TOH Level Up

TOH Level Up
Abah, Umi dan alam bawah sadar Wahyu



Langit masih teramat gelap-gulita di atas kota Jombang. Mungkin apabila mampu menggambarkan atap rumah adalah langit. Begitulah bila dapat diumpamakan, sebab awan-awan gelap yang berarak. Seakan tepat di atas kepala-kepala para petarung kota Jombang yang terus berjuang.


Wahyu masih berdiri di atas menara terakhir kota Jombang. Satu menara yang belum hancur di tengah kota dan hanya bangunan menara inilah satu-satunya yang belum hancur. Sebuah menara yang dahulu dibangun untuk memperingati kedamaian kembali kedamaian kota Jombang puluhan tahun lalu.


Wahyu di atas menara adalah Wahyu yang asli. Semenjak pertama datang lalu memecah menjadi ratusan bayangan wahyu sampai detik ini. Wahyu tetap memandang luas kehancuran kota Jombang. Walau matanya hanya menatap ke depan secara harfiah. Tetapi secara gaib matanya terpaut pada setiap bayangannya yang tengah berjuang.


Dalam hati Wahyu berkata, lihatlah Abah, lihatlah Umi. Kota yang pernah engkau perjuangkan mati-matian. Kini luluh-lantak tinggallah reruntuhan. Maaf Abah, maaf Umi, Wahyumu datang terlambat. Bahkan aku tak menemani masa-masa terakhirmu. Bahkan aku tak bisa menyelamatkanmu beserta kota ini.


Abah, Umi, mungkin Wahyu bisa memenangkan perang sekejap mata dengan kekuatan Wahyu yang sekarang. Mungkin Wahyu dapat membinasakan seluruh setan dengan sekejap dengan kekuatan Wahyu yang sekarang.


Tetapi hati ini akan terus membekas luka menganga perih Tetapi hati ini akan terus menyesal dalam. Tetapi hati ini akan terus merasa bersalah tak bisa menolong kalian di waktu terakhir. Maafkan Wahyumu ini Abah, Umi.


Begitulah ungkapan hati Wahyu dari lubuk serta sanubarinya yang terdalam. Tetesan air matanya akhirnya jatuh dan meluncur begitu saja. Menetes pada besi-besi berkarat di setiap bagian atas menara. Lalu melelehkan besi tersebut. Sebab kekuatan wahyu kali ini begitu Super Power akan kemarahan berkecamuk campur aduk dengan keheningan dalam kesedihan yang mendalam.


Dek, dek,


Tiba-tiba dada Wahyu berdetak kencang dua kali. Telinganya bergerak-gerak dan matanya mulai bersinar terang tak dapat dikendalikan. Seakan ada sebuah bisikan lembut namun begitu beraura keras. Mengetuk ketenangan sanubarinya yang tengah membara dari api dendam dan kemarahan.


“Assalamualaikum anakku Wahyu, Nak kau sudah pulang rupanya?” sapaan lembut dari aura magis yang tiba-tiba hadir di depannya. Membuat Wahyu sejenak tersentak kaget.


Betapa tidak seakan di bawah alam sadar. Namun Wahyu masih tetap berdiri kuat. Tapi tiba-tiba semua menjadi putih tiada bertepi dan hanya warna putih di sekeliling tak berujung.


“Waalaikumsalam Umi, Allahuakbar, Umi, Umi. Ya Allah Umi aku rindu Umi!” seketika emosi Wahyu tertumpah ruah tiada karuan. Tangisannya semakin deras tak terbendung. Seketika tubuhnya dihamburkan atas sambutan pelukan Uminya Umi Putri.


“Anakku semua bukan salahmu, kematian Abah, kematian Umi dan semua yang telah gugur membela tanah air kota kita Jombang. Semua hal yang terjadi tiga tahun ini bukan salahmu. Semua kehendak takdir Allah dan semua berjalan begitu cepat. Umi dan Abah yang seharusnya meminta maaf padamu anak ganteng. Kami tak sempat mengabarimu, tak sempat mengabari Mas Dwi dan yang lain. Jangan menangis jagoan Umi, kalau kau menangis lalu siapa yang memimpin mereka berjuang,” ucap Umi Putri yang sebenarnya hannyalah roh yang telah tiada.


“Anakku Wahyu sudah jangan lemah hatimu. Kau adalah anak kami yang paling hebat. Jikalau kau merengek dan bermental lemah seperti ini lalu siapa yang mengalahkan para setan itu siapa yang mampu memimpin ratusan pasukan pemuda era level Up itu. Bukankah kau dahulu semenjak kecil selalu berceloteh tentang era ini era level Up Nak,” jawab Umi Putri mengelus rambut putra kesayangannya mungkin untuk terakhir kali.


