
Titipan dari Kang Dalang : Bro dan Sista hehe, jangan terlalu tegang lah. Sebentar kita minum kopi hitam sedikit gula dahulu. Hai kawan cerita di bab ini hanya khayalan dan lamunan saya. Jadi jangan anggap serius ok.
***
Ada selendang putih melambai-lambai seakan tertiup angin. Padahal altar putih adalah tempat dimanah kehampaan ada. Bahkan tiada tepi dan ujung pangkal yang ada hanya warna putih menyeluruh.
Ada kibasan gaun putri raja bak permaisuri melekat pada tubuh Sang Dewi. Kakinya lentik bak alunan aurora langit ujung Eropa. Dialah Dewi Rembulan sang penerang masa-ke masa. Sang penerang dari reinkarnasi-ke reinkarnasi.
Sang Dewi Rembulan berjalan ayu perlahan menampakkan senyum penuh kerinduan. Seakan ribuan tahun ia tak berjumpa dengan sang kekasih tercinta.
Dialah Petapa tanpa nama yang sering dibicarakan oleh musuh-musuh Wahyu Satria. Sang Petapa reinkarnasi yang sangat sakti Mandra guna. Orang tua lelaki Wahyu yang sebenarnya dari reinkarnasi pertama. Dialah Petapa tanpa nama, Sang Dewa api, Sang Dewa matahari.
Sedikit sungging di bibir Sang Petapa tanpa nama. Rupanya ia tahu kalau sang permaisuri hati, jikalau sang istri tercinta dari reinkarnasi-ke reinkarnasinya. Datang menemuinya di alam astral putih dimanah ia selalu duduk bersila berdiam diri untuk bertapa.
“Assalamualaikum Kakang Mas Petapa Tanpa Nama, Dewaku Sang Dewa api, Dewa matahari duh gantengnya kau Kakang,” ucap Dewi Rembulan duduk bersimpuh di depan Sang Dewa api yakni Sang Petapa tanpa nama.
“Dinda Juitaku Dewi Rembulan yang terang-benderang dengan cahaya hati selembut sutra. Lama sekali kau berkunjung, bahkan aku harus menahan rindu ribuan tahun. Bahkan aku harus menahan kerinduan dengan jutaan reinkarnasiku. Kenapa kau baru datang bertandang Adindaku? Bukankah banyak waktumu walau sekejap menyapaku,” ujar Petapa tanpa nama mulai membuka mata dalam tapanya.
“Jangan kau merajuk Rajaku, jangan kau merajuk Dewaku, jangan kau merajuk dan cemberut kepadaku wahai Petapa tanpa nama. Aku kemari bukan hanya karena kerinduanku akan menjadi istrimu ribuan tahun lamanya. Tapi ada satu hal yang hendak aku katakan kepadamu,” ujar Sang Dewi Rembulan memegang tangan Petapa tanpa nama. Seketika wujud Petapa tanpa nama yang semula begitu tua. Berubah menjadi wujud yang begitu muda dengan penampakan kesatria berkarisma.
“Aku tahu kali ini pasti tentang Arjuna kesayanganmu. Aku tahu Dewi kedatanganmu selalu tentang putra kita Langit yang kini adalah Wahyu di alam manusia itu. Aku tahu Adinda untuk apa lagi kau menemuiku apabila bukan karena Langit putra semata wayang kita,” jawab Petapa nama sudah menduga maksud dan kedatangan Sang Dewi.
“Kakang sudah lama aku memendam rasa rindu pada Langit yang kau perintahkan turun menjadi Wahyu. Kau begitu jahat Kakang memaksaku berpisah dengan Langit kecilku. Lihatlah dia sekarang begitu marah dan kembali pada wujud asal. Kembali pada bentuk Langit, karena itu aku kemari. Lihatlah itu Kakang bukankah dia begitu mirip dirimu,” ucap Sang Dewi Rembulan menyibak satu bentuk lantai disalah satu sisi antara ia duduk dan Petapa tanpa nama bersila. Hanya untuk melihat alam manusia dimanah Langit atau Wahyu kini berada.
