
“Ayah Dewa kau di sini?” ucap Wahyu tercengang melihat Petapa tanpa nama berdiri pas di depannya.
“Sudah-sudah hentikan kamu ini bikin repot aku saja. Kamu ini hanya bayangan bukan? Tubuh aslimu saja bisa mengontrol emosi. Kamu malah kayak begini. Sudah aku sirnakan bayanganmu yang ini. Kalian berdua pemuda klan Raji bukan, lekas pergilah ke Badas. Mereka tengah dibantai,” ujar Petapa tanpa nama yang sebenarnya nama awalnya adalah Dewa Langit.
Petapa tanpa nama tampak menutup mata Wahyu dengan wujud api putih. Lalu wujud itu menghilang dan Petapa tanpa nama juga menghilang seketika.
“Apa yang baru saja kita alami Alak. Coba tampar aku, apa kita tidak sedang bermimpi?” ujar Fahmi.
Plak,
“Waduh, sakit Alak!” ujar Fahmi mengelus pipinya bekas ditampar Alak.
“Katanya minta ditampar ah kau Fahmi. Ayo lekas ke perbatasan Badas mereka sedang dibantai,” ujar Alak menirukan pesan petapa tanpa nama lalu melesat kembali diikuti Fahmi di belakangnya menuju perbatasan Badas selatan.
***
Tiba-tiba kabut tebal berarak memenuhi area persawahan depan tembok perbatasan desa Badas selatan. Bersamaan dengan datangnya kabut yang entah dari mana asalnya. Rintik hujan gerimis dengan intensitas kerap ikut mewarnai kengerian awal perang. Angin membawa hawa dingin ikut pula menusuk daging para petarung di balik-balik tembok besar perbatasan.
Sementara langit terus meraung-raung akan suara gelegar guntur dan petir. Sementara awan gelap terus berarak seakan menata kembali untuk menumpah-ruahkan isinya ke atas bumi.
Hoar, Hart,
Suara raungan seolah binatang buas tengah menerkam mangsa. Terdengar berulang kali diselingi suara jeritan sakaratul dari seseorang. Tapi entah dari pihak yang mana, sebab semua gelap akan tertutup kabut.
“Terus makan, terus makan, terus makan anak buahku. Jangan kembali kalau kalian belum kenyang akan daging dan darah para pemuda Kediri itu,” oceh Raja siluman babi berdiri layaknya manusia di atas padi yang siap di panen. Selayaknya manusia tapi berkepala babi, seolah tubuhnya begitu ringan. Sehingga ia dapat berdiri di atas tanaman padi.
“Argtz, tolong!” suara rintihan meminta pertolongan seseorang meraung jelas di balik tembok perbatasan Badas Selatan.
Ada sosok tubuh hanya separuh badan ke atas. Tengah merangkak keluar dari salah satu parit yang dipersiapkan oleh para pejuang kota Kediri. Sosok tersebut seperti sehabis diterkam hewan buas. Sehingga tubuh separuh ke bawah telah hilang.
Matanya menangis dan wajahnya berharap pertolongan. Tangannya ingin menggapai dengan bibir tak sanggup lagi berucap. Sebab di atas tubuhnya telah ada sosok satu siluman babi. Datang secara tiba-tiba, meraung, mencabik-cabik punggungnya.
Lalu tubuh orang itu di lemparkan ke tengah sawah. Terdengar kembali bagai orang tengah berpesta. Bagai orang tengah makan bersama dengan hidangan lezat yang sangat gurih.
“Nyalakan api, nyalakan api, nyalakan tungku-tungkunya!” teriak Onal di atas tembok perbatasan yang sempat menyaksikan kengerian beberapa saat di bawah tembok. Berteriak mengomandoi rekan-rekannya untuk menyalakan api-api tungku tiap pos di atas tembok perbatasan. Agar terlihat jelas sebenarnya apa yang terjadi di depan tembok.
Api-api di atas tungku-tungku obor di dalam pos-pos penjaga tembok perbatasan Badas selatan. Telah dinyalakan minyak dan sumbu di dalam tungku telah terbakar. Pertanda akan adanya serangan yang tengah mendekat dari depan tembok. Setelah semua tungku menyala apinya di atas sumbu-sumbu besar.
