TOH Level Up

TOH Level Up
Divisi atas vs Siluman Kalong



“Bersiap, bersiap, angkat busur-busur kalian. Rupanya Kapten Onal sudah memulai serangan dari bawah. Jangan sampai lengah bangsa kalong yang kemungkinan besar kita hadapi sanggatlah licik. Mereka dapat mengubah wujud mereka serupa yang mereka sentuh. Jadi usahakan bila tak memungkinkan dan memang harus melakukan pertempuran jarak dekat. Jangan sampai secuil kulitmu tersentuh oleh mereka,” teriak Kapten Rafi memberi komando pasukan panah Pemuda Kediri.


Mereka berada di gubuk-gubuk dari bambu yang menempel di atas panjangnya pohon-pohon bambu. Bahkan gubuk-gubuk ini berusia puluhan tahun lamanya. Pemuda-pemuda puluhan tahun lalu membuatnya.


Memang digunakan khusus untuk mengintai para siluman atau musuh yang datang. Memang daerah perbatasan Badas sanggatlah rawan dari penyerangan bangsa siluman dari puluhan tahun lalu.


Walau di bawah tembok perbatasan tampak begitu ramai dengan suara-suara perkelahian. Antara kelompok Kapten Onal melawan siluman babi. Tetapi area udara yang menjadi jatah pengawasan Kapten Rafi tampak lengang.


Seakan tidak ada aktivitas serangan apa pun dari bangsa siluman kalong. Hannyalah kabut tebal sebatas mata memandang. Sebenarnya pertempuran di bawah tembok perbatasan pun tiada terlihat. Karena terhalang oleh kabut yang terdengar hanya suara-suara teriakan saja dan terkadang terlihat samar-samar percikan-percikan api.


“Jangan lengah jelas informasi dari beberapa kawan kita yang dapat melihat secara kasat mata. Beberapa waktu yang lalu ada tiga bangsa siluman yang hendak menjebol tembok perbatasan kita ini. Bangsa siluman babi, bangsa siluman serigala dan bangsa siluman kelelawar atau bangsa kalong. Jadi menurut prediksiku sudah pasti yang akan kita lawan adalah bangsa kalong yang terkenal begitu licik,” teriak Kapten Rafi sekali lagi mengingatkan kewaspadaan teman-temannya.


Tiba-tiba ada kelelawar kecil yang terbang di samping salah satu pemuda yang ada di salah satu gubuk atas pohon bambu. Kelelawar tersebut begitu kecil sehingga tiada disadari oleh si pemuda.


Kelelawar akhirnya menempel di leher si pemuda. Bak seekor nyamuk atau lalat yang hinggap di tubuh manusia. Lekas kelelawar menggigit leher si pemuda begitu kencang.


“Woi, apa-apaan ini, Allahuakbar, Don!” teriak salah satu pemuda yang ada di samping si pemuda yang di hinggapi kelelawar kecil di lehernya.


Ternyata si pemuda dengan refleks secara otomatis. Menepuk leher pas di area kelelawar kecil yang menggigit lehernya. Tanpa diduga sebenarnya kelelawar kecil tersebut adalah manipulasi sebuah bom gaib dari bangsa siluman kelelawar.


Kelelawar yang terkena tepakkan tangan si pemuda. Akhirnya meledak bagai sebuah granat yang dilepaskan pemicunya. Membuat kepala dari si pemuda hancur dan darah merah segar muncrat deras dari leher bekas kepala yang meledak. Bagaikan kepala yang di penggal namun dengan sisa sayatan tak beraturan.


“Tidak, tolong ada yang mati, tolong kapten ada serangan bom gaib!” teriak beberapa teman yang ada di samping pemuda yang kepalanya meledak dan sudah menggelepar bak ayam disembelih di lantai gubuk. Darah meluber membasahi lantai gubuk tersebut.


Selang dari ledakan pertama disusul ledakan-ledakan berikutnya. Membuat beberapa pemuda tumbang. Mati dengan cara kepala hancur karena bom gaib. Bahkan ada beberapa gubuk yang porak-poranda. Karena terlalu dahsyat daya ledak bom gaib yang di timbulkan.


“Sial kita kecolongan, serangan apa ini teramat cepat. Bahkan aku tak bisa memprediksi datangnya serangan. Kurang ajar bangsa siluman kalong itu, memang sungguh sangat licik mereka. Keluar, keluar kalian dari gubuk-gubuk cepat!” teriak Kapten Rafi segera memerintahkan teman-temannya untuk keluar gubuk agar menghindari jatuhnya banyak korban.


