
Pak Bupati Bagus tengah berdiri di lantai paling atas kantor Bupati kota Jombang pusat. Tampak ia mengenakan jaket kebesaran TOH yang lama sudah tak ia kenakan kembali.
Malam ini iya memandang gejolak kisruh di berbagai tempat dari atas lantai atap kantornya. Jombang tidak baik-baik saja, gumamnya sambil menikmati cerutu khas cigaretek dalam udara yang semakin dingin.
“Pantas arah angin berubah dan bau anyir darah kembali menyengat. Kalian kembali berulah di kotaku, bahkan kalian ingin berperang seribu tahun tetap akan aku ladeni,” gerutu Pak Bupati Bagus terlihat jaket merah putih kebesaran TOH berkibar tertiup angin saat ia kenakan.
“Ternyata firasat istriku benar untuk hari ini dan maaf adik-adikku Jaka dan Dava. Mereka tahu kelengahan kita dan mereka mengerti kesempatan itu. Lalu kalian gugur tanpa berpesan apa pun padaku sebagai kakak tertua dan aku hanya diam tak mampu menolong kalian,” ucap Pak Bupati Bagus dengan nada agak kesal.
“Assalamualaikum Pak Bupati Bagus, lama kita tak berjumpa ya,” tiba-tiba datanglah satu sosok manusia dan ia kali ini menjadi tokoh sentral penggerak kejahatan secara masif dan terstruktur.
Kali ini Dokter Dono sendiri yang datang menggunakan teknik teleportasi cepat menemui Pak Bupati Bagus. Tetapi tentu teknik teleportasi cepat yang digunakan oleh Dokter Dono.
Tidaklah sama dengan teknik teleportasi cepat yang telah digunakan oleh sebagian besar kesatria TOH. Dokter Dono menggunakan teknik ini dengan satu alat canggih yang telah ia ciptakan sendiri di laboratorium miliknya yang ia beri nama bankker hitam.
“Apa aku harus menjawab salam dari manusia berkepala iblis seperti engkau Dokter Dono? Coba beri aku alasan. Coba beri aku satu alasan, kenapa aku harus menjawab salam darimu?” ujar Pak Bupati Bagus masih tetap berdiri menatap kota Jombang dari atas atap kantornya sambil membelakangi Dokter Dono yang tengah berdiri di belakangnya.
“Akan aku beri alasan, ya akan aku beri satu alasan. Kau tahu dan hanya kau yang tahu jikalau aku seberanya adalah kakak kandung dari pemimpin utama kalian Haji Jaka. Kalau kau menganggap adikku Jaka adalah saudara. Kenapa tidak kau menjawab salamku. Oh iya satu pertanyaan lagi untukmu Pak Bupati. Sejak dahulu aku ingin bertanya pada kalian para manusia. Kenapa hanya Jaka yang kalian selamatkan di dalam peristiwa malam jahanam puluhan tahun silam? Bukankah aku masih ada di sana menunggu untuk kalian selamatkan,” ujar Dokter Dono.
“Kau memang manusia yang tidak tahu budi dan tidak mengerti arti dari balas budi. Bahkan kau adalah manusia paling kejam dan biadab selama era ras manusia ada. Kalau kau mengakui Jaka adalah adik kandungmu kenapa kau tega membunuhnya. Bahkan kau menyamar menjadi setan lain untuk memperkosa istrinya. Apa pantas kau disebut manusia Dokter Dono?” ujar Pak Bupati Bagus terap membelakangi Dokter Dono.
“Baiklah, baiklah aku mengaku memang iri dengan Jaka sebelumnya dan pada umumnya aku iri dengan kalian. Kenapa hanya Jaka yang diselamatkan saat itu. Kalian tahu aku masih hidup dan tengah di pangku Ayahku Lurah Misdun yang sudah tewas terpenggal. Sebab itulah aku suka memenggal kepala kalian yang tidak mau menyelamatkanku,” ujar Dokter Dono mulai mencopoti atribut kedokterannya dan membuka kedok di balik topeng kulit wajahnya. Sebab selama ini sosok Dokter Dono hannyalah sebagai penyamaran belaka.
