
Sejarah lama kini sudah berganti warna. Kalender tua telah ditukar dengan sebuah masa di tahun kalender baru. Begitu jua jaman dunia persilatan telah berubah era. TOH lama di generasi tua telah berganti menjadi TOH Level Up.
Hari ini mentari telah menggelinding kembali dalam peraduan fajar semula. Wajahnya malu-malu di ufuk timur perlahan menampakkan senyuman.
Ada semai bunga rerumputan yang mekar kembali di beberapa ruas jalanan. Ada embun kembali tergelincir di atas daun talas walau Cuma beberapa helai saja.
Suka cita para pejuang lima kota tampak tumpah ruah di tengah kota. Mereka menyanyikan lagu kemenangan dengan riang. Hari baru telah tiba, hari baru telah tiba. Koar sebagian orang dengan penuh kegembiraan.
Akhirnya lima kota besar yang terpusat pada kota Jombang kembali dalam kedamaian. Lima kota tak lagi dalam bayang-bayang kelam kehancuran.
Namun ada satu pemuda yang masih belum beranjak dari pinggiran tanah amblas semalam. Matanya terus menatap ke arah timur jauh dengan pandangan begitu marah.
Elang masih tidak terima akan kata-kata Wahyu. Bukan kesal terhadap Wahyu, tetapi marah terhadap Si Pembuat Onar. Marah pada manusia yang telah membangunkan ratusan bangsa setan. Lalu menghancurkan kota Jombang tiga tahun lalu.
“Kalau aku tahu ada dalang di balik semua kejadian memilukan tiga tahun ini. Tak akan aku capek-capek melawan para Raja setan. Aku akan menuju sarang pusat mereka dibangunkan saja. Agar aku bertemu manusia laknat tersebut lalu membunuhnya dengan cepat,” gerutu Elang masih berdiri mematung sambil menggigit giginya sendiri.
“Nak, anakku Elang, Putra Ibu, ke mana Masmu Wahyu?” sedikit ucap dari bibir manis Ibu Sari perlahan menghampiri Elang. Walau Ibu Sari sebenarnya sudah mengetahui perihal kepergian Wahyu dan maksud serta tujuannya.
“Ibu maafkan anakmu yang tak bisa mencegah Wahyu pergi. Aku tahu Wahyu memilih untuk menghadapinya sendiri. Aku tahu Wahyu adalah kesatria sejati yang aku kenal. Memilih untuk menanggungnya sendirian. Walau ia tahu sama saja bunuh diri untuk pergi ke sana,” jawab Elang tanpa menoleh sedikit pun pada Ibu Sari dan masih menatap timur jauh.
“Elang kau harus mengerti dari kata sebuah kepangkatan. Bahkan jabatan tertinggi sebagai jendral lima kota membuat Wahyu mengerti akan sebuah arti dari kedamaian lima kota di pundaknya. Maka pilihan Wahyu teramat sulit Nak, berdiam yang artinya menunggu perang selanjutnya datang. Menemui sumber perang yang berarti menghadapinya lebih awal,” timpal Lurah Dava menyanding Elang di sebelah kanannya. Sedangkan sebelah kiri Ibu Sari tengah berdiri.
Sekar bergegas berlari menemui ketiga tokoh utama klan Kardi tersebut. Tampak tergopoh-gopoh agak sengal di nafasnya. Pandangan Sekar tampak mencari-cari keberadaan Wahyu. Tetapi tiada menemukannya jua, walau berulang kali mencarinya.
“Elang di mana Mas Wahyu, kenapa Mas Wahyu tidak ada? Elang jawab aku,” tanya Sekar agak merengek sambil menggoyang-goyang tangan Elang.
“Aku harus menyusul Mas Wahyu, aku tidak mau kehilangan lagi. Aku harus pergi ke sana mencari Mas Wahyu. Aku harus menemaninya Ibu Sari, aku harus menemani Mas Wahyuku Paman Dava. Mas Wahyuku sebenarnya tersiksa batin, betapa hatinya tengah menjerit atas kematian kedua orang tuanya. Biarkan aku menyusulnya Elang jangan halangi aku. Aku ingin bersama kekasihku, aku ingin menemani cintaku sampai akhir,” rengek Sekar seketika menangis sejadi-jadinya.
Sekar terus merengek ingin mengejar Wahyu. Namun tetap dihalangi oleh elang dan akhirnya Sekar hanya bisa duduk tersimpuh di belakang Elang yang tengah menghalanginya.
