
Wahyu semakin menggila membabat habis semua manusia serigala tiada sisa. Rupanya Wahyu teramat murka akan makhluk-makhluk setengah manusia setengah serigala yang hendak melewatinya begitu saja.
Mode api putih dengan level maksimal yang kini ada pada tubuh Wahyu begitu sangat mengerikan. Manusia serigala yang mendekatinya, entah setingkat prajurit atau panglima. Mereka akan hancur lebur tiada sisa.
Tetapi efek samping dari mode ini adalah Wahyu seakan menghancurkan semua yang ia lewati. Semua makhluk hidup yang berada tak jauh dari dirinya akan hancur. Tanpa terkecuali semuanya akan hancur.
“Eh Fahmi tunggu dulu, jangan terburu nafsu untuk mendekati Mas Wahyu. Bahkan aku tak pernah merasakan aura Mas Wahyu sengeri sekarang ini. Aku takut kalau kita mendekat walau berniat untuk membantunya. Bisa jadi kita juga akan hancur dan lihatlah di sekitarnya. Bukankah pohon, binatang dan batu sekali pun hancur saat di dekat Mas Wahyu,” ujar Alak menghentikan langkah Fahmi yang hendak mendekati Wahyu.
“Benar juga ucapmu Alak, aku tak melihatnya secara spesifik. Terima kasih telah mengingatkanku saudaraku. Kalau saja aku mendekat mungkin aku juga akan ikut hancur. Lalu bagaimana kita sekarang, apa baik kalau Mas Wahyu kita tinggal saja. Apa sopan kalau kita pergi begitu saja? Sedangkan ketua tertinggi Mas Wahyu ada di dekat kita,” jawab Fahmi membatalkan langkahnya untuk maju mendekati Wahyu.
“Kita jaga jarak saja dahulu dari jangkauan aura Mas Wahyu sekarang. Kita tak bisa berbuat apa-apa kalau Mas Wahyu sudah sedemikian murkanya. Sambil kita tunggu perkembangannya dan semoga saja Mas Wahyu lekas sadar,” ucap Alak menjawab pertanyaan dari Fahmi dan mereka terus mundur untuk menjaga jarak aman dari batas aura yang terpusat pada Wahyu.
Makin lama aura Wahyu ternyata makin membesar. Fahmi dan Alak sampai-sampai terpaksa menjauh sejauh satu kilo meter. Bahkan alam di garis lingkaran dengan titik pusat wahyu. Sejauh satu kilo meter seakan tengah dibersihkan dan di hancurkan. Karena terpaan aura Wahyu.
“Fahmi ini kita sudah terlalu jauh dari Mas Wahyu. Sekarang juga mungkin para manusia serigala itu sudah habis batang hidungnya. Tapi kenapa aura Mas Wahyu masih belum reda juga. Bisa-bisa kalau begini seluruh kota terancam punah. Bukan karena ulah setan atau sejenisnya. Tapi ulah pemimpinnya sendiri, apa yang harus kita lakukan Fahmi untuk menghentikan Mas Wahyu? Sedangkan kita tidak bisa mendekatinya,” teriak Alak sambil terus melompat mundur menghindari pusaran dahsyat aura putih Wahyu.
“Aku juga tidak tahu Alak, aku bingung. Kita ini hanya generasi sesudah Mas Wahyu. Generasi sebelum kita semua sudah gugur aku rasa. Jadi kita tidak bisa bertanya pada siapa pun yang mengerti akan kekuatan Mas Wahyu dalam level api putih yang kita lihat sekarang ini. Kita bukan tipe petarung atau kesatria yang mampu telepati pada kesatria lain. Lebih baik kita terus menghindari aura Mas Wahyu agar kita tak ikut hancur,” jawab Fahmi yang jua terus meloncat mundur.
Tiba-tiba dari belakang Fahmi dan Alak. Muncul sebuah sosok dengan aura yang sama seperti Wahyu. Tetapi kali ini lebih tenang dan kalem serta tak mematikan. Aura tersebut milik Sang Petapa tanpa nama guru dari Wahyu.
Bentuk tubuh dari perawakan ujung rambut hingga ujung kaki. Hampir mirip dengan Wahyu dalam mode api putih. Hanya saja wajahnya agak tua namun tetap terlihat awet muda.
