
Seruni masih terus bertempur melawan pasukan Ireng dan juga melawan setan-setan pekuburan. Seruni di temani separo dari pasukan klan Kardi. Sedangkan separuh lagi mengikuti Ambon yang tengah bertarung melawan Ko Codet dan antek-anteknya.
Mereka bertarung di tempat terpisah dan ini memang strategi Ireng. Sejak awal Ireng anak dari Ki Codet, memang meminta Ayahnya untuk melawan Ambon. Sedangkan ia yang dari dahulu mendambakan tubuh Seruni yang indah dengan sengaja melawan Seruni dan mengalihkan pertarungan ke arah agak jauh dari pekuburan.
Kalau Ambon melawan Ki Codet dan antek-anteknya di tanah pemakaman yang penuh setan kuburan. Sedangkan Seruni meladeni perlawanan Ireng di tepian kali belakang pemakaman.
Sering,
Akhirnya Seruni dapat menebas bagian tubuh Ireng. Walau Ireng dapat menghindar, tetapi tetap saja. Pedang Seruni berhasil menyayat dengan sayatan agak lebar di area lengan Ireng.
“Argtz, nikmat sekali tebasan pedangmu wanita cantik. Sungguh aku menikmatinya dan tak merasa sakit sama sekali. Hem ayo dong lagi tebas aku, aku rela mati demi cintaku padamu,” oceh Ireng sambil tersenyum seakan mengejek Seruni dan mempengaruhi daya emosi Seruni.
Ireng tahu jikalau Seruni emosi dan tak terkendali. Tentu arah serangan Seruni jadi tak terarah dan mengambang. Seolah jurus-jurusnya hanya hampa dan jadi tiada berbobot lagi. Memang hal itu yang diinginkan oleh Ireng agar dapat menaklukkan Seruni dengan mudah.
“Sial kau Ireng dan jangan harap kau dapat memiliki aku. Bersiaplah untuk sayatan bahkan tebasan yang lebih dalam lagi,” teriak Seruni berlari menyerang Ireng dengan jurus-jurus pedangnya.
Ireng rupanya berhasil membuat emosi Seruni membara. Sehingga Ireng dapat menangkis dan menghindari setiap serangan Seruni. Bahkan ia seakan menikmati serangan-serangan Seruni. Seakan Ireng tengah menari jaipong dengan gaya mengibing bersama penari ronggeng.
“Apa-apaan kau Ireng, kenapa kau hanya menghindar saja. Apa kau sudah menyerah kalah?” teriak Seruni semakin emosi. Sebab serangannya selalu dihindari oleh Ireng.
Karena emosinya yang memuncak dan seakan meledak-ledak. Seruni lupa kalau dia sudah mampu membuat jurus-jurus pedang cakra api yang diajari oleh Lurah Dava sang Ayah. Bahkan Seruni tampak sudah begitu kepayahan serta begitu letih.
“Mana aku tega menyakiti bidadari sepertimu Dek Seruni. Ayolah terimalah cintaku Dek dan ikut bersamaku. Jadilah permaisuri di padepokan tanah pekuburan milik Ayahku. Aduh mulusnya itu paha hem,” ujar Ireng yang melihat belahan rok dari Seruni tersingkap tanpa Seruni sadari.
“Lelaki mata keranjang sepertimu yang hanya memburu nafsu. Aku tiada sudi menjadi milik lelaki sepertimu Ireng,” jawab Seruni seketika membetulkan letak roknya yang tersingkap.
“Baiklah kalau kau bersikeras sayang. Akan aku paksa kau untuk menjadi milikku. Aku tiada rela orang lain memilikimu, maka hanya jalan ini satu-satunya. Agar kau dapat aku miliki sayang,” ucap Ireng yang ternyata sudah ada di belakang Seruni. Bahkan ia berbicara dengan berbisik pada Seruni. Sambil menyentuh pinggang Seruni yang terbuka sebab ujung atas rok Seruni agak melorot akibat terlalu banyak gerak.
