TOH Level Up

TOH Level Up
Mereka sebenarnya Dewa



“Hai CN 01 kali ini kau yang memimpin robot anak kecil. Jangan sampai mereka semua pasukan para manusia itu melewati kita,” ucap robot manusia prototipe berkode CN 00 dengan jenis kelamin laki-laki dan mirip Haji Jaka.


“Benar anak manis perintahkan kita untuk segera menyerang mereka. Bahkan kami sudah selayaknya manusia yang haus akan membunuh dan kematian,” sahut robot prototipe berkode CN 02 dengan jenis kelamin wanita serupa Umi Putri.


“Hai adik kecil robot yang sebenarnya hanya contoh. Kami menunggu teriakan serangan darimu kawan. Lekaslah memberi sinyal serangan untuk penyerangan,” ucap robot prototipe berkode CN 03 dengan jenis kelamin laki-laki berwajah serupa Wahyu.


Mereka adalah robot-robot ciptaan Dokter Dono dan Mr. Toni. Mereka memang diciptakan serupa para tetua TOH. Bahkan semua robot yang berjumlah ratusan. Memiliki wajah dan kemampuan yang sama. Seperti para petinggi TOH era tua yang telah terbunuh dan kini jasadnya ada di dalam mobil Box.


Sementara itu dari kejauhan pandangan para robot. Pasukan divisi sisa manusia yang bertahan telah berjajar rapi. Seratus meter dari jajaran para robot.


“Elang kita semua sudah mengetahui dari cerita Lurah Dava dan Ibu Sari. Kalau mereka adalah robot manusia yang menyerupai orang tua-orang tua kita terdahulu. Maka berilah sinyal penyerangan agar semua berakhir dengan cepat dan kedamaian di kota Jombang tercipta kembali,” ucap Dewa anak kedua dari Bupati Bagus.


“Benar kata adikku Dewa beri sinyalnya untuk penyerangan Elang. Aku sudah tak sabar ingin menghancurkan para mesin yang telah membunuh Ayah dan Ibu kami itu,” ucap Halilintar menimpali pernyataan Dewa.


“Elang jangan kau ragu sebagai pemimpin dan kali ini sungguh era kalian keponakanku. Kali ini adalah TOH Era Level Up mari kita selesaikan semua ini,” sahut Paman Dwi Cahyadi.


“Anakku Elang dan Ibu juga sudah memantapkan diri. Ibu sudah memastikan dan menganggap yang berdiri di sana itu bukan Mbak Putri dan Mas Jaka yang selama ini sangat dekat dengan Ibu. Mari anakku kita lakukan perjuangan terakhir kita,” ucap Ibu Sari meyakinkan Elang yang tengah berdiri paling depan barisan manusia.


“Elang anakku dan kau adalah jagoan Ayah. Kau adalah harapan kami mari kita selamatkan Masmu Wahyu. Mungkin di belakang mereka di hutan Pangklungan itu. Masmu Wahyu tengah kesulitan melawan Dokter Dono dan Pak Toni sendirian. Beri kami sinyal serangan agar semua bergerak Nak,” ucap Lurah Dava menepuk pundak Elang untuk memantapkan hati putranya tersebut.


Elang menatap jajaran divisi manusia yang tersisa di belakangnya. Matanya mencoba melihat seluruh wajah-wajah yang sudah mulai lelah. Lalu kembali menatap ke depan ke arah jajaran robot yang masih jauh seratus meter di hadapan mereka.


“Baik semuanya mari kita selesaikan ini dan pulang untuk tidur dengan nyenyak. Untuk semua manusia di belakangku, mari kita lakukan dan mari kita maju untuk menyerang, serang!” teriak Elang berlari ke arah para robot diikuti ratusan divisi manusia di belakangnya.


“Serang...!” teriak prototipe robot manusia CN 01 yang jua memberi sinyal untuk menyerang bagi para robot. Akhirnya kali ini bukan peperangan manusia melawan setan. Tetapi kali ini adalah masa dimanah manusia melawan robot manusia.


***


Wahyu tengah beristirahat menikmati sebatang rokok yang tinggal separuh di bibirnya. Matanya memandang ke atas langit sambil mengabulkan asap-asap rokok ke atas udara pagi.


