TOH Level Up

TOH Level Up
Umi Putri berpulang



Haji Jaka mematung sendiri menatap jasad Umi Putri di atas ranjang. Melelehlah air mata bening dari mata kuat sang pejuang. Melelehlah air mata dari bola mata yang tak pernah menangis dari puluhan tahun lalu.


Kali ini dan malam ini sang pemimpin sudah hancur. Bahkan sang pemimpin kota terkuat dari lima kota telah kalah sebelum berperang. Sendi-sendinya terasa sulit untuk digerakkan. Tangannya ingin meraih tapi apa yang harus diraihnya. Bahwa sang permaisuri hati telah pergi dengan cara mengenaskan.


Argtz, tidak...!


Raungan dari teriakan menyayat pedih terlontar sudah dari bibir Haji Jaka. Ternyata teriakan Haji Jaka bergema hingga ke atas langit kota Jombang. Hingga seluruh masyarakat kota Jombang turut mendengarnya.


Teriakan dahsyat sang pemimpin kota membuat gemuruh dan petir kembali bermunculan di atas kota Jombang. Dahsyatnya raungan dari kekuatan nestapa lara dalam hati sang jawara. Membuat kota Jombang bergetar agak lama.


Tanahnya seakan terguncang bagaikan ada sebuah gempa bumi berskala besar. Berhamburan lah seluruh masyarakat merasakan keanehan yang tiba-tiba terjadi.


“Tidak Dek, tidak kekasihku, mengapa harus terjadi seperti ini. Mengapa...!” rintihan Haji Jaka tetap berdiri mematung di depan ranjang. Tiada dapat kembali membangunkan Umi Putri yang sudah tiada bergerak dan tak bernapas lagi.


“Bangun Dek, Bangun Dek!” Haji Jaka terus berteriak seakan tak menerima semua keadaan dengan takdir yang terjadi.


Namun Umi Putri masih diam terlentang di atas ranjang penuh bersimbah darah. Namun Umi Putri masih tak bergerak dengan kepala tergeletak di lantai.


Tapi tubuh masih terlentang di atas ranjang. Bercak darah telah berceceran diselimut dan lantai. Selimut putih tak lagi bersih, warnanya berubah menjadi merah berbau amis darah.


Tiada pernah sang pemimpin umum kota termakhsyur di antara lima kota pejuang gaib bergetar hebat dengan tangisannya yang merintih. Tiada pernah jua sang ketua utama para pemimpin kesatria silat gaib dari lima kota, terdiam mematung dan bisu.


Tetapi malam ini sanggatlah berbeda, tetapi malam ini adalah malam sebuah tragedi. Sebuah malam dimanah sebelumnya Umi Putri telah memberi pertanda.


“Mas aku sayang kamu seperti waktu itu, waktu kemarin, waktu nanti dan waktu yang akan datang saat aku tiada lagi bersamamu. Mas Jaka jangan pergi menuju gubuk Mbah Raji. Malam ini aku ingin merasakan kembali seperti awal malam pertama kita dahulu,” begitulah sebuah permintaan terakhir sang istri sebelumnya.


Haji Jaka hanya berlalu dan menganggap istrinya hanya bercanda saja seperti biasanya. Tanpa tahu jikalau saat ia kembali memang benar sang istri sudah tak bernapas lagi.


Kali ini Haji Jaka berjongkok mengambil selimut putih yang jatuh tak beraturan di depannya. Meremetnya perlahan dengan kebekuan hati dan teramat marah dengan amarah puncak.


Betapa matanya diberi penerawangan gaib akan kilas balik. Akan pandangan semua yang mereka lakukan para setan pada Umi Putri di atas ranjang.


“Maaf, maafkan aku sayang, maaf, maafkan aku istriku,” hanya kata maaf yang tergetar dari bibir Haji Jaka yang sudah penuh dibasahi air mata yang tiada hentinya terjatuh.


Tubuhnya tak lagi berbusana, tiada lagi selembar kain utuh melekat di badannya. Bahkan yang lebih mengenaskan sisi paling sensitif, sisi paling vital daerah kewanitaan Umi Putri seakan tampak robek-robek tak karuan. Ada luberan cairan putih kental agak cair tertumpah di sana.