Walau semua pemuda sudah keluar dari dalam gubuk. Tetap saja ledakan-ledakan susulan terus bermunculan. Membuat satu-per satu pemuda kediri yang ada di atas pohon bambu berjatuhan dengan kondisi tubuh tak utuh sudah.


“Kapten Rafi apa yang harus kita lakukan. Sebenarnya berasal dari apa bom-bom gaib ini. Ledakan tetap saja terjadi walau kita di luar gubuk?” teriak salah satu pemuda yang masih selamat dari ledakan bom gaib dan tengah berdiri di atas pohon bambu yang tengah melengkung.


Rafi terdiam sejenak sambil memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan agar tak lagi ada korban akibat ledakan gaib. Tapi Rafi harus cepat berpikir dalam keadaan yang genting seperti ini. Sebab ledakan terus bermunculan dan membuat korban dari pemuda kediri terus bertambah.


Tiba-tiba Rafi terbang di depan hutan bambu yang begitu lebat. Merentangkan busurnya ke arah depan sambil menarik tali busur kencang-kencang. Lalu ia lepaskan tali busur begitu cepatnya. Namun tiada mengeluarkan satu anak panah pun yang keluar dari busurnya. Melainkan sebuah suara lengkingan keras bak suara nging dari pengeras suara yang rusak.


Suara itu membuat gelombang getar selaras dengan bentangan busur. Lalu meluas dengan daya cakup seluas tembok perbatasan Badas. Gelombang kejut dengan getaran magnitudo melengking keras. Akhirnya menyibak apa yang membuat ledakan-ledakan yang menghancurkan barisan pemuda Kediri di atas pohon bambu.


Ternyata ada ratusan kelelawar kecil yang terbang. Menuju ke arah hutan bambu dan mereka tersapu oleh getaran suara yang ditimbulkan oleh busur dari Rafi.


“Krak...!” tiba-tiba teriakan suara kelelawar terus berjatuhan hingga habis. Sampai-sampai kabut tersibak sejauh dua kilo meter akibat terpaan gelombang suara.


“Kau pikir kami sama dengan para pemuda Kediri puluhan tahun lalu yang pernah kalian bantai di tempat ini. Jangan melupakan era ini wahai bangsa kalong. Bahwa era ini adalah era level up jangan remehkan kami yang sekarang,” ucap Rafi masih tetap terbang dengan posisi berdiri di depan hutan bambu.


Saat kabut menyibak sejauh dua kilo meter. Ternyata di ujung kabut berdiri puluhan pasukan bangsa kalong sesungguhnya. Mereka di pimpin oleh Ratu yang sangat bengis dan licik dan gemar meminum darah segar manusia. Dialah Nyi Kalong berdiri paling depan di barisan bangsa Kalong.


“Pemuda itu rupanya pemimpin mereka, aku salah memperhitungkan Kediri. Aku mengira kekuatan mereka sama seperti puluhan tahun lalu. Ternyata TOH dari Jombang itu telang menyebar luas pengaruhnya. Sehingga kota-kota di sekitarnya menjadi begitu kuat. Mari pasukanku kita berpesta dan malam ini banyak darah segar di depan kita minumlah mereka,” ujar Nyi Kalong menandai serbuan besar-besaran dari bangsa kalong menuju para pemuda divisi atas.


“Pemuda kebanggaan kota Kediri dengarkan aku. Pegang erat bambu-bambu yang menjadi pijakan dan tumpuan kalian. Karena hanya beberapa dari kalian yang bisa terbang sepertiku. Kuatkan mental kalian yakinlah Sang Penguasa hidup ada dipihak kita. Karena hidup dan mati hannyalah atas kehendak-Nya. Lihatlah di depan kita itu puluhan setan kelelawar tengah menuju kemari dengan begitu cepat. Maka ambil pedang kalian, rentangkan busur-busur kalian dan lepaskan panah-panah api kalian,” koar Kapten Rafi.


“Siap Kapten!” teriak serentak seluruh divisi atas pemuda Kediri yang masih selamat dari ledakan. Melakukan posisi siap bertempur secara serentak.


“Takbir, takbir, takbir...!” teriak Rafi sebab melihat para pasukan siluman kalong sudah semakin dekat.


“Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,” teriakan takbir menyeluruh.