“Sebelum pergi Wahyu berpesan kepadaku untuk menjaga kota Jombang demi dirinya. Wahyu juga mengatakan kepadaku agar kau Mbak Sekar jangan menantinya. Berbahagialah dengan lelaki yang lain suatu saat nanti. Memilihlah kesatria yang lain suatu saat nanti untuk mendampingi hidupmu. Sebab tipis harapannya untuk kembali dalam keadaan hidup bagi Wahyu,” ujar Elang duduk berjongkok di depan sekar yang tengah menangis sambil bersimpuh di atas tanah.
“Tidak Elang aku tidak mau! Aku hanya ingin Mas Wahyu. Ibu Sari katakan pada Elang aku hanya milik Mas Wahyu Ibu. Selain Mas Wahyu aku tak mau, katakan pada Elang Ibu. Aku ini hanya milik Mas Wahyu bukan yang lain,” Sekar terus merengek bagai anak kecil yang tak dibelikan mainan oleh ayahnya. Bagai seorang Ayah yang ditinggal merantau oleh anak lelakinya. Bagai kekasih yang ditinggal pergi belahan jiwanya.
“Sekar bangun anakku, sudahlah terus berdoa untuk Mas Wahyumu. Doakan dia kembali dalam keadaan selamat. Sudah menjadi tanggung jawab seorang jendral besar untuk melindungi rakyatnya. Sudah menjadi tanggung jawab Wahyu untuk tetap menjaga kedamaian kota Jombang sebagai ketua umum kesatria lima kota. Ibu yakin Wahyu bukanlah sembarangan orang. Dia adalah keturunan langsung dari reinkarnasi pangeran Satria putra Raja Dewa. Aku tahu Wahyu mampu dan akan kembali pada kita dalam keadaan selamat,” tutur Ibu Sari membantu Sekar berdiri.
“Aku kenal betul keponakan kesayanganku satu itu Sekar. Sifatnya di reinkarnasi kali ini begitu sama persis dengan Mas Jaka. Selalu ingin melindungi semua orang dan tak ingin menunda satu pekerjaan sekali pun. Tetapi aku tahu Mas Jaka selalu pulang dengan senyum sambil berkata kepadaku, sudah beres begitu ucapnya,” timpal Lurah Dava mencoba menghibur Sekar.
“Mas Wahyu...! Adek akan selalu menunggumu sampai kau pulang. Berjanjilah Mas untuk kembali dengan selamat. Kekasihmu ini akan selalu menunggumu Mas sampai kapan pun akan aku tunggu kepulanganmu Mas Wahyu. Bukankah kau selalu mengatakan padaku Mas. Kau akan selalu menjaga kekasihmu ini dari semua marabahaya. Pulanglah Mas Wahyu aku menunggu...!” teriak Sari meluapkan emosinya yang menggebu-gebu akan kepergian sang kekasih.
“Sudah ayo Elang rapat harus segera kita mulai dan dunia baru harus segera kita buka. Era level up milik kalian sudah dimulai Nak dan kau sebagai ganti Wahyu harus memimpin rapat akbar lima kota,” ujar Lurah Dava mengajak Elang menuju ke arah kesatria lima kota yang tengah berkumpul tak jauh dari mereka berdiri.
“Sekar kita juga ikut rapat ya Ndok. Bukankah kau pemimpin utama Srikandi TOH Level Up sayang. Masak Ratu dari para Srikandi menangis seperti ini. Kalau Ratunya menangis seperti ini, bagaimana Srikandi-Srikandi lainnya menjalani hidup mereka di masa depan. Ayo sayang kita juga harus mengikuti rapat akbar ini,” pinta Ibu Sari mengajak Sekar.
“Tidak Ibu aku masih ingin tetap di sini. Aku masih ingin tetap menunggu Mas Wahyu pulang,” sahut Sekar tetap kekeh ingin tinggal dan tetap menunggu kekasihnya pulang.
“Ibu biarkan dahulu Mbak Sekar masih dalam keadaan kalut. Kita harus memakluminya Ibu, sebab begitulah kekasih bersistematik. Apabila satu kekasihnya pergi menempuh jalan bahaya demi keselamatannya. Bahkan demi keselamatan seluruh orang seperti Wahyu kali ini. Begitulah kisah cinta Wahyu dan Sekar akan abadi dikisahkan dari jaman-ke jaman. Akan tetap abadi dikisahkan dari masa-ke masa. Walau kota Jombang akan terus berganti era kesatria,” ujar Elang mengajak Ibu Sari pergi dan memberikan kesempatan Sekar untuk sendiri.