“Apa yang akan kau perbuat anak setan!” ucap Seruni hendak menghindari Ireng. Tetapi hal itu sudah terlambat, karena Ireng seketika menotok beberapa jalan darah di tubuh Seruni. Sehingga membuat Seruni lemas seketika tapi tetap tersadar.
Hal ini dimanfaatkan benar-benar oleh Ireng. Tiba-tiba Ireng seketika membopong tubuh Seruni. Membawanya ke salah satu tempat rimbun di salah satu sisi hutan bambu tepi sungai.
Tubuh Seruni di baringkannya di atas batu agak besar. Tetapi dengan atasnya halus bagai sebuah alas atau ranjang yang pas untuk memadu kasih di salah satu tatanan batu besar di tepi sungai.
“Hehehe, akhirnya aku dapat menikmati tubuh indahmu Seruni. Akhirnya aku dapat merasakan kulit mulusmu seperti yang selama ini aku impikan. Tenang saja sayang tidak sakit dan aku berjanji akan pelan-pelan saja. Sedikit sakit sih di awal-awal tetapi lama-lama juga enak,” celoteh Ireng membaringkan tubuh Seruni yang sudah tak dapat bergerak dan pasrah.
Kali ini Seruni tampak meneteskan air mata di kedua bola matanya yang indah. Bahkan dalam hatinya hanya berharap ada yang datang untuk menolongnya. Berharap ada yang datang agar membatalkan kebejatan Ireng yang akan dilakukan padanya.
Tetapi di tepi sungai belakang pemakaman sangat sepi. Kelompok klan Kardi pimpinan Ambon dan yang ia pimpin beberapa saat yang lalu tengah fokus bertarung di tempat lain.
Seruni hanya dapat berbicara dalam hatinya. Ayah tolonglah aku, aku hendak mengalami nasib begitu tragis tolonglah anak perempuanmu ini. Mas Elang kemarilah bantulah aku keluar dari jerat totok jalan darah Ireng lelaki bejat ini.
Agar adikmu tidak kehilangan mahkota wanita yang suci ini. Ibu Sari di mana engkau Ibu tolonglah anak perawanmu ini. Kalau kalian tiada datang mungkin setelah Ireng puas menikmati tubuhku. Lebih baik aku bunuh diri dengan cara terjun dari tebing sungai ini dan maafkan aku.
Tanpa memedulikan air mata di pipi Seruni. Ireng yang sudah kerasukan setan nafsu mulai membuka satu demi satu baju pendekar wanita yang dikenakan Seruni. Mulai dari atas satu-persatu terlepas paksa. Lalu dengan tawa nafsu Ireng melemparkan baju dan pakaian dalam bagian atas yang menutupi dua area gundukan kembar Seruni ia lempar ke arah sungai.
“Wah mantap sekali Seruni milikmu ini. Jangan salahkan aku dan aku hanya ingin menerapkan kata orang tua dahulu. Kata mereka meminum ASI membuat manusia jadi semakin kuat secara alami,” celoteh Ireng lalu melancarkan serangannya mengarahkan mulutnya ke arah sensitif bagian di bawah leher Seruni.
Seruni yang tiada bisa menolak sebab tengah tak berdaya oleh totok jalan darah. Hanya bisa meratapi nasib dan terus menangis mengalirkan air mata penyesalan.
Oh Allah Tuhanku, apa harus terjadi peristiwa malam ini. Kenapa nasib hamba begitu tragis dan mengenaskan? Kalau memang ini takdir hamba Allah. Maka ampunkanlah aku jikalau setelah peristiwa ini aku hendak mengakhiri hidupku sendiri. Begitulah ungkapan rasa di hati Seruni begitu lara.
Ireng semakin beringas dan rok Seruni sudah hilang entah ke mana. Pakaian dalam Seruni jua sudah tiada lagi dan terpampang jelas sudah daging kenyal. Area paling sensitif milik para gadis yang sangat didamba-dambakan banyak pria.
“Yes, yes, yes, akhirnya aku memilikimu Seruni. Bersiaplah sayang akan aku buat kau enak malam ini. Jangan menangis dong nanti juga kamu bakalan ketagihan,” oceh Ireng jua mulai membuka seluruh bajunya tanpa terkecuali.