TOH Level Up

TOH Level Up
Gerbang Iblis muncul



“Lalalah, liliti, senangnya hatiku pergi ke sekolah,” Jack mengoceh ala kadarnya sambil menghibur hati dari kepenatan belajar seharian yang akan ia alami hari ini.


“Sekolah jalan kaki rumah dekat sama sekolahan ia kan. Kurang apa lagi coba enaknya depan gerbang sudah pasti teman satu geng pada menyambut kan. Secara kita yang punya kawasan sekolah alias pentolan sekolah, hehe,” kembali Jack mengoceh di trotoar tepi jalan arah sekolahnya.


Plak,


Tiba-tiba ada yang mengeplak kepalanya dari belakang. Sontak saja Jack kaget bukan kepalang, bahkan tubuh Jack sempat tersungkur. Tapi tak sepenuhnya jatuh, hanya doyong beberapa derajat.


“Woi sialan! Siapa loh, eh Mas Halilintar. Kenapa Jack malah digaplok Mas, salah Jack apaan?” ucap Jack yang sebenarnya anak dari salah satu sahabat Pak Bupati Bagus. Sebenarnya Jack bertempat tinggal di desa Genuk Watu area selatan kota Jombang tak jauh dari desa perbatasan selatan kota Jombang yakni Badas utara.


“Kamu ini ya aku adukan sama Bapak loh ya. Biar saja aku bilang sama Bapak pokoknya. Kalau kamu sering bolos sekolah, sering ikut tawuran. Apa lagi sekarang nilaimu jelek dan suka pacaran,” ucap Halilintar yang tengah menaiki motor pemberian Pak Bupati Bagus. Sedangkan Jack berjalan kaki di atas trotoar.


“Ah Mas Halilintar kok begicyu sih. Jangan dong begitu kasihanilah aku adalah anak yatim piatu. Eh katanya kalau membuat sakit anak yatim piatu dosa besar loh,” ucap Jack agak mengeles.


“Hahaha, anak kayak kamu dibuat sakit. Enggak salah kau bilang, kamu dari kecil saja sudah buat geger satu kelurahan. Kamu ingat waktu kamu hanyut disungai kelas lima sekolah dasar dan tiba-tiba kamu bisa berjalan di atas air sendiri. Sudah ayo naik aku antar ke sekolah jam berapa ini telat lagi nanti. Kamu ini sudah siang begini baru berangkat sekolah,” ujar Halilintar memarahi adik angkatnya tersebut.


Baru saja Jack hendak menaiki jok belakang motor Halilintar. Belum jua Halilintar menurun kan kakinya untuk menyangga keseimbangan motornya.


Tiba-tiba langit yang semula terang di pagi hari kota Jombang. Tiba-tiba saja tanpa aba-aba mendadak gelap seketika. Bagaikan dalam dunia sihir dengan pergantian terang dan gelap begitu cepat.


“Loh he, loh, he, he, kok gelap Mas Hal apa ini masih jam tujuh seperempat pagi loh ini. Kok jadi seperti tengah malam ya?” ujar Jack yang kebingungan akan perubahan begitu cepat dari terang menuju gelap.


“Tenang, tenang Jack, ini tidak bisa dibiarkan. Kita amati dahulu apa ini pertanda alam atau memang ada campur tangan makhluk lain?” ujar Halilintar mematikan mesin motornya lalu menurunkan setandar samping dan turun dari atas motor.


Halilintar memandang sekitarnya mencari-cari sumber sihir atau semacamnya yang mungkin tengah ingin membuat kegaduhan. Tetapi setelah ia teliti di sekitarnya tak ada hal keganjilan sama sekali. Bahkan orang-orang di sekitar mereka seakan tak terpengaruh.


Seolah-olah hanya Jack dan Halilintar saja yang mengalami kejadian aneh. Seolah-olah hanya Jack dan Halilintar saja yang mengetahui fenomena siang menjadi malam dengan sekejap.


Sebab orang lain di sekitar mereka tetap beraktivitas seperti sedia kala. Tanpa ada gangguan sama sekali dan seakan tidak ada hal yang aneh yang terjadi di sekitar mereka.