Haji Jaka hanya bisa memandangi kengerian dari tragedi kematian sang istri. Kali ini sang pemimpin tak tangguh lagi, kali ini si pejuang tak kuat secara mental kembali.


Haji Jaka mencoba berjalan perlahan menghampiri ranjang sebelah kanan. Mengambil potongan kepala Umi Putri yang tergeletak dengan mata melotot di lantai. Menggambarkan betapa tersiksanya dengan siksaan yang teramat sangat sewaktu terjadinya tragedi.


Haji Jaka mencoba menyatukan kembali dengan sekuat tenaga kepala Umi Putri dengan badannya. Namun tiada bisa kembali di satukan sebab kali ini memang tak bisa kembali lagi.


Rupanya para Raja setan tahu kalau memotong kepala manusia. Tetapi lehernya di hancurkan dan dibakar. Tak akan bisa lagi manusia lain yang memiliki kemampuan ahli menyambung kembali. Tentu akan kesulitan bahkan tak mungkin bisa menyambungnya kembali.


Tiba-tiba sosok ruh terakhir dari Umi Putri berdiri di samping Haji Jaka. Ruh terakhir dengan cahaya ruh begitu tipis. Bahkan terlihat hendak menghilang namun tetap utuh seperti ruh.


Lembut tangan ruh Umi Putri mengelus dada Haji Jaka. Mengecup pipi Haji Jaka dengan kecupan terakhir. Berbisik lembut di telinga Haji Jaka seraya berkata, “Mas maafkan aku, aku pergi dan tak bisa lagi menemani perjuanganmu. Lihatlah pada cermin almari baju kita aku titipkan gambaran tragedi saat-saat terakhirku menghembuskan nafas.”


Sontak Haji Jaka menoleh ke arah cermin yang berada tepat di belakangnya. Menatapnya penuh rasa kemarahan akan gambaran kesengsaraan Umi Putri yang terus meronta di atas ranjang.


Saat itu Umi Putri sedang mencoba terlelap memejamkan matanya. Memejamkan mata setelah mengantar Haji Jaka di sisi kamar yang lain namun tetap di kamar utama.


Melepaskan Haji Jaka dengan perasaan sangat sedih dan terus merasa ketakutan. Tapi entah perasaan takut pada siapa dan pada hal apa. Hanya sebuah firasat yang tak enak mengganjal di dalam hati.


Seperti biasa Umi Putri hanya memakai piama untuk tidur tanpa memakai baju dalam satu jua. Hal ini dimaksudkan apabila sang raja hatinya kembali pulang. Lalu suaminya tersebut ingin kembali menikmati hidangan yang tersedia di tubuhnya. Tentu dapat mudah melahapnya tanpa susah payah membangunkannya dalam lelap.


Namun belum sampai ia memejamkan mata sejenak setelah mengucapkan salam pada Haji Jaka yang pergi menuju kediaman Mbah Raji. Sosok Haji Jaka telah berdiri kembali di depan Ranjang.


Sebenarnya Umi Putri sempat mencurigai akan cepatnya Haji Jaka kembali. Namun segera ia tepis akan kegembiraan dan keriangan bahwa Haji Jaka kembali cepat.


Dalam hati Umi Putri hanya bersahut dengan menepis rasa curiga. Mungkin suamiku tak jadi ke rumah Haji Jaka dan ingin segera pulang. Tanpa menyadari segala kemungkinan yang akan terjadi. Tanpa menyadari sesungguhnya siapa dan apa bahkan makhluk apa yang ada tengah berdiri di depannya.


Sosok Haji Jaka di depan ranjang hanya tersenyum tipis. Lalu mulai melanjutkan aksinya mendekati Umi Putri di atas ranjang.


Begitu jua Umi Putri mulai memejamkan mata mempersilahkan sosok Haji Jaka untuk segera menjamahnya. Seperti biasa tanpa rasa curiga, cumbuan di bibir terus berpaut.