TOH Level Up

TOH Level Up
Wahyu Vs Wahyu



“Eh Elang anakku kamu saja ya yang ke tempat Adikmu Seruni. Ayah ini sudah tua dan gampang capek juga. Lagi pula kali ini era kalian, jadi biar orang tua ini istirahat. Memang kalian saja yang ingin bercinta, aku juga sudah lama tidak bertemu ibu kalian,” ucap Lurah Dava tertawa kecil lalu pergi begitu saja.


“Eh he Paman mau ke mana kau? Woi Paman. Ah sudahlah dasar orang tua, wkwkwk, Elang kau mau ke mana kali ini. Apa mau ke tempat Seruni atau mengikuti Ayahmu?” ujar Wahyu bertanya pada Elang.


“Mau tahu saja kau Mas hehehe,” jawab Elang langsung menyahut kaki hewan pendamping dari langit sahabatnya yang berwujud elang besar. Lalu pergi menaiki atas punggung elang tersebut.


“Oalah Ayah sama anak kok sama saja dasar semprol. Sudahlah kalau begitu aku bersihkan daerah perbatasan saja. Lagi pula para raja dari bangsa setan juga sudah habis semua. Tidak seru kalau perang diakhiri dengan cara begitu gampang,” ucap Wahyu hendak melesat ke tempat lain di kota Jombang. Tetapi diurungkannya sebab ada yang menghalanginya pergi.


“Hai Pemimpin kota Jombang, bisakah aku memintamu untuk bertarung. Aku dengar kau begitu istimewa di kota Jombang ini,” ucap satu sosok yang ternyata sangat mirip dengan Wahyu tanpa cela. Sehingga tiada dapat membedakannya sebab terlalu mirip.


“Siapa kau? Aku tak pernah memiliki bayangan bermata merah sepertimu. Rubah wujudmu dan kembalilah pada wujud aslimu. Aku sudah mengetahui semuanya kalau kau adalah salah satu raja setan yang belum sempat kami hancurkan,” cetus Wahyu meminta sosok yang mirip sekali dengannya untuk segera mengubah wujudnya menjadi wujud aslinya.


“Aku adalah Wahyu, memang kau saja yang Wahyu. Atau mungkin kau yang meniruku, atau kau yang setan. Jadi kau seharusnya yang mengubah wujud aslimu,” jawab sosok yang menyerupai Wahyu mulai mempermainkan Wahyu sendiri.


Wahyu masih terdiam dan dia mengembalikan wujud manusianya dari sebelumnya sebagai wujud api kuning. Dalam hatinya sanggatlah terusik dan sangat penasaran. Makhluk apakah di depanku ini, kenapa ia sangat mirip denganku? Ujung rambut hingga jempol kaki semua sama.


“Kenapa Wahyu apa kau takut menghadapi dirimu sendiri? Lihatlah ini aku Wahyu dan aku adalah dirimu. Mari kita bertarung untuk menentukan siapa sebenarnya Wahyu yang asli. Mari kita bertarung yang hancur berarti dia yang hanya bayangan. Oh iya kau hanya bayangan bukan yang asli dan aku sudah tahu itu,” oceh Wahyu peniru dan masih saling berhadapan dengan Wahyu yang asli.


Ternyata Wahyu yang palsu yang tiba-tiba menghadang Wahyu yang asli. Mengetahui jikalau Wahyu yang asli hannyalah bayangan bukan yang asli. Tetapi Wahyu yang asli tidak mau terkecoh, sebab apabila ia harus memanggil wujud aslinya.


Tentu perlu mengumpulkan ribuan Wahyu bayangan yang sudah tersebar di seluruh area kota Jombang dan itu berarti menghentikan perlawanan manusia atas setan. Bisa jadi keadaan bisa berbalik atas kemenangan setan. Walau para Raja setan sudah banyak yang dibinasakan. Tetapi masih banyak setan dalam taraf Panglima.


Wahyu hanya terdiam menatap Wahyu tiruan di depannya. Tanpa sengaja mata Wahyu yang asli menyala otomatis. Mata apinya bereaksi dengan sendirinya, mata api itu menangkap hal aneh di dalam diri tubuh Wahyu tiruan di depannya.


