TOH Level Up

TOH Level Up
Tolong jaga kota ini



“Wahyu jangan sampai kau lepas kontrol. Wahyu apa benar ini kau? Sadar kau sudah di tahap akhir level kekuatanmu. Bahkan kau sudah menjadi setaraf level Dewa,” teriak Elang mengingatkan Wahyu.


Sebab dengan kekuatan level dewa milik Wahyu. Sudah cukup untuk menghancurkan satu kota Jombang dengan sekejap mata.


“Diam kau Elang dan biarkan aku meladeni manusia buatan ini. Mungkin saja dia tahu akan keberadaan jasad orang tuaku. Bahkan kali ini aku sudah diambang batas kemarahan. Menyingkirlah Elang jangan sampai kau terkena imbas akan kekuatanku,” ujar Wahyu sudah dalam bentuk level dewa. Sosok Wahyu level dewa berambut putih dengan jubah serba putih namun bermata hitam. Adalah sosok mitologi legendaris di dunia persilatan gaib lima kota ribuan tahun yang lalu.


“Aku tiada mengira jikalau Dewa Satria Langit adalah kau saudaraku. Dahulu Ibu Sari sering mendongengkan namamu setiap aku hendak tertidur. Wahyu kontrol emosimu dia hanya mesin dan tetaplah mesin ciptaan manusia,” teriak Elang yang sudah terengah-engah begitu letih.


Rupanya lawan mereka yang serupa Wahyu. Jua teramat kuat, dan pada akhirnya Wahyu dan Elang mengetahui. Kalau dia si musuh hannyalah mesin. Wahyu dan Elang tahu saat mereka berhasil mematahkan lengan kanan sang musuh yang menyerupai Wahyu.


Dari bekas lengan yang patah dari musuh serupa Wahyu tersebut. Tampak rangkaian baja dan kabel yang terbentuk menjadi satu bagian mulanya.


“Sampai aku dapat menemukan siapa dalang dari semua peristiwa ini. Aku tak akan melepaskan kalian para mesin. Dengarlah kau yang mengendalikan manusia mesin yang menyerupai kami. Tunggulah saat kami menemukan persembunyian kalian. Bangsat....!” teriak Wahyu berlari memaki sambil mengepalkan tangan ke arah mesin serupa dirinya.


“Kemarilah Wahyu dan kau akan aku hancurkan. Sebab kematianmu adalah kunci kemenangan kami. Dengarlah Wahyu untuk kali ini era manusia sudah berakhir dan era setan jua sudah punah. Sekarang era mesin yang akan aku ciptakan sebagai dunia baru,” oceh mesin model CN 1 ciptaan DR. Dono yang dibuat sangat mirip dengan Wahyu.


Bahkan semua kekuatannya jua sama dengan Wahyu. Tetapi kesamaan kekuatannya hanya bersumber pada level api amarah. Pada tahap level api kuning dan level dewa Wahyu. Mesin CN 1 tak bisa menirunya, karena mesin tersebut hanya terbentuk dari sel Haji Jaka.


Sedangkan jurus-jurus Wahyu tak melulu dari Sang Ayah. Mungkin Haji Jaka sudah memiliki firasat jauh-jauh hari akan masa level up. Bahwa di era level up pimpinan Wahyu akan ada musuh bukan dari golongan setan. Tetapi dari golongan mesin serupa manusia yang diciptakan oleh manusia.


Mungkin dari firasat itu jua lantas Wahyu remaja dahulu diharuskan melanglang buana. Agar Wahyu berguru dan menimba ilmu pada tetua-tetua sakti di lima kota. Termasuk mengirim Wahyu belajar seni api kuning pada Pamannya sendiri Dwi Cahyadi di kota Serang.


“Kali ini aku memahami apa kemauanmu Ayah. Sebuah kemauan dan keinginanmu yang dahulu aku tentang. Bahkan aku cenderung malas melakukannya. Aku kini memahami Ayah apa maksudmu mengirimku berkeliling mencari guru di lima kota besar. Ayah tunggulah aku seperti janjiku aku akan membawa jasadmu dan Ibu pulang. Awas kau manusia buatan!” teriak Wahyu mengepalkan tinju pada manusia buatan model CN 1.


Prak,


Dar,


Manusia buatan atau robot CN 1 yang semula sudah kalah dan hampir hancur. Malah ditinju oleh Wahyu dengan tinju Satria Langit. Sebuah tinju legendaris tanpa efek api atau elemen lain.


Namun efek dari tinju tangan kosong Wahyu. Begitu mengerikan, sampai-sampai CN 1 hancur lebur. Bagai logam yang terpotong-potong kecil-kecil. Bahkan tanah di sekitar mereka amblas agak dalam sedalam lima meter.


“Gila mengerikan kekuatan saudaraku Wahyu dalam level Dewa. Sampai-sampai karena aura kemarahannya saja. Semua tumbuhan menjadi kering saat ia lewati. Tidak lagi aku bercanda agak kasar kepadanya mulai sekarang. Takut aku di hantam sekali pindah alam nanti,” gerutu Elang masih melayang di atas cekungan tanah bekas pukulan Wahyu.


Tiba-tiba ada sebuah prototipe model cip kecil terlempar ke arah Elang. Seketika dengan refleks yang baik ia menangkapnya.


