TOH Level Up

TOH Level Up
Kami hanya lapar



Saat Fahmi, Alak dan satu bayangan Wahyu melesat ke arah perbatasan terakhir kota Jombang area selatan di desa Badas Utara. Belum sempat mereka menyentuh ke daerah tersebut. Tiba-tiba ada yang melewati mereka saat berlari.


Ada beberapa manusia serigala yang melewati Fahmi dan Alak dan mereka seakan berpapasan. Sesaat Fahmi dan Alak berhenti sejenak karena tertegun. Sebab beberapa dari manusia serigala tengah menenteng kepala-kepala warga sekitar.


Rupanya mereka baru saja memporak-porandakan beberapa desa yang mereka lewati. Sehingga mereka sudah puas akan aksinya lalu pergi ke desa lain.


“Sial, apa-apaan manusia serigala ini!” gerutu Fahmi berbalik arah.


“Fahmi kontrol emosimu kita harus cepat menuju Badas utara. Kita tengah diperlukan di sana. Sebab Si Jack hannyalah pemimpin lapis ketiga dalam kata lain Jack masih anak ring tiga. Klan Raji yang memimpin sebenarnya dirimu Fahmi. Kalau kau tak ada di sana mereka tak akan bergerak,” ucap Alak menghentikan langkah Fahmi untuk berbelok arah mengejar para manusia serigala.


“Apa maksudmu Alak, apa kau tak melihat yang mereka bawa? Mereka membawa kepala-kepala manusia di tangan mereka. Jumlahnya tak main-main mereka membawa puluhan kepala. Berarti mereka baru saja menghancurkan satu desa di depan kita. Kalau mereka dibiarkan lewat begitu saja. Bida saja desa-desa di utara akan habis oleh mereka,” ujar Fahmi terus berlari arah kembali.


Tetapi tak jauh dari tempat Fahmi dan Alak berlari. Para manusia Serigala telah berdiri berjumlah puluhan. Tetapi ternyata mereka menghentikan langkah, karena teradang oleh satu sosok bayangan Wahyu yang tadi bersama Fahmi dan Alak.


“Loh Mas Wahyu sudah menghadangnya Lak,” teriak Fahmi yang berhenti berlari di belakang barisan para manusia serigala di susul Alak yang jua berhenti lalu berdiri di samping Fahmi.


“Bukankah kalian tahu sorot-sorot cahaya kuning dari tubuhku sudah memenuhi area Jombang. Bukankah kalian sudah mendengar kalau aku sudah kembali. Bukankah kalian sudah mengetahui perang sudah hampir berakhir dan para pemimpin kalian sudah banyak yang binasa oleh kami. Apa maksud kalian dengan membantai bangsa kami secara brutal?” teriak Wahyu tampak begitu murka.


Lalu satu manusia serigala yang bertubuh lebih besar dari yang lain. Meringsek ke barisan paling depan, tetap sambil menenteng satu kepala di tangannya. Bahkan Wahyu mengenali potongan kepala yang dibawa manusia serigala yang kini ada tepat di depannya tersebut.


“Satria Langit kau kira kami bangsa serigala yang pernah kau bantai puluhan tahun silam. Kami bukanlah mereka yang mampu kau hancurkan serta kau binasakan seenak hati. Kami manusia serigala yang telah bertapa ribuan tahun dan kami sesungguhnya manusia. Tetapi karena ilmu-ilmu kami dan karena pertapaan-pertapaan kami. Sehingga kami berubah menjadi rupa demikian adanya. Lalu kami lapar, lalu kami pergi untuk makan. Apa kami salah bila mencari makan sebentar lalu kami akan kembali ke alam kami,” ucap manusia serigala yang ada di depan Wahyu.


Perkataan dari manusia serigala yang berdiri tepat di hadapan Wahyu yang ternyata adalah pemimpin dari para manusia serigala yang berjajar berbaris rapi di belakangnya. Membuat Wahyu semakin marah dan terlihat Wahyu mengepalkan ke dua kepalan tangannya.


“Kenapa kau diam Satria? Biarkan kami lewat untuk pulang. Kami tahu melawanmu dan dua temanmu yang ada di belakang kami. Sama saja bunuh diri dan sama saja aku menyerahkan kepunahan bangsaku kepada kalian. Jadi biarkan kami lewat kami hanya lapar dan mencari makanan saja,” ucap panglima dari manusia serigala yang berdiri di depan Wahyu.


