
“Sudahlah Rafi beristirahatlah sejenak, kau sudah berjuang sekuat tenagamu Dek,” riak suara itu sangat Rafi kenal. Dia Nurul yang selalu ia panggil Kakak dan selalu ia anggap bagai Kakaknya sendiri. Kini Rafi tengah bersandar di atas pangkuan sang kesatria wanita kota Kediri tersebut.
Sedangkan Si Jack masih melayang dengan posisi jatuh bersama Nyi Kalong. Entah apa yang dilakukan oleh Si Jack dengan Nyi Kalong. Sebab Nyi Kalong ingin menghindar dari Si Jack. Tetapi Nyi Kalong tidak bisa menghindar, bahkan ia seakan terperangkap oleh pandangan Si Jack.
“Hai Nyi Kalong kita bersua kembali. Apa kau masih ingat aku Nyi, aku adalah seorang pemuda yang hampir membunuhmu sepuluh tahun lalu. Kau masih ingat pertikaian kita di bukit harapan. Kalau saja Mas Wahyu tak menyuruhku berhenti menghancurkanmu yang tengah terluka parah. Tapi sudahlah itulah sikap kesatria kami para pemuda lima kota. Siapa pun musuh kami bila musuh sudah terkapar kami tak akan menyerang sebelum mereka bangkit lagi,” celoteh Si Jack.
“Kau anak muda yang waktu itu,” ucap Nyi Kalong kaget bukan kepalang.
Peristiwa di bukit harapan sepuluh tahun lalu. Pernah menggemparkan jagat persilatan gaib lima kota. Saat itu Wahyu yang tengah menimba ilmu di salah satu kesatria petapa tua di sekitar bukit harapan. Letak posisinya pas di sebelah bukit yang memanjang sebagai dinding perbatasan kota Jombang dan Mojokerto.
Ada satu peristiwa yang viral kala itu. Bahwa beberapa anak kecil hilang di hutan sekitar bukit harapan. Para warga meminta bantuan pada perguruan silat dimanah Wahyu belajar. Kebetulan Si Jack adalah junior Wahyu satu tingkat kala itu dan hanya Si Jack yang belajar di sana dari sekian ribu pemuda lima kota.
Si Jack sebenarnya memiliki tempat tinggal di antara dua kota. Sebab Ayahnya adalah seorang pemimpin salah satu klan di kota Kediri dan Sang Ibu berasal dari klan Raji. Maka sebab itu Jack berkeahlian dan memiliki teknik beragam yang ia pelajari dari Ayah dan Ibunya. Bertambah lagu dengan keahlian dari Sang Petapa bukit harapan yang sudah masuk wilayah Mojokerto.
Semua keahlian Jack akhirnya membawa Jack cepat direkomendasikan para petinggi TOH. Begitu cepat jenjang karier Jack di usia dua puluh saja Jack sudah bergabung di ring satu TOH era lama di masa-masa terakhir organisasi TOH era lama. Jack luput dari pembantaian, sebab ia tengah menemani Neneknya yang sakit di kota Kediri.
Sepuluh tahun lalu Wahyu dan Si Jack diutus oleh sang guru petapa bukit harapan untuk melawan siluman penculik bayi. Ternyata para siluman itu adalah dari golongan siluman kelelawar yang digawangi oleh Nyi Kalong sendiri. Saat itu Wahyu dan Jack hampir membinasakan Nyi Kalong. Jikalau Nyi Kalong tidak kabur dengan cara mengubah wujudnya menjadi kelelawar super kecil.
“Lepaskan aku anak muda kau akan menyesal dahulu tidak membunuhku. Sebab hari ini aku adalah Ratu dari bangsaku, bukan selayaknya dahulu yang hanya sebagai panglima saja,” ujar Nyi Kalong masih terikat oleh sebuah garis-garis gambar selayaknya rayutan. Garis-garis gambar tersebut keluar dari gulungan yang dipegang oleh Si Jack.