Kali ini Wahyu merindukan kampung halaman yang ia tinggal beratus-ratus tahun yang lalu di alam kayangan. Wahyu rindu akan air mengalir jernih dari susu sebagai sungainya.


Wahyu rindu rumput nan hijau dengan jajaran bunga Tulip warna-warni di halaman kerajaan sang Ayah. Wahyu rindu belaian Sang Ratu Dewi Ibunya yang selalu membelai rambutnya nan putih dan panjang setiap pagi hari.


Saat-saat rasa kerinduan akan kampung halaman di kayangan seperti pagi ini. Ternyata rasa rindu itu membuat Wahyu berubah kembali menjadi sosok dewanya.


Kembali dengan perawakan lebih tampan memakai baju serba putih dan memiliki rambut panjang jua berwarna putih. Bersandar pada satu pohon jati di samping kanan mobil Box.


“Manusia ternyata sangat unik dan penuh intrik dan penuh dengan kejutan. Mereka sudah diciptakan sedemikian rupa sebagai makhluk paling sempurna. Tetapi rasa tak puas tetap ada di hati mereka. Aku baru kali ini menyadari sisi manusiaku ternyata seperti ini. Setelah berkali-kali aku berinkarnasi baru kali ini aku menyadari rasa manusiaku,” gerutu Wahyu dalam wujud dewanya.


“Anakku kau sudah menyadarinyakah dan begitulah manusia diciptakan. Sudah kodrat manusia tak memiliki rasa puas dan selalu ingin memiliki lebih,” ujar Petapa Tanpa Nama yang sebenarnya adalah Raja Para Dewa dan Ayah dari Wahyu yang sebenarnya.


“Ayah kau di sini rupanya?” ujar Wahyu walau tak melihat ke belakangnya. Tetapi ia tahu kalau di belakangnya ada Raja Dewa yang berdiri.


“Oh ia ke mana Adikmu Elang, apa ia belum menyadari sosok Dewa di dalam dirinya?” ucap Raja Dewa menanyakan tentang Elang yang sebenarnya jua reinkarnasi Dewa Elang adik dari Dewa Langit yaitu Wahyu sendiri.


“Dia bersama para manusia itu Ayah. Elang belum sama sekali menyadari atas kualitas Dewanya. Bahkan ia sedikit pun tak pernah menunjukkan kekuatan Dewanya. Anak itu memang sulit mencari jati dirinya,” jawab Wahyu mulai berdiri menatap Raja Dewa.


“Memang dari dahulu ratusan tahun lalu Elang masih saja kekanak-kanakan. Bahkan seharusnya dia bisa menghancurkan pasukan robot dengan sekali serangan saja. Tetapi dia masih belum menyadarinya bahwa ia lebih kuat dari sisi manusianya,” ucap Raja Dewa menepuk pundak Wahyu.


“Ayah aku rindu pulang, bisakah kita kembali pulang untuk sesaat?” ucap Wahyu dalam sisi dewanya.


“Anakku kau tentu tahu sendiri janjimu padaku dahulu. Bahwa kau akan menyelesaikan tugas reinkarnasi yang satu ini sebagai Wahyu. Bukankah tugasmu belum selesai menjadi Wahyu. Adikmu Elang masih butuh bantuanmu sebagai kakak. Seperti halnya sifat manusia dari sisi positif. Maka aku juga akan mengatakannya padamu bersabarlah,” ujar Raja Dewa.


“Baiklah Ayah tentu aku akan menyelesaikan tugasku kali ini dan membantu Elang. Hingga mengetahui sejati kedewaannya dan akan pulang bersama dengannya. Salam pada Ibu ya Ayah, katakan pada Sang Ratu kalau kami sangat merindukan tidur di pangkuannya seperti waktu kecil dahulu,” ucap Wahyu.


“Tentu anakku dan kalian adalah anak-anakku. Kalian adalah anak Raja Dewa perang dan tugas kita memang menjaga kedamaian. Pulanglah bila tugas reinkarnasimu sudah selesai,” ucap Raja Dewa kembali menghilang.