
Walau keadaan kamar gelap tanpa lampu sama sekali. Walau kabut juga tengah menyelimuti di dalam kamar atau di luar kamar. Walau angin semilirnya malam masuk, merambat melalui cela-cela retaknya tembok kamar.
Raja dan Ratu era level up yakni Lurah Dava dan Ibu Sari. Tetap memadu kasih atas rasa menahan kerinduan tiga tahun lamanya. Dalam kegelapan nafas panjang dan geraman kenikmatan dari suara rengek serta rintih Ibu Sari terdengar lirih.
Bagai dawai perdu not balok dan irama suling orkestra malam buta. Cinta mereka kembali bersahut mesra di atas ranjang yang sudah reot. Sebab lama telah mereka tinggalkan.
Kecupan mesra sekujur tubuh Lurah Dava. Semakin membuat Ibu Sari meliuk-liuk bagai penari balet yang anggun dalam menampilkan sebuah gerakan dansa di atas panggung. Hanya tatapan cinta antara mata dan mata sehingga berpadulah cucuran keringat di badan.
Selimut usang namun tak seberapa kotor. Selimut putih bergaris hitam bermotif bunga merah dengan corak burung merpati di setiap sudut. Menjadi saksi kembalinya peraduan dua insan dengan cinta pertama.
“Mas Dava aku rindu, Mas Dava aku rindu, Mas Dava aku rindu sentuhanmu,” hanya kata-kata itu yang terucap pada sang bidadari cantik bak alam surgawi. Meluncur pelan dari bibirnya yang telah basah oleh ludah sang suami.
Ibu Sari terus tersentak-sentak serasa tersenyum kecil bahagia. Saat Sang Raja hidupnya memberi serangan-serangan kencang pada area paling sensitif di tubuhnya.
“Malam ini kau tetap milikku permaisuri hatiku. Malam ini kau dan hanya kau Ratu di hidupku tiada yang lain. Betapa aku menahannya dalam kerinduan dan sakitnya kangen. Kali ini bersiaplah adindaku. Semua akan aku tumpahkan di malam ini,” begitulah kicau mesra kata-kata sang pujangga cinta Lurah Dava. Menatap penuh buas seluruh lekuk tubuh istrinya.
Seakan ingin ia lahap semuanya, seakan ingin ia sapu bersih setiap jengkal lekuk tubuhnya. Seolah ia adalah singa si raja rimba yang lama tiada memiliki kekasih hati di hutan yang luas dan sepi.
“Mas kenapa kali ini kau begitu kuat sayang. Bahkan ini sudah yang ke lima kalinya. Apa benar kerinduan itu membuat staminamu menjadi-jadi?” ucap Ibu Sari dengan Lurah Dava yang sudah selesai menumpahkan semua air kerinduan di dalam rahim Ibu Sari.
“Entah Dek, rasanya aku ingin lagi dan lagi. Setiap memandang teduh dan sayunya wajahmu. Apalagi saat tatapanmu mengeluh manja dan merajuk-rajuk. Aku seakan terpacu untuk menancapkannya semakin kencang dan kencang lagi. Apa kau kesakitan Dek, maaf kalau Mas kali ini begitu beringas?” jawab Lurah Dava memeluk erat tubuh Ibu Sari penuh kasih.
Masih di dalam selimut bunga-bunga, masih tak berbusana dan baru saja mereka selesai melakukan pertempuran. Tetapi kali ini pertempuran mereka bukan satu hal hidup dan mati. Mereka bertempur dengan kata kasmaran dan menumbuhkan sebuah hasrat alami antara suami istri.
“Mas apa tidak apa-apa kita seperti ini? Kamu sih mbok ya datang dengan baik. Lalu mengajakku pergi dengan baik. Nanti kalau anak-anak sampai diserang bagaimana. Atau mereka mencariku sampai menyebar bagaimana? Tidak baik loh kalau mereka sampai berpencar,” ujar Ibu Sari masih dalam pelukan Lurah Dava.
