
Kapten Onal menatap sekitarnya dengan cemas. Tubuhnya berdiri sudah tidak seimbang. Tangannya tampak gemetar memegang pedang yang jua sudah penuh bercak darah.
Bajunya sudah tak utuh sobek di sana-sini dengan luka sayat hampir di sekujur tubuh. Matanya terus mengamati area pertempuran depan tembok perbatasan desa Badas dengan kekhawatiran.
Mereka semua aku yang memberi komando. Apabila mereka semua mati di sini itu berarti aku gagal dalam memimpin. Begitulah riak hatinya berkata dalam deru nafas dada secara terus menerus.
Sedangkan kali ini dia berdiri pas di tengah-tengah pertempuran yang tengah berlangsung. Ada kabar yang datang dari salah satu prajuritnya. Bahwa prajuritnya tersebut melihat divisi dua puluh telah terbantai habis oleh manusia serigala.
Kali ini Kapten Onal begitu bingung. Sebab di area pertempuran yang ia pimpin sendiri. Pasukan yang ia pimpin tengah terdesak hampir menepi ke arah tembok perbatasan.
“Kapten kita terdesak, kita kalah jumlah. Mungkin sebentar lagi kita akan kalah. Jikalau pertempuran ini diteruskan bisa-bisa kita terbunuh semua. Apa yang harus kita lakukan Kapten?” teriak salah satu punggawa pemuda Kediri yang berada dalam komando divisinya.
Tetapi Kapten Onal hanya terdiam mematung seakan tak mampu lagi memerintah. Bahkan ia hanya bengong seribu bahasa tiada menjawab teriakan-teriakan anak buahnya.
Hal ini dimanfaatkan betul oleh Raja dari siluman babi. Dia Raja siluman babi terus memporak-porandakan barisan pasukan Kapten Onal.
“Woi Kapten pemimpin divisi anak muda manusia dari kota Kediri. Apa yang kau lakukan di sana, lihatlah ini lima kepala dari anak buahmu yang ada di tanganku. Mereka berwajah kesakitan, apa kau memang sudah menyerah kalah?” teriak Raja siluman babi mengoceh tak jauh dari area Kapten Onal mematung.
Bahkan menerima ejekan seperti demikian dari Raja siluman babi. Kapten Onal seakan memang sudah tiada memiliki kesanggupan sebagai Kapten. Kapten Onal hanya diam saja memandang lekat kepala-kepala anak buahnya yang terpenggal dan kini di bawa oleh Raja siluman babi yang tengah menyerang para pemuda Kediri secara brutal.
“Kapten tolong kami! Argtz,” teriakan-teriakan pasukan anak muda seakan begitu mengerikan. Seolah seseorang yang tengah mengalami sakaratul mautnya.
Bahkan Raja siluman babi mempertontonkan hal kengerian yang sangat mengerikan. Sebab melihat Kapten Onal yang tengah kena mental. Membuat kesempatan Raja siluman babi terbuka lebar untuk menghancurkan pasukan divisi bawah pemuda Kediri.
Raja siluman babi mencabik, membedah, menyayat dan membelah. Beberapa tubuh dari anggota divisi bawah yang ada dalam komando Kapten Onal. Sengaja Raja siluman babi melakukan hal demikian di depan Kapten Onal. Agar Si Kapten semakin depresi dan tak sanggup lagi memimpin.
Lalu kesempatan emas akan lemahnya Kapten pemimpin pemuda manusia. Dapat digunakan dengan baik oleh Raja siluman babi untuk melenyapkan seluruh pasukan divisi bawah.
“Aku sudah puas membunuhi para prajurit. Sekarang aku akan memenggalmu sebagai Kapten yang bodoh dan tak becus memerintah. Bersiaplah untuk mati di tanganku Kapten Onal,” bisik Raja siluman babi yang sudah berdiri pas di hadapan Kapten Onal yang hanya terdiam melongo.
Sesaat Raja siluman babi tampak mengeluarkan kapak dari sarungnya yang ada di balik punggungnya Raja siluman babi. Setelahnya Kapten Onal di dudukkan dalam posisi bersujud. Anehnya Kapten Onal hanya diam saja tiada melakukan perlawanan.