Ternyata Dokter Dono adalah Joko itu sendiri. Joko adalah saudara kembar Jaka dan hanya beda beberapa jam saja kelahirannya dari Jaka. Joko tak memiliki kemampuan gaib apa pun. Tapi dia memiliki otak yang cerdas dan Jenius.
Saat malam jahanam ia diselamatkan oleh para setan dan dibesarkan oleh mereka. Maka dari itu Joko menjadi sangat brutal di masa muda. Bahkan ia sering membuat alat-alat yang digunakan untuk kejahatan di jalanan. Lalu menjualnya pada para preman dan perampok.
“Jikalau memang begitu pernyataan dan pengakuanmu. Alangkah bodohnya aku kalau membiarkanmu pergi dari sini. Maka marilah bertarung denganku sebagai lelaki sejati. Kita tanggalkan atribut kebesaran kita satu sama lain. Lalu kita bertarung antara kau sebagai wakil dari setan dan aku sebagai manusia. Siapa yang mati maka dialah yang kalah,” ujar Pak Bupati Bagus melepaskan jaketnya dan membuangnya ke lantai begitu saja.
“Memanglah itu tujuanku kemari menemuimu Pak Bupati. Sebab kau yang paling kuat di antara tiga pilar utama kota Jombang. Haji Jaka dan Lurah Dava mereka masih di bawahmu levelnya dan itulah kenapa aku sendiri yang datang untuk melawanmu,” ujar Dokter Dono yang kali ini berwujud Joko kakak kandung dari Jaka.
Tampak Joko mengeluarkan satu alat mirip jam tangan. Menekannya pada tombol merah di tengah dan tiba-tiba mengeluarkan satu sosok seolah ular naga tapi terbuat dari mesin.
Pertama keluar memanglah seolah robot naga itu kecil. Tetapi lama-kelamaan semakin membesar dan berubah seolah menjadi ular naga sesungguhnya. Namun tetap berasal dari rangkaian besi dan baja.
“Kalau kalian menggunakan teknik-teknik gaib turun-temurun dari leluhur kalian. Aku juga dapat menggunakan otakku yang dapat membuat mesin-mesin aneh menyerupai teknik-teknik gaib yang kalian miliki dan inilah aku si Jenius dari kota Jombang Dokter Dono alias Joko,” ucap Dokter Dono yang berwajah begitu mirip dengan Haji Jaka.
“Bagus tampaknya kali ini akan kesulitan menghadapinya. Apa kau sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi kawan?” ujar Garuda yang sudah muncul begitu cepat di belakang Pak Bupati Bagus.
“Garuda kenapa kau ada di sini? Bukankah kau tengah menemani Wahyu di kota Serang. Bukankah ia tengah melakoni turnamen gaib nasional di kota para jawara itu?” ujar Bagus.
“Aku memang sahabat dari anak dari Jaka itu. Tetapi yang pertama memanggilku adalah kau dan manusia pertama yang aku dampingi adalah kau. Biarkan Wahyu fokus dengan turnamennya dan kita fokus dengan manusia setengah setan di depan kita ini,” sahut Garuda sambil memanggul gada sakti miliknya.
“Sudahlah kalian jangan reuni dahulu tunda saja untuk lain hari acara temu kangen kalian. Mari kita adu yang mana yang lebih kuat. Garuda dengan mitologi lama pewayangan milikmu atau mesin tempur naga milikku,” ucap Dokter Dono dalam wujud Joko. Naga mesin miliknya rupanya telah siap untuk bertarung.
“Garuda masak mitologi pewayangan para dewa kalah melawan mesin,” sindir Pak Bupati Bagus yang sudah mengeluarkan aura cahaya keemasan dari dalam tubuhnya.
“Woi manusia setengah setan yang tak mengerti sopan santun dan tak beradab. Mari kita buktikan saja mesin atau buatan Pencipta yang menang,” ujar Garuda yang mulai marah karena disindir.