Ternyata kali ini Si Jack menggunakan teknik yang ia modifikasi dari jurus-jurus klan Raji yang cenderung lebih menggunakan senjata-senjata dan bahan peledak alami dari alam. Selayaknya pemimpin para pemuda klan Raji. Walau Si Jack masih sebagai pemimpin sub atau pengganti.
Sebenarnya pemimpin klan Raji adalah dua kuat Fahmi dan Alak. Tetapi Fahmi dan Alak sering membiarkan Si Jack untuk memberi komando rekan-rekan anggota klan Raji. Hal ini bertujuan untuk melatih kepemimpinan dan regenerasi di kubu klan Raji. Seperti sebelum-sebelumnya Fahmi, Alak dan Wahyu hanya melihat melayang tak jauh dari aksi Jack melawan musuh-musuhnya.
“Tenang saja Fahmi dan perhatikan saja dia. Bahkan dia pernah bersamaku melawan ribuan bala tentara siluman kalong sepuluh tahun lalu. Padahal kami Cuma berdua saat itu dan kita berdua menang. Kalau bukan karena tipu muslihat Nyi Kalong yang melarikan diri saat itu. Tentu Jack yang sudah sangat marah pada Nyi Kalong kala itu dapat membunuhnya saat itu juga,” jawab Wahyu yang hanya melayang dengan posisi berdiri.
“Kak Nurul kalau aku mati di sini, aku rela sebab aku mati di pangkuan Kak Nurul yang aku sayangi. Kak izinkan aku mengungkapkan rasa hatiku yang aku pendam selama ini dan belum sempat aku utarakan pada Kakak. Sebenarnya aku menyayangi Kakak bukan sekedar Kakak sendiri. Tapi benar-benar menyayangi Kakak selayaknya kekasih hati. Uhuk, uhuk, uhuk,” lirih ucap Rafi mencoba mengungkapkan rasa hatinya pada Nurul sebelum akhirnya napasnya benar-benar berhenti di atas pangkuan Nurul.
Mata Nurul tampak meneteskan air hangat lalu jatuh di kening Rafi yang sudah tak bergerak lagi. Betapa kesedihan Nurul sangat memuncak. Karena cintanya selalu mati di peperangan antara manusia dan setan.
“Tidak, tidak, tidak Rafi...!” teriakan Nurul sampai di telinga Nyi Kalong hingga membuatnya tertawa lebar. Walau masih terikat oleh jurus garis dari Si Jack.
“Hahaha, lihatlah, dengarlah teriakan wanita itu di bawah sana. Bukankah yang mati di pangkuannya itu adalah komandan terakhir kota Kediri. Kami berhasil meneruskan legenda kemenangan setan di perbatasan Badas ini. Apa kau puas melihatnya anak muda, wkwkwk,” ucap Nyi Kalong mulai berkomat-kamit merapal sebuah mantra.
Ternyata mantra yang ia rapal adalah satu mantra pembangkit kembali. Ternyata ia membangkitkan kembali tiga bangsa siluman yang sebelumnya sudah di tumpas habis oleh pasukan pemuda kediri. Bahkan pasukan pemuda Kediri jua ikut gugur tanpa sisa semuanya.
Tiga bangsa siluman yakni siluman babi, siluman serigala dan pasukan Nyi Kalong sendiri hidup kembali. Bahkan lengkap dengan semua peralatan perang mereka muncul kembali.
“Perang baru dimulai anak muda,” celetuk Nyi Kalong tersenyum pada Si Jack yang tampak mulai marah.
Jack yang tak mau menyia-nyiakan pengorbanan para pasukan Kediri. Malah melepaskan ikatan garis di tubuh Nyi Kalong. Lalu melompat sambil melayang ke belakang terbang di atas Nurul yang masih meratapi kepergian Rafi.
“Ada apa anak muda apa kau takut ribuan tiga bangsa siluman hidup kembali?” teriak Nyi Kalong yang sudah berada di depan barisan tiga bangsa siluman.
“Perang baru dimulai anak muda, perang baru dimulai dan bersiaplah untuk pembantaian besar-besaran manusia oleh kami,” teriak Nyi Kalong begitu jemawa.