TOH Level Up

TOH Level Up
Anak panah naga merah



Rafi masih terbang dengan posisi berdiri di depan rimbunnya hutan bambu. Tangannya sudah tak dapat di gunakan yang sebelah kanan. Ada luka sobek menganga pas di pundaknya.


Tapi Rafi tiada habis akal dan cara. Rafi yang sudah melatih tangan kirinya bertahun-tahun. Agar sama kuatnya dengan tangan kanannya. Kali ini menggenggam busurnya dengan jari-jemari tangan kiri.


Nafasnya tampak tersengal tak beraturan. Raut wajahnya sudah begitu menampakkan kelelahan. Tenaga dan aura hidupnya sudah semakin menipis. Rafi sudah ditahap akhir batas kekuatannya.


Dia hanya sendirian kali ini dan pasukan divisi atas yang bersamanya. Sudahlah tumbang berjatuhan di sekitar hutan bambu. Banyak yang tewas dengan cara mengenaskan. Tewas dengan cara tertusuk di atas pohon-pohon bambu.


Sedangkan bangsa siluman kalong jua hanya tinggal satu sosok. Dia Nyi Kalong Sang Ratu dari bangsa kalong dan dia tengah terluka parah jua. Sayapnya telah terpotong satu bagian kanannya.


“Lalu bagaimana lagi pemuda, apa lagi yang akan kau perbuat. Dua komandan temanmu itu sudah mati. Apa kau tak ingin menyusul mereka dengan cara mati di tanganku?” ujar Nyi Kalong yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya saat terbang. Sebab sayapnya telah terpotong satu oleh panah api milik Rafi.


“Dalam kamus kami yang diajarkan oleh guru kami Haji Jaka dan Lurah Dava. Kami diajarkan pantang menyerah hingga akhir. Bahkan bila komandan dari satu pasukan mati. Prajurit terkuat lain dari divisi kami akan tetap memegang bendera dengan kata lain mengambil kuasa atas komando. Jangan bermimpi kau untuk membunuhku siluman,” jawab tegas Rafi.


“Semua pasukan pemuda Kediri sudah habis. Bahkan kau tak menyadari jikalau aku dapat membangunkan kembali rakyatku. Coba lihatlah ini satu hal yang akan membuatmu menyerah kali ini,” ucap Nyi Kalong membuka mulutnya lebar-lebar.


Tiba-tiba dari dalam mulutnya keluar kelelawar kecil-kecil ratusan buah. Kelelawar kecil-kecil itu lalu menyebar di sekitar Nyi Kalong. Lalu mereka berubah menjadi siluman kelelawar setengah manusia setengah kelelawar dengan ukuran lebih besar dari semula.


“Sial aku tidak memperhitungkan yang ini. Teman-teman maafkan aku yang tidak becus menjaga keselamatan kalian!” gerutu Rafi masih memegangi busurnya di tangan kiri.


“Lihatlah pemuda pemimpin kota Kediri. Kami utuh kembali dan lihatlah yang satu ini. Aku dapat meregenerasi ulang tubuhku. Sayap yang kau patahkan dapat aku buat kembali,” ucap Nyi Kalong mulai memperagakan satu teknik ilmu regenerasi ulang.


Sehingga sayap yang menyatu dengan tangan bagian kanannya yang semula telah terpotong. Kini muncul kembali perlahan dari dalam bekas luka potongan di lengannya. Hingga kembali utuh seratus persen seperti semula.


“Tarang, jreng, Eng, ing, Eng, apa kau masih belum takut dan menyerah pemuda. Aku punya dua sayap dan dua tangan kembali loh, wkwkwk...!” ejek Nyi Kalong menertawakan Rafi yang tengah kesakitan.


“Bahkan aku lebih memilih mati secara terhormat sebagai kesatria dan komandan divisi dari pada mati, karena menyerah kepadamu makhluk jahanam,” teriak Rafi mengangkat busurnya kembali dengan usaha lumayan keras.


Terlihat Rafi mulai menggigit tali dari busurnya untuk merentangkannya. Sebab tangan kanannya sudah tidak dapat digunakan kembali. Tapi tetap saja Rafi adalah anak dari salah satu petinggi penting di organisasi pemuda Kediri.


