TOH Level Up

TOH Level Up
Robot yang menyerupai



“Sudahlah aku istirahat saja di sini sambil mendengarkan mp3. Elang juga pasti bisa mengatasi musuh-musuhnya. Kalau tidak begini kapan dia bisa menemukan sifat dewanya,” gerutu Wahyu yang sudah kembali menjadi wujud awal manusianya. Wahyu terlihat asyik rebahan di atas dua jok mobil bagian depan mobil Box.


Sedangkan Elang tengah berhadapan dengan manusia robot yang begitu mirip dengan Haji Jaka. Bahkan suara dan jurus-jurusnya begitu sama dengan Haji Jaka.


“Elang apa kau tak ingat denganku Pamanmu sendiri. Apa kamu akan tega melukai Pamanmu yang selama ini menjadi tandem emas Ayahmu sendiri?” ucap manusia robot mirip Haji Jaka.


“Aku sudah tahu semua dari Ayahku dan aku tak akan segan atau setengah hati lagi melawan kalian para robot. Sudah jangan banyak bicara mari kita selesaikan semua pagi ini,” ucap Elang begitu bernafsu untuk segera menghancurkan dan membinasakan semua robot.


“Sabar anak muda jangan terburu nafsu. Mari kita mulai dengan teknik paling bawah. Teknik api amarah milikku yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa ini,” ucap robot Haji Jaka yang mulai terbakar layaknya manusia terbakar. Namun tak sebenarnya terbalar, sebab programnya mengaktifkan teknik api amarah persis seperti teknik milik Haji Jaka.


“Teknik api amarah yang selalu aku mainkan sejak kecil. Jangan kau anggap remeh kami yang menaungi level up manusia robot!” teriak Elang berlari ke arah robot Haji Jaka.


Ternyata elang hewan langit pendamping sudah bersamanya. Bahkan kali ini elang bertransformasi selayaknya garuda. Setengah burung dan setengah manusia.


Ketika robot Haji Jaka menyemburkan api dari mulutnya. Seperti awal perkataannya kalau teknik api amarah yang digunakan sudah diprogram dan dimodifikasi sedemikian rupa.


Sehingga ia dapat menggunakan teknik api amarah sesuka hati. Bahkan bisa membuat bola api di tangannya. Dapat menyemburkan api dari mulutnya.


Ketika robot Haji Jaka menyemburkan api dari mulutnya. Hewan pendamping yang sebenarnya lahir bersama Elang di kandungan Ibu Sari. Menolak dengan kepakkan sayapnya. Sehingga api menyebar ke segala arah membuat robot-robot lain terbakar.


“Terima ini manusia robot sialan!” teriak Elang melayangkan pukulan besi yang diturunkan oleh Lurah Dava. Lurah Dava mendapatkan teknik pukulan besi dari Haji Kardi Ayahnya atau Kakek Elang.


Brak, brak, brak,


Beberapa pukulan saja robot Haji Jaka. Hancur menjadi beberapa bagian. Tampaknya di beberapa titik bagian robot Haji Jaka ada yang konslet.


“Sekali buatan manusia tetaplah buatan manusia. Walau bagaimana jua kau meniru kami, tetaplah kau hanya sebuah besi. Sedangkan kami ciptaan Sang Maha Pencipta dan kekuatan kami adalah kekuatan alam,” ujar Elang hendak mencari beberapa robot lain yang sekiranya kuat dan bertindak sebagai pemimpin di antara ratusan robot lain.


***


“Jangan harap aku melihatmu seperti Mbak Putri. Karena aku tahu benar Mbak Putri telah tiada!” ucap Ibu Sari mengibaskan selendangnya memanjang ke arah robot yang menyerupai Umi Putri istri mendiang Haji Jaka.


“Sungguh kau tak mengenali aku lagi Dek Sari. Padahal dahulu kita begitu akrab, apa kau lupa saat-saat kita bersama dahulu?” oceh robot yang menyerupai Putri. Mencoba membujuk rayu akan sifat kelemahan wanita yang selalu mengedepankan perasaan dan rasa iba dari Ibu Sari.