Sebab parit sudah tergenang darah sepinggang orang dewasa. Lalu potongan-potongan sisa-sisa tubuh berserakan di sekitarnya. Ada pula beberapa kepala yang di tancapkan di atas bambu kering. Ada pula beberapa tubuh yang tak utuh di tumpuk di atas batu besar di depan parit.
“Innalillahi Wainnaillaihi Raziun, sungguh segala makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Semoga kalian semua kawan-kawanku tercatat sebagai kematian syahid di jalan yang benar,” gerutu Onal tampak marah, berwajah kesal tapi semua sudah terjadi.
Rak, hoar,
Terdengar lagi raungan-raungan khas para siluman. Seolah mereka begitu banyak tengah mendekati tembok perbatasan. Tetapi apabila dilihat dengan mata kepala telanjang mereka tiada terlihat.
“Anak-anak divisi Indigo maju ke depan!” teriak Onal memberi perintah, agar anak-anak Indigo maju di barisan depan di tepian tembok.
Lalu beberapa dari para pasukan pemuda Kediri yang memiliki keahlian indra ke enam maju ke depan barisan. Mereka memusatkan pikiran bersambung pada mata. Lalu mencoba melihat ke arah persawahan di depan tembok perbatasan.
“Kapten Onal ini tidak wajar, kenapa mereka tidak bisa terdeteksi walau kami menerawang dengan mata indra keenam kami. Apa mungkin mereka mundur kembali setelah menyerang. Lalu nanti beberapa saat lagi akan menyerang kembali?” ucap salah satu anak indigo yang ada di barisan depan.
“Aku rasa tidak demikian kalian mundurlah. Pasukan pemanah api bersiap!” kembali teriakan perintah diucapkan oleh Kapten Onal. Kali ini anak indigo diperintahkan untuk kembali mundur dan di ganti para pemanah api.
Pasukan pemanah dari kelompok pemuda Kediri ini hanya membawa busur. Tanpa membawa satu pun anak panah yang biasa di bawa para pemanah. Sebab saat mereka merentangkan tali busur dan bersiap memanah. Anak panah berwujud api akan muncul dengan sendirinya.
Begitulah keahlian para pemuda pemanah dari kota Kediri. Tetapi sebenarnya dahulu sebelum terbentuknya pasukan pemanah. Ratusan pemuda kota Kediri, puluhan tahun lalu. Teelah di bina oleh beberapa ketua TOH dari kota Jombang. Maka dari itu mereka memiliki unsur yang sama yakni api.
“Panah, panah, panah...!” seruan perintah menandai lontaran puluhan panah api melesat dari atas tembok perbatasan. Mengarah ke daerah persawahan di depan tembok perbatasan.
“Argtz, Argtz, Argtz, hoar,” puluhan sosok siluman babi akhirnya terlihat. Saat mereka tergelebar hancur tertusuk panah-panah api. Mereka seketika terbakar habis menjadi abu.
“Sudah aku duga mereka tidak akan semudah itu mundur. Bangsa siluman apabila mereka menyerang. Pantang bagi mereka untuk mundur kembali. Siapkan pedang kalian kita turun dan mulai berperang. Bagi yang takut akan kematian pulanglah. Berbaringlah dengan istri dan anak kalian, tidurlah di balik kamar-kamar kalian dengan selimut hangat. Bagi yang menginginkan kematian di jalan syahid ikut bersamaku. Lompat, lompat, lompatlah para pemuda Kediri!” teriak Onal menyemangati rekan-rekannya.
Mereka segera melompati tembok besar nan tinggi perbatasan desa Badas selatan. Ada yang menuruni dengan melompat, ada yang menuruni dengan seutas tali tampar. Ada yang menuruni dengan meluncur di sisi tembok yang mengerucut.
“Awas serangan siluman!” teriak salah satu pemuda yang sudah lebih dahulu sampai di bawah tembok.
Ternyata benar ratusan siluman babi telah bersiap menyergap mereka di bawah tembok perbatasan. Saat para pasukan pemuda Kediri menuruni tembok perbatasan. Mereka muncul dengan tiba-tiba dari semula yang tidak terlihat. Kali ini semua siluman berwujud setengah manusia, setengah babi.
“Serang, serang, serang, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar!” teriak Onal mengomandoi serangan dan perang telah dimulai di perbatasan selatan kota Jombang di area antara desa Badas utara dan Badas selatan.