
Walau bunga elok di tanah becek genangan tanah berlumpur telah kembali mekar di tanah Jombang. Walau hiruk dan pikuk kegembiraan serta teriakan kemenangan telah berkoar-koar di sela-sela rapat akbar lima kota.
Tak akan mampu membawa desir damai yang menyejukkan di dalam genggaman dada Sekar yang masih sama. Sama sekali tidak berubah dari berdiri dan tatapannya. Sekar masih tak beranjak dari awal selesainya perang.
Kemenangan ini terasa menyakitkan untuk Sekar. Matanya mulai beriak tanpa air walau sedikit sekali sungging di bibirnya yang masih ranum.
Angin setengah hari beranjak tengah hari. Mulai menjadi agak berdebu dari sisa-sisa pertempuran semalam. Wahyu tak jua kunjung datang di depan matanya. Sekar masih menanti walau baru mematung dua atau tiga jam saja.
Tetapi bagai dunia para pencinta dengan kekasih Sang Satria. Tentu tiap detik bahkan tiap tarikan napas adalah getir. Sebuah kegetiran atas keraguan dan ketidakpastian kehidupan atau keselamatan Sang Pangeran tambatan jiwa.
“Duh jiwaku yang kau bawa pergi separuh di hatimu. Duh kehidupanku dari seluruh kuntum masa harumku yang aku tautkan padamu kekasihku. Cepatlah datang duhai kekasih aku lelah menunggu. Cepatlah datang Rajaku lihat mereka sudah bergembira. Kenapa kau mengambil kembali jalan berat di mana jalan pulangnya hannyalah celaka,” begitulah dawai gerutu nyanyian pilu cinta Sekar pada Wahyu.
Walau ada satu atau dua teman yang menghampiri. Mereka mulai membujuk rayu untuk bergabung dengan gerombolan penikmat kemenangan manusia. Mereka mulai menghawatirkan sang Dewi pemilik hati Jendral besar lima kota.
Tetapi tetap saja bidadari bertajuk manusia seperti halnya Dewi Sekar. Tetap teguh menunggu kekasih hatinya pulang bertandang. Sekedar memberi kabar atau menyapa kembali dan berbisik lembut di ujung telinga sambil berkata Adinda aku pulang.
“Ayah kasihan anak perempuan kita satu itu. Mbok ya dibujuk biar mau ikut ke sini, tenda-tenda untuk pemukiman sementara sudah didirikan. Ajaklah anak gadis kita itu untuk beristirahat bersama teman-temannya sesama Srikandi,” ucap Ibu Sari yang selalu menganggap semua gadis di kota Jombang adalah anak gadisnya.
“Sudah Ibu, sudah aku bujuk untuk bergabung bersama anak gadis yang lain. Tetapi Sekar tetap kekeh berdiri mematung di situ. Katanya apabila Wahyu belum terlihat dari arah timur jauh. Dia tak akan beranjak dari tempatnya. Kasihan Bu Sekar harus menelan kenyataan sepahit ini di masa mudanya,” jawab Lurah Dava memandang Sekar yang masih terus berdiri tidak beranjak.
“Ibu takut Wahyu tak akan kembali Ayah. Sebab yang ia hadapi adalah manusia-manusia buatan. Bahkan Dokter gila itu menciptakan dari sel-sel tubuh para kesatria TOH era tua. Bisa jadi Wahyu malah berhadapan dengan manusia buatan yang serupa Mbak Putri,” tutur Ibu Sari sangat menghawatirkan Wahyu.
“Hust, Istigfar Bu, jangan bicara jelek. Sebab bicara adalah doa, mungkin saat kau bicara ada malaikat yang mendengarkan lalu mencatatnya bisa runyam urusan. Memang yang aku takutkan sebenarnya sama dengan Ibu. Jikalau Wahyu bertemu dengan manusia buatan yang mirip Ibunya yakni Mbak Putri. Bisa jadi Wahyu sudah barang tentu tak akan mampu melawan sosok Ibu yang ada dalam manusia buatan,” ujar Lurah Dava.