“Jangan kau banyak omong robot laknat. Kalian telah membantai seluruh keluarga kami. Bahkan kalian telah memusnahkan TOH era tua. Terima ini dan pagi ini akan aku selesaikan,” teriak Ibu Sari melontarkan panah api ke arah robot Umi Putri.


Jikalau tidak dari lontaran tangan besi robot Umi Putri. Tubuh Ibu Sari bisa hancur lebur tak karuan.


“Ibu Sari bukankah itu Umi Putri?” ucap Sekar yang baru datang setelah mengalahkan beberapa robot lain.


“Bukan Ndok Sekar, dia hannyalah manusia buatan yang diciptakan oleh Dokter Dono dan Mr. Toni saja. Memanglah sangat mirip dari cara bicara dan teknik-teknik berkelahinya. Tetapi jangan terkecoh dia hanya robot bukan asli,” jawab Ibu Sari.


“Mau kalian berdua atau bertiga maju saja. Lebih mudah bagiku untuk membantai kalian sekaligus,” celoteh robot Umi Putri yang telah mengembalikan tangannya utuh kembali.


Kali ini robot Umi Putri mengeluarkan sebuah pedang dari dalam telapak tangannya. Bahkan modifikasi tangannya sendiri menjadi setajam pedang.


“Bersiaplah kalian berdua manusia!” teriak robot Umi Putri berlari ke arah Ibu Sari dan Sekar.


Tetapi tiba-tiba robot Umi Putri terbelah menjadi beberapa bagian. Sama dengan robot Haji Jaka ada percikan api dan aliran listrik tanda sesuatu yang konslet di bagian tersebut.


Ternyata Paman Dwi Cahyadi dengan pedang cahaya kuningnya. Telah menebas dan melewati robot Umi Putri. Terlihat Paman Dwi Cahyadi kembali menjadi sosok awal manusianya. Setelah menggunakan teknik api kuning andalannya.


“Tak akan aku biarkan kau menyerupai istri dari adikku Jaka. Apa-apaan Putri seperti itu, tak ada sejarahnya Putri begitu beringas,” gerutu Paman Dwi Cahyadi membalikkan badan berjalan ke arah Ibu Sari dan Sekar.


“Paman Dwi terima kasih telah menghancurkan robot yang mirip Umi Putri itu,” ucap Sekar.


“Benar Mas, saya sempat tidak tega melawannya. Masih terbayang di mataku sosok Mbak Putri yang aku sayangi sebagai kakak sendiri,” timpal Ibu Sari.


“Kalian berdua di perang kali ini, jangan kalian terbawa suasana dahulu. Jangan kalian terbawa perasaan kerinduan akan orang dahulu yang sudah tiada. Memang kita sangat kehilangan, tetapi musuh memang menginginkan hal itu. Jika kita lengah akan rasa kasihan dan tak enak hati. Mereka akan menyerang dan bisa-bisa kita terbunuh,” ucap Paman Dwi Cahyadi.


“Benar kata Mas Dwi, tapi tak dipungkiri kerinduan akan Mbak Putri sangat besar di dada ini,” ucap Ibu Sari.


“Kalau demikian bertarunglah dengan berpasangan satu petarung dari kaum laki-laki. Agar saat perasaan itu ada dan kalian lengah. Ada yang mendampingi dan mengover kalian dan tak sampai terkena serangan. Sebab para robot dengan sekali serang langsung membunuh lawannya,” ucap Paman Dwi Cahyadi memberi saran.


“Baik Mas saran Mas akan kami laksanakan. Ayo Sekar kita ke tempat lain, kita habisi semua robot. Agar tidak ada lagi tersisa robot di masa depan yang akan mengganggu anak cucu kita,” ucap Ibu Sari pergi bersama sekar dengan cara menghilang seketika ke arah sisi lain dari peperangan yang masih terus berkecamuk.


“Wahyu aku tahu kau sedang beristirahat. Tapi aku mohon jika tiba waktunya gunakanlah teknik terlarang itu untuk hancurkan semua robot. Mereka semua divisi manusia dipihak kita sudah teramat kelelahan tentunya,” ucap Paman Dwi Cahyadi memberi kode pada Wahyu yang masih tertidut di dalam mobil Box.