghindar dengan santai. Bahkan ia masih bisa menyulut sebatang rokok sambil menghindari serangan dari Segawon.
“Kenapa kalian hanya menghindar bodoh!” umpat Segawon masih terus melayangkan pedangnya ke arah Pras.
Tetapi Pras malah terus menghindar sambil mengobrol santai dengan Gus Bari. Seolah-olah mereka tidak dalam keadaan berperang. Bahkan omongan-omongan beberapa saat lalu tentang maju mati dan mundur malu. Seolah hanya isapan jempol belaka.
“Eh Gus Bari, apa benar ya yang bertarung di pusat kota itu Bupati Bagus melawan Dokter Dono?” tanya Pras sambil terus menghindari serangan pedang Segawon lanang.
“Laporan dari Santo tadi tentunya benar Pras. Aku tahu benar Santo adalah seorang pemuda yang begitu taat. Tentu dia tak akan mau mengarang cerita. Walau dia di dalam ancaman sekali pun. Bahkan dia tak akan membuka rahasia yang ia bawa satu kata pun. Walau sampai ia di bunuh oleh musuh. Maka dari itu Haji Jaka sendiri yang melantiknya menjadi pemimpin divisi pengintai atau inteligen,” jawab Gus Bari.
“Apa-apaan mereka ini Segawon. Keluarkan senjata pemusnah masalmu. Agar mereka mulai serius bertarung dengan kita,” ujar raja raksasa.
“Baiklah mari kita bertarung lebih serius lagi wahai manusia,” ucap Segawon tampak berkomat-kamit.
Rupanya ia merapal satu ajian sakti level tertinggi miliknya. Tiba-tiba dari dalam tubuhnya keluar asap tebal. Lalu sosoknya berubah membesar, tumbuhlah jua dua kepala lain di kanan dan kiri kepala awal.
“Iblis anjing penjaga pintu neraka. Pras menjauhlah dahulu keadaan ini semakin berbahaya” teriak Gus Bari mengajak Pras untuk menjauh.
“Akhirnya kalian lebih serius lagi,” timpal raja raksasa.
Tetapi Pras ternyata belum sempat menghindar. Sebab tubuhnya dengan cepat disambar oleh iblis anjing tiga kepala.
Hap,
Pras tertelan sekali lahap oleh iblis anjing tiga kepala penjaga gerbang neraka. Begitu cepat sambaran tersebut membuat Pras tak sempat menghindar walau sekedar untuk menoleh.
“Pras...!” teriak Gus Bari.