Dia begitu kuat dan dia termasuk dari tiga murid kesayangan petinggi utama TOH era tua Haji Jaka. Rafi masih dapat mewujudkan panah api di tali busurnya. Bahkan kali ini panahnya bermatakan kepala naga. Berarti panah api kali ini yang berwarna merah. Adalah panah pamungkas dan mungkin panah terakhir dari Rafi.


“Anak panah naga api merah ya dan itu berarti kau sudah siap mati anak muda. Terakhir aku melihat anak panah itu digunakan oleh salah satu petinggi Kediri. Tapi iya mati juga di tanganku ya aku ingat wajahnya sama persis denganmu. Apa jangan-jangan dia Ayahmu, itu berarti keuntungan bagiku. Aku dapat membunuh dua kesatria hebat dalam kurun kurang dari sepuluh tahun belakangan ini,” oceh Nyi Kalong.


“Tidak usah kau banyak bicara siluman dan mari kita lanjutkan saja pertarungan. Aku juga sudah muak dengan wujudmu yang menjijikkan itu. Jadi aku putuskan saja walau harus mati setelah melepas anak panah ini. Aku rela asal kalian lenyap dan aku dapat mengurangi satu bangsa siluman sebagai musuh manusia,” ucap Rafi agak menggerutu. Sebab dia masih harus merentangkan tali busur dengan gigitan giginya yang jua terkenal sangat kuat.


“Ayo lepaskan anak panah kepala naga merahmu itu pemuda. Bahkan terakhir kali aku dapat meredamnya, sebab tenaga yang diwujudkan hannyalah sisa tenaga dari penggunanya. Kali ini kau akan mati menjadi mangsa kami dan pembuka kepunahan kota Kediri dari ras manusia. Serang...!” ucap Nyi Kalong sambil memberi komando pada rakyatnya.


Sehingga ratusan manusia kelelawar yang telah dihidupkan kembali. Mulai beterbangan ke arah Rafi begitu banyak dengan wajah seram dan menyeringai.


“Bismilah anak panahku anggap saja aku meminta izin atas Allah. Akan kerinduan rumah asal manusia di Surga,” gumam Rafi melepaskan gigitannya atas tali busur yang ia rentangkan dengan cara ia gigit.


Terlepaslah satu anak panah legendaris turun-temurun dari keluarga Rafi. Anak panah meluncur deras berselimut api merah. Lama-lama membentuk naga api yang begitu besar.


Meliuk-liuk seolah api itu adalah naga sesungguhnya. Menerjang dan membakar kumpulan pasukan bangsa siluman kalong. Hingga habis tak bersisa kembali, tetapi bagi Rafi pengguna jurus pamungkas.


Dia sudah tidak lagi memiliki aura dan tiada daya hidup di tubuhnya. Kini Rafi tersenyum dengan posisi terjatuh kepala di bawah dan lemas.


“Hahaha, aku Ratu siluman manusia kelelawar masih hidup dan tidak terpengaruh oleh panah pamungkasmu anak muda. Halo anak muda dan kali ini kau benar-benar akan aku bunuh,” oceh Nyi Kalong yang ternyata masih hidup.


Nyi Kalong ternyata dapat menghindari anak panah terakhir milik Rafi. Bahkan dia dapat mematahkannya menjadi tiga bagian. Kali ini Nyi Kalong meluncur di dekat Rafi seolah dia ikut terjatuh dengan sengaja dengan posisi sama seperti Rafi yang terjatuh.


“Selamat tinggal pemuda komandan Rafi dari divisi atas tembok perbatasan kota Kediri bagian selatan yang terkenal itu. Aduh sayangnya harus mati di tangan musuh seperti Ayahmu dahulu. Matilah kau...!” ucap Nyi Kalong hendak menancapkan cakarnya ke arah jantung Rafi.


Tapi tiba-tiba Rafi tersenyum untuk sekali lagi. Matanya terbuka kembali dan aura hidupnya kembali ada. Tetapi perlahan ia berubah wujud bukanlah Rafi yang sebelumnya.


“Hai Nyi Kalong, lama kita tidak bertemu seperti ini. Kau masih saja buruk rupa seperti dulu ya,” ucap wujud yang ada di depan Nyi Kalong yang semula menyamar menjadi Rafi dan mengganti posisi Rafi saat jatuh dengan cepat.


“Kau...!” teriak Nyi Kalong begitu terperangah kaget.