
“Ayo Raja mumi jangan kau ragu bertarunglah dengan serius. Bertarunglah dengan sungguh-sungguh dan gunakan kekuatan penuhmu. Bukankah tadi kau begitu jemawa setelah membunuh dua anak muda dari klan Raji?” ujar Panglima Pendik sambil menangkis kapak yang dilayangkan Raja Mumi.
Padahal Pendik tahu Raja mumi sudah menggunakan kekuatan maksimalnya. Tetapi itu sama sekali belum berarti di hadapan Panglima Pendik. Rupanya Panglima Pendik sudah menaikkan level kekuatan macannya.
Semula dalam kondisi level dua, Panglima Pendik berwujud separuh manusia dan separuh lagi macan atau harimau belang. Tapi saat berada pada level ketiga seluruhnya menjadi sosok macan. Terapi tetap menjadi manusia dan berdiri selayaknya manusia dengan wujud macannya.
“Sial kau Panglima Pendik dan ini kenapa aku selalu menghindari bertempur denganmu. Karena kami bangsa mumi dan zombi sangat anti pada sosok harimau,” jawab Raja Mumi berceloteh.
“Halah bilang saja kalau kau takut pada kami Raja Mumi. Jangan banyak alasan dan sudahlah biar aku akhiri perjalananmu. Karena aku tahu jikalau kau mati, tentu pasukanmu jua ikut mati,” ujar Panglima Pendik.
Panglima Pendik mengambil jarak kembali dengan Raja Mumi. Agak menjauh dan memberi jarak dua depa atau jengkal. Hal ini membuat Raja Mumi agak menyombongkan diri.
“Ada apa Panglima Pendik, apa kau sudah kehabisan akal untuk membunuh makhluk abadi sepertiku?” teriak Raja Mumi agak jemawa dan merasa senang dan mengira Panglima Pendik sudah habis teknik atau jurus untuk menghabisinya.
Sebab selama ini belum sekali pun Raja Mumi dapat dibinasakan. Selama ini hanya penyegelan yang mampu menghentikan aksi brutal Raja Mumi. Bahkan dahulu Haji Kasturi empunya para jawara TOH. Sempat dibuat kewalahan oleh Raja Mumi dengan kelicikan tipu daya serta tipu muslihatnya.
Tetapi yang dihadapi Raja Mumi kali ini adalah Panglima Pendik. Seorang yang dipercaya menjadi Panglima atau pemimpin utama klan Lukman. Setelah Haji Lukman sang pendiri klan gugur beberapa tahun lalu.
Klan Lukman yang ahli dalam teknik penyegelan dengan cara dipendam ke dalam tanah dan menguburnya sampai inti bumi sangat terkenal dan sangat dihindari oleh mumi dan Zombi. Maka dari itu Raja Mumi tampak ketakutan saat bertemu Panglima Pendik.
Setelah mengambil jarak dua jengkal dari Raja Mumi. Tampak Panglima Pendik membuat segel tangan pemanggilan satu alat segel.
“Peti arwah keluarlah!” teriak Panglima Pendik sambil menginjakkan kaki tiga hardik ke tanah. Tiba-tiba tanah bergoyang hebat dan terlihat Raja Mumi agak ketakutan.
“Oh tidak teknik ini!” celetuk Raja Mumi yang ternyata sudah tak dapat bergerak lagi.
Sebab selain membuat pemanggilan peti arwah. Panglima Pendik jua membelah dirinya secara sama menjadi tiga bagian lagi. Sehingga wujud bayangannya mengepung empat penjuru Raja Mumi. Mengikatnya dengan teknik ikat bayangan.
Tiba-tiba muncullah satu peti mati berukuran besar dengan aura menakutkan dari neraka. Peti dengan warna hitam penuh tulisan rajah dan doa di setiap sisinya tersebut. Memang sudah diturunkan turun-temurun dari leluhur Haji Lukman itu sendiri.
“Bagaimana Raja Mumi, apakah kau sudah siap untuk tertidur selama-lamanya?” ucap Panglima Pendik yang sudah membaca sebuah mantra. Sehingga peti arwah yang dalam posisi berdiri. Terbuka sisi pintunya dan seketika ada dua buah tangan serupa bayangan putih. Meraih tubuh Raja Mumi lalu memasukkannya dan menutup kembali.