“Tapi Umi Wahyu tetap tidak menerima semua ini terjadi saat Wahyu tidak ada di samping kalian. Bahkan rumor mengatakan kalau kematian kalian begitu tragis. Mereka mengatakan padaku Umi, bahwa Abah dipenggal kepalanya lalu diarak di setiap sudut kota. Mereka mengatakan padaku Umi, kalau sebelum kematianmu. Umi ditelanjangi lalu digilir puluhan manusia bejat pembawa setan laknat,” rengek Wahyu matanya mulai sembab.


Tiba-tiba ada tangan yang sangat Wahyu kenal. Tangan milik Abah Jaka yang begitu kuat namun lembut bagi Wahyu. Mata itu menatap Wahyu dan Wahyu menatapnya dengan bertambah tangis.


“Abah, Abah, Umi Abah Umi, Abah maafkan Wahyu. Sungguh maafkan Wahyu, semua di luar kendali Wahyu atas peristiwa kematian kalian,” ucap Wahyu melepas pelukan Umi Putri. Lalu berganti memeluk Abah Jaka dengan erat. Seakan segala pedih, kerinduan, penyesalan Wahyu luapkan di pelukan Ayahnya dan Ibunya yang selalu ia panggil Abah dan Umi.


“Wahyu kecil Abah, sampai kapan pun. Walau Abah sudah diujung langit sana, kau tetap Wahyu kecil Abah ya Nak. Wahyu yang selalu tertawa, selalu membuat Abah dan Umimu jengkel dengan kenakalan-kenakalan kecilmu. Wahyu yang selalu dapat menyelamatkan kita semua. Pergilah anakku selamatkan kota Jombang ini. Hanya kau harapan kami untuk kembalinya kedamaian di kota Jombang. Kau tahukan caranya menyelamatkan kota Jombang. Kau tahulah kan anak Abah jagoan,” ujar Abah Jaka memeluk erat Wahyu penuh emosional.


“Masalah jasad kami Wahyu, pergilah ke timur menuju sebuah hutan pinus di area pamanmu Lukman. Area Wonosalam di sana ada sebuah bankker tak di huni. Ambillah kami di sana dan tolong kuburkan dengan seharusnya ya Nak,” ucap Umi Putri mengelus rambut Wahyu.


“Wahyu berjanji Umi, Abah, Wahyu akan mengambilnya,” jawab Wahyu kali ini singkat.


“Wahyu aku yakin kau dapat menang perang malam ini. Aku yakin kota ini akan berdiri kembali. Tapi pinta Abah jangan kau hilangkan budaya regenerasi turun temurun kita. Sebab ada bahaya lebih besar menantimu setelah ini Wahyu. Ada mesin-mesin pembunuh yang diciptakan yang membunuh kami. Wahyu kami bukan mati karena manusia, tetapi setan-setan itu bangkit kembali oleh ulah manusia. Jadi berhati-hatilah Nak, ada manusia yang berkedok setan dan ada setan yang berkedok manusia,” ucap Abah Jaka memperingatkan Wahyu.


“Nak tetap kuat, tetap menjadi jagoan Umi. Selamatkan kota tempat kelahiranmu kota Jombang. Tetap hidup ya anak gantengnya Umi,” ucap Umi mendampingi Abah Jaka kembali menghilang perlahan-lahan.


“Abah, Umi, tidak, tidak jangan pergi. Jangan, jangan, Abah aku masih Wahyumu yang kecil. Tolong Umi jangan pergi aku masih belum mampu untuk bangun melaksanakan subuhku tanpa Umi bangunkan. Tidak-tidak Abah, Umi!” teriak Wahyu lalu Wahyu tersadar dari alam bawah sadarnya.


“Kenapa Wahyu? Sudahlah keponakanku. Aku tahi apa yang terjadi di alam sadarmu. Mari kita bereskan semuanya malam ini juga. Lihatlah sudah pukul tiga dini hari dan sebentar lagi subuh. Biarkan Abah dan Umimu tenang di atas langit bersemayam di Surganya Allah,” ucap Paman Dwi yang tiba-tiba sudah ada di samping Wahyu.


“Paman Dwi mari, Bismillah,” ucap Wahyu melesat dengan cara terbang lalu kembali memecah diri menjadi ratusan wujud bayangan kembali. Paman Dwi hanya tersenyum lalu mengikutinya.