“Lah apaan ini, kenapa ada cip kecil?” ucap Elang agak bingung.


“Astagfirullah Wahyu kaget woi, memang cip apaan ya ini Wahyu? Eh ngemeng-ngemeng anu apa namanya bicara-bicara. Aduh salah lagi maksudnya ngomong-ngomong. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sebenarnya adalah dari klan dewa-dewi. Mengerikan kekuatan level dewamu Wahyu,” oceh Elang masih agak syok dengan level dewa Wahyu beberapa saat tadi.


“Halah kau ini Elang, aku tetap Wahyumu yang dulu. Wahyu sebagai saudara, Wahyu sebagai tandem pasangan emas. Aku masih Wahyumu yang dulu dan tetap akan seperti itu. Cuma aku akan selalu marah di setiap reinkarnasiku apabila ada musuh yang telah melukai keluargaku,” ujar Wahyu.


“Lalu mau kita apakan cip ini? Masak ia kita mau buat robot juga,” tanya Elang sambil mengolak-alik cip kecil ditangannya.


“Bawa saja nanti kita serahkan kepada Sekar. Sebab dia yang mampu mengoperasikan komputer dengan baik. Bahkan dia tergolong mahir dalam otak-atik perangkat lunak tersebut,” ucap Wahyu yang tanpa menyadari. Jikalau semua sudah berkumpul di sekitar mereka.


“Woi ketua umum kepemimpinan pejuang silat gaib lima kota. Apa sudah benar-benar berakhir perang kali ini keponakanku?” teriak Paman Dwi berdiri dari arah barat bersama Paman Mamat dan puluhan anggota Alif dari kota Serang.


“He muridku apa selanjutnya kali ini? Semua sudah habis. Musuh kita sudah menyerah sekarang. Bahkan musuh terakhir sudah kau habisi. Mas Dwi keponakanmu satu itu curang. Bahkan para raja setan banyak yang ia habisi sendirian. Kita tidak diberi kesempatan, rupanya dia hendak unjuk gigi Mas,” sahut Paman Mamat wakil ketua umum organisasi silat gaib Alif dari kota Serang.


Wahyu hanya tersenyum melihat semua telah berkumpul. Melingkari tanah amblas yang membentuk cekungan melingkar. Bekas pukulannya pada CN 1 yang telah ia hancurkan.


“Adi Elang saudaraku lihatlah betapa semua telah berkumpul di kota ini. Bukankah sama persis seperti puluhan tahun yang lalu. Elang aku merasa ada Ayah dan Ibu di sela-sela mereka. Ayah sedang tersenyum kepadaku sambil memeluk Ibu seperti biasanya. Lihatlah Elang ada Ayahku di sana seakan ia menyampaikan sebuah isyarat kepadaku untuk terus menjaga kota ini,” ucap Wahyu menatap satu tempat di antara hiruk-pikuk para pejuang lima kota.


Akhirnya bersama menetesnya air mata Wahyu ke atas tanah. Semilir angin teduh kembali berembus perlahan. Membawa perdu aliran hawa hangat dengan alunan perlahan nan syahdu.


Burung-burung kembali berani berkicau serta kembali beterbangan ke sana dan kemari. Kembali terdengar gemercik aliran sungai yang semula tak terdengar lagi dan hanya ada jeritan.


Terang kota Jombang benar-benar terang kini. Kota Jombang kembali dari kegelapan tiga tahun selama ini. Sinar mentari sudah berani menerobos awan gelap yang sudah hilang sepenuhnya.


“Kita menang Elang, kita menang Elang. Kau berhasil mengembalikan kota Jombang,” ucap Elang menepuk pundak Wahyu.


“Tidak Elang kemenangan ini milik kita. Elang tolong bantu aku membenahi kota ini?” ucap Wahyu memberi mandat pada Elang untuk membangun kota kembali.


“Kau mau ke mana Elang? Pagi ini ketua umum sang panglima besar adalah kau. Pagi ini lima kota telah berkumpul dan mereka mengamini kalau kau adalah jendral lima kota. Bukankah semua sudah berakhir sahabatku?” ujar Elang agak heran dengan perkataan Wahyu.


“Ada satu pekerjaan lagi yang belum selesai dan aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibu untuk membawa jasad mereka beserta tetua yang lain. Mungkin aku pergi mungkin juga aku tak akan kembali. Bila aku tak kembali tolong jaga kota ini untukku. Bilang jua pada Sekar untuk tidak menantiku. Dia pantas bahagia walau tanpa aku. Elang aku pergi tolong jaga kota ini,” ucap Wahyu menghilang perlahan.


Elang hanya menatap kepergian Wahyu dengan termangu. Elang tampak tak terima dengan kata-kata Wahyu. Bahwa kalau ia tak kembali tolong jaga kota ini. Tetapi memang benar adanya bahwa musuh terakhir CN 1.


Adalah sebuah manusia buatan yang begitu super Power. Wahyu sampai mengeluarkan level dewanya saat bertarung melawan manusia buatan tersebut.


Wahyu menyadari kalau tipe CN 1 bukanlah satu-satunya manusia buatan. Maka dari itu Wahyu berpesan pada Elang. Apabila dia tak kembali tolong jaga kota ini.