“Aku adalah Ayahnya Dewi dan sudah pasti aku merasakan kerinduan sepertimu pada Langit. Tapi aku lebih menitik beratkan pada pembelajaran untuknya. Biarkan dia memimpin manusia walau hanya satu kota saja. Biarkan dia belajar akan perjuangan dan pengorbanan di alam manusia. Kau juga tahu bukan alam manusia penuh tipu daya dan fatamorgana. Kadang teman adalah musuh, terkadang musuh adalah teman,” ucap Petapa tanpa nama beranjak berdiri dari posisi tapanya.
“Begini ini makanya aku selalu memerintahkan Langit berinkarnasi. Karena kau yang selalu memanjakannya akan semua hal. Bahkan aku yakin bila Langit dekat denganmu seribu tahun saja. Dia akan terlena akan kenikmatan surga dan akan lupa dari trah kesatria yang digariskan padanya,” ucap Petapa tanpa nama yang ternyata seorang Dewa.
“Aku tidak mau tahu pokoknya jangan sampai Langitku terbunuh. Karena aku tak akan bisa menemuinya untuk waktu yang lama kembali. Karena apabila ia terbunuh maka ia harus berinkarnasi kembali. Pokoknya jaga Langitku jangan sampai dia begitu marah seperti itu Kakang. Bisa jadi bukan hanya satu kota akan hancur. Tetapi satu dunia akan hancur karena kemarahan api putih suci di tubuhnya,” oceh Dewi Rembulan lalu menghilang begitu saja.
“Dasar Dewi Rembulan selalu datang dan pergi tanpa permisi. Padahal dia sudah pernah bertemu utusan langit ketujuh. Padahal dia sudah pernah aku tuntun untuk melafazkan dua kalimat syahadat. Tetap saja dia lupa datang dan pergi untuk mengucapkan salam. Baiklah anakku Langit mari menemuimu, kenapa kali ini kau menampakkan wujud aslimu putraku?” ucap Petapa tanpa nama menghilang jua seketika dari alam altar.
***
“Apa kalian pikir manusia itu makanan, woi serigala bodoh!” teriak Wahyu terus membombardir para manusia serigala dengan api putihnya. Bahkan kali ini seakan Wahyu begitu mudah memusnahkan bangsa manusia serigala yang berjumlah ratusan sendirian.
Para manusia serigala tengah kocar-kacir ketakutan akan hawa dari aura putih wahyu yang sangat mengerikan bagi mereka. Mereka tahu hawa api putih suci dari klan Dewa sangat mematikan. Sebab mereka para manusia serigala jua telah hidup ribuan tahun. Bahkan mereka telah mendengar legenda api putih suci dari klan Dewa-Dewi.
“Sial kenapa pemimpin pemuda TOH bukan manusia. Pantas saja kota Jombang begitu kuat ribuan tahun tak goyah dari kehancuran. Bahkan dengan sekejap akan berdiri kembali apabila dihancurkan. Jadi ini alasan kenapa kota Jombang begitu kuat. Karena pemimpin utamanya bukan manusia tapi dari klan Dewa,” ujar Panglima manusia serigala yang malah bersembunyi di balik tubuh manusia serigala yang telah mati.
Tapi Wahyu kali ini telah berubah menjadi wujud asli reinkarnasi pertamanya. Wahyu kali ini adalah Langit murid sekaligus putra dari Petapa tanpa nama Sang Dewa api dan dia Wahyu ternyata berasal dari klan Dewa-Dewi.
Kekuatannya melebihi ambang batas normal kesatria manusia. Kadi mudah saja Wahyu menemukan Panglima manusia serigala. Walau dia bersembunyi di lubang semut sekali pun pasti tetap ketemu oleh Wahyu.
“Argtz, tolong lepaskan aku, maafkan aku Satria Langit. Berilah kami ampunan kami hanya lapar dan ingin makan saja,” ucap Panglima manusia serigala yang tengah dicengkeram kepalanya oleh Wahyu.
“Masih saja kau berbicara seakan manusia adalah makanan yang kapan saja bisa kau nikmati. Kalau aku memaafkanmu dan membiarkanmu pergi begitu saja lalu untuk apa aku ada di kota ini, hai serigala!” oceh Wahyu.