“Tenang Dek, Masmu ini tidak sebodoh itu. Aku sudah menjatuhkan sleyer hitam lambang Srikandimu pada Sekar. Lagian masak ya aku datang dan tiba-tiba bicara kepadamu di depan anak-anak. Dek ayo ikut aku kita berhubungan suami istri. Kan malah lucu kalau seperti itu,” jawab Lurah Dava masih saja memainkan area vital Ibu Sari yang berupa dua buah gunung yang sama.
“Tenang Dek, kali ini kita memiliki generasi emas. Wahyu dan anak kita Dava telah menjadi pasangan emas. Penerus aku dan Mas Jaka, lalu mereka di bantu pasukan pemuda lima kota besar lainnya. Apalagi kelompok Alif kota Serang sudah datang. Mas Dwi dan yang lainnya ada di kota ini. Jadi sudah pasti kota ini besok akan kembali seperti sedia kala,” jawab Dava kali ini memainkan rambut Ibu Sari yang panjang.
“Mas aku kangen Mbak Putri dan Mas Jaka. Andai kita bisa menolong mereka saat kejadian itu. Bahkan aku melihatmu di gorok oleh Bayi setan biadab itu. Aku merasa saat itu sudah hilang Mas. Aku merasa sudah tiada harapan lagi bagi kita. Karena di depan mataku sendiri kalian dibantai secara keji,” ucap Ibu Sari mulai berkaca-kaca pada matanya yang agak bulat.
“Sudahlah Dek semua adalah takdir dan kita tidak bisa mengulangnya kembali. Kita patut berterima kasih pada Petapa tanpa nama. Karena beliau kita berdua dikembalikan lagi untuk hidup dengan tugas membimbing generasi kita agar tak salah jalan,” ucap Lurah Dava mengecup kening Ibu Sari.
“Eh ternyata Petapa tanpa nama itu dahulunya Ayah dari Wahyu ya Mas. Wahyu dulu namanya Satria ya, aku baru tahu saat diceritakan kisah Wahyu dahulu pada reinkarnasi pertama. Semoga saja mereka yang dipimpin oleh Wahyu sekarang dapat mengembalikan kota kita ini ya Mas,” ujar Ibu Sari mendekapkan wajahnya di dada Lurah Dava.
“Dek eh ngomong-ngomong kamu katanya jadi Ibu Negara ya. Hebat sekali julukanmu ya, hehehe,” ujar Lurah Dava malah menggoda Sang Istri.
“Hiiih malah menggodaku ini Mas Lurah. Hayo tak cubit loh, hayo, lama aku enggak mencubit pinggangmu Mas!” ucap Ibu Sari sambil mencubit pinggang Lurah Dava yang memang sedang sama dengan Ibu Sari. Tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
“Aduh, aduh, sakit loh Dek, iya, iya maaf, maaf. Sudah ampun, aku menyerah,” oceh Lurah Dava kesakitan.
“Halah kesatria tetua utama era level up yang telah membunuh banyak raja setan. Malah sakit kok dicubit kamu ini Mas,” ujar Ibu Sari tertawa kecil.
“Aku juga kan masih manusia Dek. Setan saja kesakitan kalau kita tebas, apalagi saya yang masih manusia. Walau kita diberi jarak waktu untuk hidup kembali. Tetap saja kita ini manusia biasa Dek yang bisa merasakan sakit,” jawab Lurah Dava yang kaget saat memalingkan wajah kembali ke Ibu Sari. Ternyata Ibu Sari sudah berpakaian rapi kembali.
“Loh Dek, ada apa?” tanya Lurah Dava yang jua lekas memakai bajunya dengan gerak cepat.
“Mas di tengah kota Wahyu dan Elang sedang mengalami kesusahan. Rupanya mereka bukan melawan manusia. Tetapi aku rasa mereka bukan melawan setan,” ujar Ibu Sari menatap kosong ke depan. Tetapi tatapannya berpusat pada pertempuran tengah kota.
“Baik Dek lekas kita ke sana,” jawab Lurah Dava menggandeng Ibu Sari lantas menghilang.