
“Ayo Alak kita selesaikan dengan cepat dua mumi di depan kita itu. Sebab kita masih memiliki tugas bersama teman-teman klan Raji di perbatasan. Kita harus tetap mendampingi Si Jack di sana, walau kabarnya Mas Wahyu sudah datang. Tetapi perbatasan Badas dalam sejarah selalu memiliki cerita perang besar. Bukan tidak mungkin kali ini para siluman dan setan itu datang kembali dengan jumlah besar,” teriak Fahmi berlari di sisi kiri jalan. Sedangkan Alak berlari di sisi kanan aspal.
Mereka hendak memberi serangan pada kedua mumi yang tengah menari dengan balutan-balutan kain putih yang melilit tubuhnya. Kedua mumi tersebut terus menjulurkan kain-kain memanjang ke arah Fahmi dan Alak. Tapi Fahmi dan Alak mampu menghindarinya dengan gesit dan terus berlari menuju dua mumi.
“Terus serang kakak! Manusia-manusia itu terlihat lezat dimataku. Lilit mereka dengan lembaran kain kafanmu Kak. Usahakan kita makan malam kali ini aku sudah begitu lapar,” oceh mumi yang rupanya berpangkat lebih rendah.
“Jangan cerewet dan satu lagi jangan panggil aku kakak. Walau aku memang kakakmu dan saat dulu kita mati berdua. Tetapi saat menjadi setan mumi pangkatku lebih tinggi darimu. Panggil aku Panglima dan diam saja aku pasti menangkap mereka untuk makan malam kita. Kalau perlu bantu aku juga menangkap mereka. Aku rasakan dari aura mereka, seperti aku membayangkan meneguk darah manis bercampur asam di satu gelas kaca enak sekali,” timpal mumi berpangkat Panglima terus melempar kain-kain penutup tubuhnya. Menjulurkan panjang ke arah Fahmi dan Alak.
Walau kain-kain kedua mumi dilontarkan ke arah Fahmi dan Alak. Seakan kain yang membalut tubuh mereka tidak pernah habis. Terus memanjang dan terus memanjang. Tetapi kain yang melilit tubuh mereka seakan masih utuh.
Mereka menggerakkan kain-kain melemparkannya sampai memanjang bak selendang dari kain kafan dari lengan-lengan mereka. Bergaya seolah sebuah jurus dari super hero bergambar laba-laba.
Fahmi terus menghindari luncuran kain-kain panjang yang mengarah kepadanya dan hendak melilitnya. Begitu jua Alak jua sama dengan Fahmi, malah kali ini Alak menggunakan lontaran kain yang menuju ke arahnya sebagai pijakan berlari. Seolah-olah Alak berlari di atas kain-kain yang terbang panjang meluncur ke arahnya dari tangan kedua mumi.
“Asyik cihui, aku berjalan di atas kain terbang, hehe,” teriak Alak yang malah bercanda sambil merentangkan tangan dan berlari. Seolah membentuk pesawat terbang, seperti larinya para Sinobi ninja negara bunga sakura.
“Walah malah bercanda suruh cepat menyelesaikan setan mumi kok malah main-main,” gerutu Fahmi terus berlari dan kini menambah kecepatan larinya.
“Ah lama kau Alak, sudahlah biar aku selesaikan sendiri,” ucap Fahmi mengeluarkan pedang api biru yang terbuat dari aura cakra di dalam tubuh Fahmi. Sebuah aura yang hanya di pusat titikkan pada satu bagian tubuh. Lalu dimodifikasi dengan pikiran si pengguna untuk membentuk sebuah alat perang yang diinginkan.
Tidak banyak petarung di organisasi TOH yang mampu melakukan teknik ini. Sebab dahulu teknik ini diciptakan oleh Mbah Raji sendiri. Seorang pemimpin atau tetua besar pendiri klan Raji itu sendiri. Bahkan beliau gugur sebelum menyebarkan teknik tersebut kepada para petarung. Walau begitu Mbah Raji masih sempat mengajarkan pada cucu-cucu dari keturunannya.
Fahmi kini telah memegang pedang aura api biru di tangannya. Fahmi mulai menari-nari dengan mengayunkan pedang api biru miliknya. Satu, dua dan tiga tebasan membuat semua kain panjang bak selendang kain kafan milik dua mumi tertebas sudah.
