
Wahyu berdiri tegak di atas sebuah batu besar di samping pohon besar. Wahyu menatap luasnya hutan lindung dengan jajaran pohon jati dan pohon pinus. Hutan lindung Pangklungan area kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.
Wahyu bukan tanpa sebab berdiri di tepi muka hutan lindung Pangklungan. Hawa besar para tetua TOH yang membawanya sampai ke sana.
Wahyu menghela nafas agak panjangnya. Matanya menatap tajam ke arah hutan. Desiran benak dan golbinya bergetar keras. Amarahnya mulai memuncak dengan warna mata menghitam pekat.
“Rupanya sarang demit ada di sini. Rupanya semua bermula dari sini. Rupanya para setan dikumpulkan kembali di sini lalu dibangunkan kembali tiga tahun yang lalu dan membumi hanguskan kotaku,” gerutu Wahyu bernada kesal bercampur pahit di hati.
Tin, tin, tin,
Brem, brem, brem,
Tiba-tiba ada beberapa mobil jip dan mobil mewah lain berwarna hitam serta beberapa motor moge. Keluar dari salah satu jalan setapak kecil yang ada di samping Wahyu berdiri.
Mereka keluar dari dalam lebatnya hutan lindung Pangklungan. Mereka tampak terburu-buru keluar dari dalam hutan. Mobil paling depan tampak yang paling mewah dengan kaca anti peluru.
Wahyu tampak mengamati gerombolan kaum elite tersebut. Dalam hati Wahyu berkata, apa ini? Kenapa mereka keluar dari dalam hutan.
“Woi minggir, minggir, minggir anak muda. Apa kau ingin mati, cepat minggir jangan menghalangi jalan kami. Sedang apa kau anak muda dipinggir hutan. Minggir jangan menghalangi jalan aku tembak nanti kau!” teriak salah satu orang yang mengendarai motor moge di samping mobil mewah yang tengah melaju kencang. Rupanya ia adalah salah satu anak buah yang bertugas melindungi mobil mewah yang melaju.
Wahyu hanya tersenyum tanpa menggeser posisi berdirinya satu senti pun. Malah terlihat anggota dari iringan-iringan mobil mewah yang mengendarai moge tersebut. Tengah mengacungkan senapan laras panjang ke arah Wahyu.
Dar, dor, Der,
Serentetan ***** akhirnya ditembakkan dari moncong senapan. Langsung melesat cepat ke arah Wahyu dan Wahyu hanya diam berdiri sambil tersenyum tipis. Seakan Wahyu ingin berkata dengan diamnya. Bahwa ini adalah sebuah peringatan bagi mereka.
Aku adalah Wahyu dan aku adalah Jendral utama lima kota. Aku adalah Wahyu dan aku adalah ketua utama kota Jombang. Namun dalam diamnya Wahyu, ternyata Wahyu memiliki satu teknik gerak cepat.
Sehingga beberapa peluru senapan laras panjang yang melesat ke arahnya. Seakan melambat dan dapat di tangkap satu demi satu oleh Wahyu.
“He masih hidup dia, apa orang ini setan. Jelas bukan orang ini setan ini, woi berhenti, berhenti!” teriak anak buah dari arak-arakan mobil mewah yang keluar dari dalam hutan.
Seketika menghentikan rombongannya. Beberapa orang dari yang mengendarai motor gede atau moge tampak turun. Berjalan mendekati Wahyu sambil menenteng senapan laras panjang.
“Anak muda siapa kau rupanya. Kenapa kau tak mempan dengan tembakan peluru-peluru laras panjangku? Sudah kebal rupanya kau. Mau sombong kau di depanku anak muda. Jangan sampai peluruku ini menembus kepalamu,” oceh salah satu anggota dari rombongan mobil mewah yang turun dari moge dan menghampiri Wahyu dan sekarang menodongkan senapan laras panjang pas di kening Wahyu.
“Loh ke mana pemuda tadi, apa-apaan ini. Kenapa senapanku jadi bengkok begini?” teriak satu anggota yang menodongkan senapan ke kepala Wahyu.
Saat mendapati Wahyu sudah tak berada di depannya. Malah-malah senapan laras panjang yang ditodongkan ke kepala Wahyu telah bengkok dan tak bisa digunakan.