“Astaga dia manusia bukan setan atau makhluk jelmaan atau semacamnya. Semua organ tubuh di dalam tubuhnya asli manusia. Dia memiliki jantung dengan fungsi normal. Dia memiliki semua organ tubuh manusia. Kenapa bisa seperti ini dan aku tidak pernah merasa memiliki bayangan ini. Ada apa ini sebenarnya, siapa dia? Lebih baik aku layani saja tantangannya sambil aku cari tahu siapa dia,” gerutu Wahyu agak bergumam dan masih terus fokus menatap Wahyu tiruan di depannya.


“Kau yang terlalu lama Wahyu sudah jangan bergumam seperti wanita. Kalau kau takut bilang saja, tentu kematianmu sangat berharga untukku. Mari kita bertarung Wahyu!” teriak Wahyu tiruan mulai menyalakan aura api kuning sama persis dengan teknik jurus gaib yang biasa digunakan Wahyu. Lalu Wahyu tiruan begitu cepat melesat ke arah Wahyu yang asli.


“Sial cepat sekali makhluk ini,” cetus Wahyu begitu kaget dengan kecepatan di atas rata-rata tiruannya tersebut.


***


“Astaga Nona Seruni semua sudah begitu hancur rata dengan tanah. Apa-apaan ini kota Jombang jadi seperti ini tiada yang tersisa,” ucap Ambon berhenti di satu sisi area kota namun masih belum sampai di tengah kota Jombang.


“Akang Ambon menunduk!” teriak Seruni menyuruh Ambon untuk menunduk. Sebab ada satu pukulan api melontar dari kejauhan menyasar ke arah Ambon.


“Astagfirullah bola api!” teriak Ambon menghindari pukulan api yang berwujud semacam pergelangan tangan besar tapi berwujud api ke arahnya.


Hampir saja Ambon terkena pukulan api tersebut. Jikalau Ambon tidak lekas menghindar dengan gaya merunduk ke belakang. Tetapi tetap menghadap ke depan, setengah kayang atau membungkukkan badan ke belakang.


“Biar aku yang menghadapi kalian lekas pergi saja dari sini. Mas Wahyu sudah menunggu kalian di pusat kota untuk serangan terakhir. Aku tahu serangan pukulan api tadi berasal dari kelompok klan desa Megaluh. Mereka adalah para sanak-saudaraku yang sungguh berseberangan dengan kita. Mereka lebih memilih membantu setan daripada menyelamatkan manusia dari kepunahan,” ucap Bargo menawarkan diri untuk melawan musuh yang ternyata berasal dari klan keluarganya sendiri.


“Apa kau serius Kang Mas Bargo, bukankah mereka adalah keluargamu? Bahkan dari mereka ada Ayah, Ibu dan Adik-adikmu. Apa kau sungguh ingin melawan mereka?” tanya Seruni masih tiada percaya kalau pada akhirnya salah satu rekannya harus berhadapan dengan keluarganya sendiri.


Srooot,


Tiba-tiba datang lagi pukulan api dari kejauhan mengarah ke arah Seruni dan yang lain tengah berkumpul. Kali ini ratusan pukulan api mengarah ke arah mereka. Lalu dengan sigap Bargo meloncat ke atas. Membuat segel tangan pelindung cakram api sesuai keahliannya. Sehingga pukulan-pukulan api tersebut tak sampai mengenai rekan-rekannya.


“Cepat pergi! Biar aku menghadapi mereka. Aku tahu kali ini bukan sembarangan musuh yang kita hadapi. Rupanya yang melontarkan pukulan api adalah Ayahku. Tentu kalian tak akan mampu menahannya. Lekas pergi tunggu apa lagi!” teriak Bargo masih dengan cakram api pelindung berbentuk lingkaran besar dari kedua tangannya.


“Kita pergi Dek Seruni, kita percayakan saja pada Bargo. Tentu dia mampu untuk meredam keluarganya sendiri,” ucap Ambon mengajak Seruni untuk lekas pergi.


“Sungguh jahanya efek perang kali ini di era kita. Bahkan kita harus menghadapi keluarga kita sendiri,” ucap Seruni yang langsung melesat pergi bersama Ambon dan puluhan anggota klan Kardi yang lain.


“Baik Ayah mari kita bermain seperti waktu aku kecil dahulu,” celetuk Bargo sambil menahan pukulan api dengan cakram apinya dan terus maju ke depan.