“Kau bilang hanya lapar dan mencari makan lalu membantai satu desa di daerahku. Apa kau bilang seperti itu, coba kau ucapkan sekali lagi padaku?” ujar Wahyu tambah melipatkan kekuatannya. Semula Wahyu hanya terbalut gelembung aura kuning. Tiba-tiba kini Wahyu mengeluarkan gelembung aura hitam di seluruh tubuhnya. Menandakan bahwa ia dalam tingkat kemarahan yang serius.


“Janganlah menanggapinya dengan keseriusan hai kesatria reinkarnasi Satria Langit. Aku tahu kau murid kesayangan Petapa Tanpa Nama dan kami tahu kalau melawanmu kami akan binasa dalam sekejap. Tolong biarkan kami lewat dan kami janji tak akan menghancurkan desa lagi. Kami sudah kenyang dan kami hanya ingin pulang. Biarkan kami pulang kembali ke alam kami,” ucap manusia serigala yang berpangkat pemimpin atau Panglima di depan Wahyu yang mengetahui kalau Wahyu adalah makhluk reinkarnasi.


“Seenaknya kau berucap dan seakan kau bisa seenak hati keluar masuk portal dimensi alam lain hanya untuk makan karena lapar. Lalu bila sudah kenyang dari membantai satu kampung di daerahku terus kalian pulang. Enak saja kalian melakukan pembantaian manusia seenak hati di daerahku dan aku harus membiarkan kalian pulang,” ujar Wahyu.


Semakin murka bahkan level tingkat kekuatan apinya kini berubah kembali. Semula api yang menyelubungi tubuh Wahyu berwarna hitam kini sudah berganti warna menjadi merah bak lava gunung berapi.


“Alak kenapa aura Mas Wahyu begitu mengerikan seperti itu. Alak aku takut kalau Mas Wahyu dalam kemarahan besar seperti ini. Aku belum pernah melihat Mas Wahyu semarah ini Alak,” gerutu Fahmi yang ketakutan melihat perubahan level kekuatan api milik Wahyu.


“Kamu saja takut Fahmi apa lagi aku yang satu level kekuatan di bawahmu. Sudah kita diam saja di sini ya, kalau Mas Wahyu berteriak dan memberi kode penyerangan kita menurut saja,” ujar Alak yang kini terbalik. Sebab biasanya yang pemberani adalah Fahmi. Sekarang malah Alak yang berani daripada Wahyu.


“Ayolah keturunan Dewa api dalam mitologi masa lalu wahai Satria Langit Sang Putra matahari. Apa kau tak ingat dahulu kau begitu baik kepada seluruh makhluk di bumi ini. Berilah kami sedikit kelonggaran untuk hidup di alam lain. Kami berjanji selama kau berkuasa dan memimpin di kota manusia ini. Kami tak akan lagi datang mencari makan ke alam manusia. Hanya sekali ini saja kami keluar dan tak akan lagi datang,” ucap panglima manusia serigala masih berusaha merayu Wahyu.


Tetapi Wahyu sudah terlanjur murka dengan tingkat level api yang sudah berubah menjadi warna putih. Api warna putih yang berarti sudah level final dari teknik api milik Wahyu.


“Seenaknya saja kau berbuat wahai kaum manusia serigala. Tanpa kau berpikir panjang hanya memikirkan perutmu saja tanpa memikirkan jeritan dan tangisan manusia-manusia saat kau makan. Asal kau tahu aku sekarang adalah Wahyu Putra Haji Jaka bukan Satria Langit yang kau tahu. Asal kalian tahu sekarang aku adalah muslim dan akan tetap seperti itu sampai akhirnya tugasku selesai. Karena reinkarnasi ini adalah reinkarnasiku yang terakhir. Fahmi, Alak bersiaplah!” teriak Wahyu.


Namun belum sempat Fahmi dan Alak maju. Masih dalam tahap memunculkan senjata, Fahmi dan Wahyu melongo ketika ada serbuan puluhan Wahyu dengan api putih menyerang para manusia serigala dari berbagai arah.