Mereka menjadi bingung atas hilangnya Wahyu secara tiba-tiba. Merasa aneh dan semakin menduga kalau Wahyu sebenarnya bukanlah manusia.
“Ndan mungkin pemuda tadi adalah penunggu hutan ini. Dia marah sebab kita tak permisi keluar atau masuk hutan ini,” celetuk salah satu anggota arak-arakan mobil mewah dan ternyata yang menodongkan senapan laras panjang pada Wahyu adalah komandan divisinya.
“Sial aku tak percaya adanya setan di era modern seperti ini. Mana ada setan kelayapan siang-siang begini? Kau ini dasar penakut,” ucap anggota yang di panggil Komandan.
“Lalu di mana dia sekarang tiba-tiba menghilang begitu saja. Bahkan senapan kita bengkok semua bukan,” ujar anggota yang berada di dekan Komandan.
“Woi dia di sini, dia di dalam mobil ketua ini,” teriak anggota yang tengah menemani ketua dari rombongan mobil mewah yang keluar dari dalam hutan.
Terlihat Wahyu sudah berada di samping Pak Toni seorang pemimpin yang dipanggil anggotanya ketua. Wahyu berada pas di area kemudi yang ditumpangi Pak Toni. Bahkan sang sopir dari mobil mewah Pak Toni. Sudah terbang dab tersangkut di atas pohon tak sadarkan diri.
“Siapa kau anak muda dan apa tujuanmu mencegat kami di depan hutan Pangklungan ini. Apa kau penunggu hutan ini anak muda? Jikalau benar maafkan kami,” ujar Pak Toni dengan badan gemetaran karena ketakutan pada Wahyu yang tengah terus menatapnya.
“Ingat namaku Pak Toni dan aku tahu kau awal mula kotaku kota Jombang hancur. Kau yang merencanakan semuanya hingga keluargaku terbantai semua. Namaku Wahyu Satria putra dari pasangan Haji Jaka dan Ibu Putri. Tetapi kali ini tujuanku bukan kau dan anak buahmu. Tujuanku hanya mengambil jasat orang tuaku dan para tetua yang lain. Aku tahu tubuh-tubuh mereka telah kalian potong-potong. Bahkan mungkin sudah hilang beberapa organ tubuhnya. Seandainya kau tadi mengurungkan niat untuk membawa jasad-jasad dalam motor bok itu pergi. Aku tak akan mencegatmu dan anak buahmu di sini,” ucap Wahyu.
Rupanya Pak Toni benar-benar mengingat dan mengetahui nama Wahyu. Pak Toni rupanya sudah memahami benar nama besar dan sepak terjang Wahyu.
Sehingga Pak Toni terlalu ketakutan tak bisa berkata-kata sedikit pun. Walau dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak mampu hanya dalam bibir berkomat-kamit tetap tak bersuara.
“Tenang Pak Toni aku tidak akan membunuhmu sekarang. Walau bisa saja aku menghabisi kalian sekejap mata kalian memandang. Sebab kalian hanya gangster biasa bukan pelaku gaib seperti kami. Kalau kalian aku habisi sekarang lalu yang menjadi musuh cucuku nanti siapa? Pergilah cepat sebelum aku berubah pikiran. Tinggalkan mobil bok kalian yang ada di belakang itu,” ujar Wahyu yang sudah berdiri di luar mobil.
Bahkan sopir dari Pak Toni yang semula berada di atas pohon tak sadarkan diri. Kini sudah duduk kembali di belakang kemudi mobil Pak Toni. Membuat Pak Toni semakin ketakutan saat melihat sopirnya ternyata masih hidup dan sadar seperti sediakala.
“Loh ada apa Pak Toni? Kok Bapak seperti ketakutan,” ujar sopir tersebut tak menyadari kalau dirinya baru saja menyangkut di atas pohon jati yang begitu tinggi.
“Tidak apa ayo lekas jalan, lekas jalan tinggalkan motor bok yang ada di belakang,” ucap Pak Toni berbicara pada penunjuk arah salah satu anggotanya dengan sebuah alat bantu semacam HT.