“Semoga saja Wahyu tak bertemu manusia buatan dengan sosok Mbak Putri. Sehingga Wahyu dapat mengalahkan seluruh kejahatan Dokter gila itu dan membawa pulang jasad para tetua,” ucap Ibu Sari.
“Pak Lurah, Ibu Sari, rapatnya sudah dimulai mari masuk?” ucap Halilintar melambaikan tangan dari kejauhan dari depan satu tenda besar yang difungsikan sebagai tempat rapat sementara.
Beberapa saat kemudian di dalam tenda yang berfungsi sebagai rapat. Sudah duduk bersila perwakilan ketua-ketua pusat dari lima kota. Kali ini rapat di pimpin oleh ketua yang netral dari kota Serang.
Kakek Dwi Cahyadi begitulah panggilan akrabnya. Telah membuka rapat dengan salam dan doa tak lupa jua dengan beberapa bait Shalawat Nabi.
Rapat rupanya sudah pada pembahasan tentang kemungkinan terburuk akan terjadinya perang kembali di kemudian hari. Sebab isu yang tersebar dari mulut-ke mulut tentang manusia buatan. Rupanya sudah santer terdengar di lima kota besar.
“Bagaimana Mas Dwi, apa yang harus kita lakukan apabila perang itu sampai terjadi. Bukankah Wahyu sekarang tengah pergi untuk mengecek kebenaran dari berita isu itu sendiri?” tanya Mustaji dari Laskar L.A Lamongan.
“Lebih jelasnya yang lebih tahu mengenai berita ini sebenarnya Lurah Dava dan Sari. Sebab mereka adalah dua kesatria yang selamat di masa kekalahan kita ras manusia atas setan tiga tahun lalu,” ujar Dwi menoleh pada Lurah Dava dan Ibu Sari.
“Benar Lurah Dava tolong beri kami penggambaran tentang manusia buatan. Apakah memang mereka sangat mengerikan seperti kabar yang beredar?” tanya Bayu pemimpin dari organisasi kota Gresik.
“Baiklah akan saya jelaskan secara terperinci dengan singkat dan padat. Akan saya detailkan apa itu manusia buatan yang dikabarkan dengan kekuatan begitu mengerikan,” jawab Lurah Dava berdiri dari duduk bersilanya. Raut wajahnya tampak tegang sebab ini masalah yang teramat serius.
Karena kota Jombang baru saja terselamatkan dari musibah pemusnahan masal. Apalagi kota Jombang sudah sepenuhnya luluh-lantak dari segala aspek infrastruktur. Tentu semua tidak mau akan adanya perang kembali. Bisa-bisa dengan sisa tenaga dan jumlah kekuatan sekarang. Ras manusia mungkin akan benar-benar punah sepenuhnya.
“Ayah apa benar kamu hendak menceritakannya?” tanya Ibu Sari yang tengah menampakkan wajah kekhawatiran dengan raut agak menampakkan kengerian atas ketakutan masa lalu.
“Tenang Ibu, sudah semestinya kita memberi tahu semua tentang manusia buatan. Sebab mau tidak mau suatu hari, entah besok atau lusa atau sebentar lagi. Bahkan mungkin tak menunggu datangnya masa depan, mungkin beberapa menit lagi. Bisa saja mereka menyerang secara tiba-tiba dan kita harus siap akan itu semua,” jawab Lurah Dava menguatkan mental sang istri.
“Jikalau Lurah Dava yang melegenda sebagai pasangan emas dari Haji Jaka. Jikalau Ibu Sari berjuluk Sang Dewi Jombang. Jika mereka berdua ini sampai ketakutan. Aku rasa berita manusia buatan benar adanya. Apakah benar seperti itu Lurah Dava?” tanya Saprol yang mewakili kota Mojokerto dengan organisasi Pemuda Majapahit.
“Semua yang kalian katakan dan tanyakan adalah benar adanya. Akan aku ceritakan dari awal mula tiga tahun yang lalu sebelum perang. Apa boleh kami menceritakan dimulai dari hari-hari terakhir kami melihat Haji Jaka yang saya hormati dan sayangi sebagai kakak sendiri?” ujar Lurah Dava bertanya pada seluruh hadirin rapat yang tengah duduk bersila melingkarinya yang tengah berdiri.