“Kau sudah terlalu banyak membuat kerusakan di muka bumi Raja Mumi. Maka kau akan hancur di telan bumi sampai pada intinya,” ucap Panglima Pendik menyentuh bagian depan peti arwah.
“Selesai sudah satu bangsa setan telah kita hilangkan. Pasukan klan Lukman kita bergerak kembali!” ujar Panglima Pendik mengomandoi pasukannya. Sontak puluhan pasukan klan Lukman mengubah wujud mereka menjadi sosok-sosok harimau alas atau harimau hutan. Bergerak kembali menuju titik-titik pertarungan selanjutnya.
***
Sementara itu di atas atap gedung kantor Bupati Jombang. Masih berlangsung pertarungan sengit antara Pak Bupati Bagus melawan Joko alias Dokter Dono. Antara Garuda melawan naga mesin ciptaan Dokter Dono.
“Kau kira gampang mengalahkan kami Dokter Dono. Lihatlah naga mesinmu sedang terpotong-potong oleh Garudaku,” ujar Pak Bupati Bagus berjalan perlahan menuju Dokter Dono.
Tampak Dokter Dono mengunyah sesuatu dari dalam kantongnya. Rupanya yang ia kunyah bukanlah sebuah permen karet biasa.
Beberapa saat ia terlihat menelan permen karet tersebut sambil tersenyum. Tiba-tiba ia meludah ke arah Pak Bupati Bagus. Ludahnya begitu kencang bak peluru yang keluar dari senapan.
Ternyata permen karet yang ia kunyah baru saja itu adalah sebuah alat yang jua ia ciptakan. Penciptaan alat tersebut mengambil sari pati keringat dari salah satu jasad anggota klan Raji yang ia culik.
Sehingga kekuatan dan cara kerjanya mirip dengan keahlian klan Raji yang sebenarnya dengan sedikit modifikasi. Sialnya ludah yang dilontarkan Dokter Dono yang kini mengambil wujud asli sebagai Joko. Mengenai lengan kanan dari Bupati Bagus.
Sehingga membuat lengan kanan Bupati Bagus terbakar dan hancur perlahan. Sampai-sampai Bupati Bagus terpaksa memotong sisa lengan kanannya. Agar tidak merembet ke bagian lain tubuhnya.
“Argtz, sial kau Joko, sungguh kau teramat licik!” ucap Pak Bupati Bagus masih memegang pedang cahaya yang ia keluarkan secara cepat. Secara cepat pula ia memotong sisa lengan kanannya sendiri.
“Mana ada aku curang Pak Bupati, bukankah aku tidak menyerangmu dari belakang. Bukankah kita sedang bertarung dan saling berhadapan?” ujar Joko alias Dokter Dono tersenyum licik.
“Bagus apa kau tidak apa-apa?” ucap Garuda tengah menghancurkan sisa tubuh dari naga mesin.
“Tenanglah Garuda aku tidak apa-apa. Bahkan satu tangan saja tidak jadi soal untukku bertarung. Aku masih mampu membuat segel dan teknik gaib lainnya. Walau hanya satu tanganku yang berfungsi,” jawab Pak Bupati Bagus masih dalam kondisi meringis kesakitan.
“Kalau begitu biar aku hancurkan sekalian tangan kirimu. Agar tidak lagi bisa kau mengeluarkan jurus-jurusmu Bagus!” teriak Dokter Dono kembali meludah ke arah Pak Bupati Bagus beberapa kali. Sampai-sampai saat mengenai tiang besi yang ada di sekitar mereka. Tiang besi itu langsung hancur lebur seketika.
Tetapi kali ini Pak Bupati Bagus lebih siap lagi. Ternyata ludah Dokter Dono tak mempan melawan cahaya. Pak Bupati Bagus jua sudah memahami hal itu. Sehingga pedang cahayanya digunakan untuk menangkis setiap ludah yang mengarah kepadanya.
“Jangan sedih Dokter gila, karena aku adalah Bagus. Aku adalah posisi pertama di jajaran tetua TOH, jangan kau anggap remeh aku Joko!” teriak Bupati Bagus meloncat ke arah Dokter Dono sambil menebaskan pedang cahayanya.