“Eh Mas Hal, tapi mereka semua kok biasa-biasa saja ya. Lihat deh orang-orang sekitar kita itu. Seakan mereka tak terpengaruh dengan gelap yang secara tiba-tiba ini. Apa kita saja ya yang mengalami hal ini?” tanya Jack menampakkan wajah berpikir keras.


“Benar Jack mereka enjoy saja ya. Sebenarnya ini apa kok kita berdua saja ya yang seakan tahu kalau hari ini pukul tujuh seperempat yang semula terangnya pagi tiba-tiba gelap bak tengah malam?” timpal Halilintar.


“Eh Mas Hal, Jack, kalian juga merasakannya. Bisa tiba-tiba tengah malam begini ya?” ucap Andre yang memang sedari tadi duduk di atas bangku taman sekitar Halilintar dan Jack bercakap-cakap.


“Eh kau Andre tidak kuliah kau. Apa tidak ada kelas hari ini?” tanya Halilintar pada Andre yang tiba-tiba datang menghampiri Halilintar dan Jack di tepi trotoar.


“Aku sebenarnya tadi sedang asyik video cal sama teman-teman kuliahku Mas. Membahas tentang materi kerja kuliah nyata. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kondisi pagi yang tiba-tiba gelap seperti tengah malam,” jawab Andre.


“Itu, itu loh, Mas Hal, Mas Andre, itu di atas langit,” ujar Jack masih melongok melihat atas langit pas di atas kepala mereka.


“Astagfirullah Hal Adzim apa itu?” teriak Halilintar melihat keanehan yang tiba-tiba muncul di atas langit.


“Bukannya itu penjaga portal gerbang iblis Mas,” ucap Andre yang kebetulan mahasiswa dengan jurusan Arkeolog. Andre jua akhir-akhir ini tengah mendalami penemuan-penemuan unik tentang bangsa jin dan setan bersama teman-teman kuliahnya.


“Gerbang iblis bukanya kata Om Haji Jaka sudah disegel puluhan tahun yang lalu Mas,” ujar Jack yang sering main ke desa Mokem bertemu Haji Jaka hanya untuk sekedar mengecengi santri perempuan di pondok pesantren As Salam milik Haji Jaka.


“Kenapa gerbang Iblis itu muncul kembali?” ujar Halilintar yang ikut melongok ke atas langit.


Gerbang iblis berbentuk gerbang hitam dua sisi begitu besar dengan ukiran ribuan tengkorak. Ada dua ular besar yang hidup menempel di kedua sisi gerbang. Seolah menjadi hiasan ukiran di kedua sisi gerbang.


Gerbang iblis yang menutupi portal dimensi setan. Memang dahulu sudah pernah di segel Haji Jaka puluhan tahun lalu. Tapi entah kenapa kini muncul kembali di atas pusat kota Jombang.


“Eh, eh terbuka itu gerbangnya, teman-teman bersiap-siaplah atas segala kemungkinan yang terjadi. Jack ambil bukumu yang kosong gambar pasukan gaib sebanyak yang kau bisa. Andre kau sudah mampu mengaktifkan teknik tangan dewamu bukan? Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kalau gerbang iblis itu terbuka,” tutur Halilintar memberi aba-aba dan merasa sangat bertanggung jawab. Sebab hanya dia paling tua dari ketiganya.


Grak, nging, Krek,


Suara seperti pintu terbuka begitu keras di atas langit. Perlahan gerbang iblis terbuka sedikit demi sedikit. Ada suara teriakan keras, tangisan, tertawa yang sangat luar biasa menyeramkan keluar dari dalam gerbang.


Tiba-tiba gerbang iblis sekejap mata menghilang. Gelap seolah tengah malam jua menghilang berganti terang kembali. Suasana pagi kembali ada dengan begitu saja.


“Lah ke mana gerbang iblis tadi Mas, eh kok pagi kembali. Bukannya tadi gelap seolah tengah malam. Ah sudahlah aku pergi sekolah Mas Hal nanti telat kau marahi lagi di rumah,” ujar Jack mengeloyor saja meninggalkan Halilintar dan Andre.


“Hal ini harus kita laporkan pada ring satu tetua pusat alias Paman Haji Jaka Mas. Besok kita ke sana Mas, sungguh gerbang iblis tadi benar adanya,” ujar Andre.