Tiba-tiba sosok Petapa tanpa nama menyetop pergerakan Fahmi dan Alak. Sehingga Fahmi dan Alak berhenti melompat ke belakang. Sontak membuat Fahmi dan Alak kaget bercampur takut bukan kepalang. Sebab jelas mereka akan masuk ke putaran aura putih milik Wahyu. Sebab dari belakang ada yang memegangi punggung keduanya dan menghentikannya.
“Astaga, Astagfirullah Hal Adzim, tamat kita Alak. Mana aku belum nikah lagi, aku kan, kan belum pernah merasakan skidi pap, pap blaem, blaem. Tolong, tolong Ya Allah, Ya Rasulullah,” teriakan dan ocehan Fahmi malah membuat tertawa Petapa tanpa nama.
“Wkwkwk, kalian ini bukannya para petarung TOH kota Jombang yang memiliki sejarah petarung yang hebat. Kenapa sekarang aku melihat anak-anak muda yang cengeng dan takut akan kematian. Lihatlah bukankah kita sudah berada di dalam lingkaran aura putih Wahyu. Bukankah kalian masih hidup dan tidak terluka sama sekali,” ucap Petapa tanpa nama yang tak tahan untuk tak bersuara sebab tingkah konyol Fahmi dan Alak.
“Lah iya, ya, eh Fahmi kita masih hidup. Loh, lah Bapak siapa ya. Eh rupanya kayak mirip Mas Wahyu yang berambut putih dengan aura putih tadi ya. Bapak siapa sih? Siluman ya atau rajanya setan,” ujar Alak malah menuduh Petapa tanpa nama adalah sebangsa setan atau siluman atau sejenisnya.
“Hust, jangan bercanda kamu Alak. Aura ini sama dengan aura Mas Wahyu yang tadi. Tentu beliau juga manusia, benar bukan begitu Bapak tua, hehe?” ucap Fahmi tersenyum menyengir.
“Bukan saya bukan setan, bukan jin, bukan siluman dan juga bukan manusia,” jawab Petapa tanpa nama menampakkan wajah datar lalu berjalan ke arah Wahyu.
“Bukan setan, bukan jin, bukan siluman lalu manusia juga bukan. Terus Bapak ini dari bangsa apa ya Lak, masak ia datang dari alam Dewa-Dewi seperti yang diceritakan para orang tua kita?” gumam Fahmi menatap Alak dengan wajah penasaran.
“Eh Si Bapak jalannya cepat sekali, ayo Fahmi kita kejar Bapak tua tadi. Sepertinya arahnya menuju arah Mas Wahyu, ayo cepat Fahmi!” teriak Alak yang sudah berlari agak jauh mengejar sosok Petapa tanpa nama.
“Eh, loh, he, loh, eh, Alak kamu mau ke mana. Bukankah Bapak ini masih di sini ya, tapi yang tadi siapa dong? Au ah bingung. Aku kok jadi merinding ya. Alak tunggu aku, woi yang kamu kejar itu siapa?” teriak Fahmi mengejar Alak yang sudah lebih dahulu berlari menuju ke arah Wahyu.
Sedangkan Petapa tanpa nama masih berdiri di tempat semula. Sambil tersenyum geli melihat tingkah kocak dua klan Raji. Dalam hati Petapa tanpa nama berkata, aduhai putraku Wahyu. Sebenarnya era level up yang kau sebutkan berbeda masa dengan eramu saat masih aku titipkan pada Jaka. Bahkan ke depan akan jauh lebih berat dan ini baru permulaannya saja anakku.
Saat Fahmi dan Alak sudah begitu dekat kepada Wahyu. Mereka seakan tercengang akan sosok Petapa tanpa nama yang sudah berada di dekat Wahyu dan mereka tengah saling berhadap-hadapan dan saling menatap.
“He, loh, he, bukankah itu Bapak tua yang tadi ya. Kenapa beliau sudah berada di dekat Mas Wahyu? Perasaan kita sudah berlari secepat mungkin. Tapi kenapa Bapak tua itu malah lebih dahulu sampai daripada kita?” ucap Fahmi menghentikan langkahnya berlari. Sebab tercengang melihat Petapa tanpa nama yang lebih dahulu sampai.