“Mati kau Kapten goblok!” teriak Raja siluman babi mengayunkan kapaknya ke arah leher Kapten Onal.
“Kapten...!” teriak beberapa anak buah yang berada agak dekat posisinya dengan Kapten Onal. Berlari mendekat ke arah Kapten Onal berusaha menyelamatkannya. Tetapi sudah tidak bisa, sebab kepala Kapten Onal sudah jatuh menggelinding di rerumputan.
“Hahaha, kita menang, setan menang, kami bangsa siluman yang memenangkan pertarungan. Hai anak manusia era kalian sudah berakhir kami akan membantai kalian satu-per satu. Kali ini era kami para setan yang akan berkuasa di lima kota,” oceh Raja siluman babi mengambil kepala Kapten Onal dan mempertontonkannya ke arah pasukan divisi bawah.
“Kapten kenapa ini terjadi tidak Kapten, Kapten Onal...!” teriak beberapa anak buah Kapten Onal meratapi kepergian Kaptennya untuk selama-lamanya. Mereka para prajurit tersungkur dan tersujud sambil menangis.
“Kita sudah tamat, manusia sudah kalah di kota Kediri. Mundur, mundur, mundur...!” teriak beberapa anggota yang sudah putus asa akan kematian Kaptennya.
Saat semua sudah putus asa dan tiada harapan lagi. Saat semuanya bagaikan neraka bagi anak manusia dan seakan sudah kalah dalam peperangan di tembok perbatasan.
Tiba-tiba ada langkah kaki berlari dari kejauhan. Menuju ke arah Raja siluman babi yang tengah menenteng kepala Kapten Onal. Langkah kaki seorang gadis petarung yang setara dengan Kapten divisi pemuda Kediri.
Blek, blek, blek,
“Bodoh jangan mundur jangan menyerah, kalian harapan terakhir kota Kediri!” teriak petarung tersebut yang rupanya tak asing bagi para pasukan pemuda Kediri.
“He siapa kau?” ucapan terakhir Raja siluman babi. Sebelum tubuhnya di cincang menjadi kecil-kecil oleh sorang kesatria wanita yang berlari dari kejauhan.
Sering, sering, sering,
Tubuh Raja siluman babi hancur berkeping-keping. Tiada bersisa sampai terbakar menjadi abu. Lalu gadis ksatria itu mengambil kepala Kapten Onal dan menyatukan kembali di tubuhnya.
“Innalillahi Wainna Ilaihi Raziun, Onal sudah aku katakan jangan gampang kosong. Jangan gampang menyerah dan begini akibatnya Tole keponakanku. Maaf Kakakmu ini terlambat menyelamatkanmu,” ujar Nurul.
Nurul adalah adik paling kecil Umi Putri. Berarti Nurul adalah Tante dari Wahyu, karena Umi Putri adalah Ibu dari Wahyu. Nurul sebenarnya enggan ikut berperang. Sebab ia takut anaknya yang masih bayi tidak ada yang menyusui.
Tetapi saat mendengar kabar perbatasan tengah porak-poranda. Maka dia mau tidak mau harus turun tangan membantu dan ikut berperang.
“Hanya sisa Kapten Rafi yang ada di atas ya. Semoga kau tidak mati juga Rafi?” ucap Nurul memandang pasukan divisi bawah yang tersisa.
“Nona Nurul, ya itu Nona Nurul,” teriak beberapa pasukan divisi bawah yang masih selamat.
“Jangan membuat malu kota Kediri kalian semua angkat senjata kalian. Kembali ke formasi awal dan bulatkan lagi tekat kalian. Jangan sia-siakan pengorbanan para Kapten kalian. Bismillah kita mulai lagi dari awal. Semuanya serang...!” teriak Nurul mengambil alih komando divisi bawah.
“Eh Tante Nurul, apa benar itu Tante Nurul, Samudera keponakanku itu dengan siapa dong. Suami Tante Nurul kan sudah meninggal, wah tidak bisa dibiarkan ini. Keadaan ini sudah di luar kendali kita. Jack kau dan pasukanmu bantu Rafi. Sedangkan aku bantu divisi bawah, kita bergerak sekarang,” ucap Wahyu mengomandoi pasukan dari klan Raji di bawah komando Si Jack.