“Kurang ajar! Rupanya mereka berdua adalah petarung TOH juga. Kenapa kau hanya memikirkan makan saja adik. Tapi tidak memperhitungkan jikalau mereka juga petarung dan golongan kesatria TOH, sial!” ucap mumi berpangkat Panglima.
“Mana aku tahu kak aku lapar,” jawab mumi berpangkat rendah.
Tiba-tiba saat asyik berdebat, dari atas mereka muncul Alak. Alak secara mengejutkan sudah berada di atas mereka melompat hendak melayangkan pukulan.
Terlihat tangan kanan Alak semakin membesar dengan urat-urat tangan seakan keluar dari kulitnya. Kukku-kukku tangannya jua menjadi hitam dan panjang. Seakan tangan kanan Alak adalah tangan dari sebuah sosok raksasa.
Fahmi dan Alak memanglah bukan asli dari keturunan Klan Raji. Darah mereka jua bercampur dengan klan Lukman. Jadi Fahmi dan Alak dapat menguasai jurus-jurus legenda kedua klan.
Dar,
Hantaman dari kepalan tangan Alak ternyata meleset. Dua mumi ternyata mampu menghindar dengan cepat. Lalu pukulan Dewa kematian milik Alak mengenai permukaan aspal. Terlihat tanah di sekitar hantaman pukulan milik Alak retak. Bahkan sampai ambles membuat lingkaran berdiameter sepuluh meter.
“Hai, bukankah daerah ini kawasan klan Raji. Kenapa kau mampu menguasai teknik legenda tangan Dewa kematian milik klan Lukman?” teriak mumi berpangkat rendah rupanya mulai serius untuk bertarung. Sebab merasa tertantang dengan Alak yang jua sudah mulai agresif menyerang.
“Memangnya tidak boleh kami memiliki dua tipe teknik legenda heh, Kakak lekaslah!” teriak Alak memanggil Fahmi dan ternyata Fahmi sudah menjadi dua wujud kembar pas di depan kedua mumi. Lalu dengan cepat melewati keduanya sambil menebaskan pedangnya ke tubuh masing-masing mumi.
Tar,
Kedua mumi hancur berantakan, lalu terbakarlah pecahan-pecahan kecil dari hancurnya mumi menjadi abu. Kainnya jua berhamburan jua ikut terbakar tak bersisa.
“Musnahlah kalian dan kembalilah ke alam kubur atau neraka bila perlu. Jangan remehkan anak muda manusia kalau kalian tak ingin hancur terbakar menjadi abu,” ucap Fahmi yang sudah menghilangkan pedang api cakra biru di tangannya dan dia jua kembali menjadi satu Fahmi.
“Eh Kak Fahmi hati-hati awas!” teriak Alak berlari ke arah Fahmi.
“Apa-apa, ada apa Alak?” jawab Fahmi kaget saat Alak berteriak seolah terjadi sesuatu yang membahayakan mereka.
Benar juga ada satu hal yang membahayakan nyawa mereka. Ternyata dua mumi yang hancur tidak benar-benar hancur. Serpihan-serpihan dari tubuh mereka, tidak benar-benar menjadi abu semuanya. Ada beberapa yang masih utuh di sekitar Fahmi.
Serpihan-serpihan tersebut mengeluarkan asap dari dalam per bagian serpihan. Ada percikan api dan ledakan-ledakan kecil di beberapa bagian serpihan. Alak seketika memiliki firasat buruk saat melihat pecahan-pecahan tubuh mumi yang masih berserakan di sekitar Fahmi.
“Kak Fahmi menghindarlah Kak!” teriak Alak berlari ke arah Fahmi. Tetapi ledakan terlanjur terjadi, tetapi semua terlanjur hancur berantakan karena ledakan dari serpihan tubuh mumi.
Dar, dar, dar,
Ledakan besar akhirnya terjadi dan Fahmi berada pas di tengah-tengah ledakan tersebut. Asap tebal dan lontaran pecahan-pecahan daging-daging yang terpotong-potong kecil-kecil terlontar ke berbagai arah. Hanya terlihat pedang aura api biru menancap pas ditengah-tengah ledakan milik Fahmi.
“Fahmi...!” teriakan Alak meraung-raung pilu.