
Brak, Duar,
Tubuh Kapten Evan terpelanting jauh sampai membentur tembok perbatasan desa Badas. Bahkan tembok yang menjadi tempat ia mendarat. Sampai hancur sehingga jebollah satu sisi tembok tersebut.
Kapten Evan rupanya masih sanggup berdiri dan melanjutkan pertempuran. Menggunakan pedang api miliknya, ia mencoba kembali menegakkan tubuhnya dengan susah payah.
“Sial! Tjueh, kenapa harus ada purnama merah darah di saat seperti ini. Kenapa juga hujan berhenti, lalu awan tersibak?” ujar Kapten Evan terengah-engah merasa kepayahan. Terlihat tubuhnya jua sudah penuh dengan darah dan sayatan. Akibat terkena cakar dari Raja siluman serigala.
“Sudahlah anak muda bangsa manusia. Menyerahlah dan akan aku persingkat kematianmu. Lalu aku berjanji kepadamu, tubuhmu akan aku biarkan utuh. Akan aku perintahkan prajuritku untuk tidak mendekati jasadmu. Bukankah itu cukup adil dan aku sangat menghargai lawanku yang kuat,” oceh Raja siluman manusia serigala yang sudah tepat berada di depan Kapten Evan.
“Bercanda kau Raja serigala, bukankah setan selalu berbohong dan mengingkari janjinya. Kalau setan menepati janji kami akan tetap tinggal di Surga bukan di bumi. Jangan kau menipuku aku bukanlah anak kecil seperti yang kau kira,” jawab Kapten Evan menolak permintaan Raja serigala agar Evan menyerah.
“Baiklah kalau memang itu maumu anak muda. Aku akan membunuhmu secara paksa dan tak akan memberi ampun pada seluruh pemuda di kota Kediri. Semua akan kami habisi, semua akan kami makan. Entah anak-anak, wanita mau pun orang dewasa,” celoteh Raja serigala mulai marah dan mengubah wujudnya semakin besar.
Rupanya Raja manusia serigala mendapat kekuatan tambahan dari sinar purnama merah darah yang tengah berlangsung. Membuat para manusia serigala semakin kuat berkali-kali lipat dari awal keluar. Bahkan sembilan belas anggota dari anggota dua puluh yang dipimpin Kapten Evan. Sangat kealahan melawan para prajurit manusia serigala.
“Teman-teman mari kita berkorban, kita gunakan formasi bulan sabit dengan aura api. Seperti yang sudah kita pelajari dari perkembangan mode api milik guru Haji Jaka,” ucap Kapten Evan berbicara pada sembilan belas anak buahnya melalui telepati.
Seketika sembilan belas anak buahnya tercengang mendengarkan pernyataan Kapten Evan. Bagaimana tidak tercengang, sebab formasi bulan sabit api merah. Sanggatlah membutuhkan banyak aura dan menyedot banyak tenaga.
Apalagi efek samping dari formasi ini sanggatlah fatal. Sebab latihan terakhir mereka membuat formasi bulan sabit. Ternyata malah memanggil sebuah bayangan dari malaikat maut. Entah itu yang sebenarnya atau bukan.
Tetapi yang benar mereka tahu konsekuensi dari formasi bulan sabit merah. Mereka harus mengorbankan jiwa mereka melayang. Sebab kehilangan seluruh aura hidup dari dalam tubuh yang tersedot penuh bersama aura dan tenaga pada formasi yang terbentuk.
“Tapi Kapten Rafi, bukankah sangat berbahaya menggunakan formasi ini. Apa tidak ada cara lain untuk mengalahkan para siluman serigala itu?” ucap salah satu anak buah dari Kapten Evan yang berada tak jauh darinya.
“Waktunya sudah tak banyak dan lihatlah. Bahkan tembok perbatasan sudah jebol, mungkin kita tidak mampu bertahan sampai fajar tiba. Lebih baik kita berkorban dan semoga Allah menerima amal serta ibadah kita sewaktu kita masih hidup,” jawab Kapten Evan.
“Tapi Kapten...!” ucap salah satu anggota Evan yang satunya lagi dan hendak mendekat tapi disetop oleh Evan dengan tangannya. Melalui kode tangan untuk jangan mendekat.
“Baik Kapten...!” teriak seluruh anggota dua puluh. Melakukan satu hal yang sama seperti Kapten Evan.
Lalu secara gaib tiba-tiba ada sebuah lilin-lilin muncul secara misterius. Memenuhi formasi bulan sabit dari anggota dua puluh. Ke semua lilin menyala api kecil di atas sumbunya. Formasi itu benar-benar selayaknya bulan sabit merah. Mulai mengurung puluhan manusia serigala di dalamnya. Selayaknya sebuah formasi pengorbanan.
Perlahan dari dalam tanah muncul bayangan besar gelap dan hitam beraura menyeramkan. Tangannya begitu besar segera mencakup seluruh pasukan manusia serigala lalu menanamnya ke dalam tanah.
Betapa tercengang Raja manusia Serigala. Melihat formasi para pemuda Kediri yang bahkan belum pernah sama sekali ada selama sejarah perang lima kota. Bahkan para pemuda Jombang tidak dapat melakukannya.
Sebab teknik ini tercipta oleh modifikasi para pemuda divisi dua puluh dari perpanjangan teknik api amarah milik Haji Jaka. Tapi efek samping terbesarnya adalah aura kehidupan kedua puluh pemuda tersebut padam. Dalam kata lain mereka harus mengorbankan diri mereka sendiri untuk membentuk formasi bulan sabit merah.
Huek, tjueh,
Salah satu pemuda mulai memuntahkan darah. Pertanda jantungnya sudah hancur akibat terlalu banyak mengeluarkan aura dan tenaga. Lalu berurutan mereka mulai memuntahkan darah dan jatuh satu-per satu. Seiring habisnya pasukan para manusia serigala.
Kali ini tinggallah satu lawan satu dari kedua kubu. Satu pemuda Kapten Evan dan Raja manusia serigala yang masih hidup tetapi wujudnya sudah mengecil kembali. Akibat efek dari formasi bulan sabit merah.
“Hahaha, memang kalian sudah berhasil memusnahkan para prajuritku. Tetapi kau gagal membunuhku Kapten Evan dan lihatlah anak buahmu semua sudah mati dan kau juga sudah kehabisan tenaga serta aura. Sedangkan aku lihatlah, hanya wujudku yang mengecil. Tapi tenagaku masih tersisa, sekarang apa lagi yang akan kau lakukan?” ujar manusia Serigala yang sedang menerkam kepala Evan.
Membuat tubuh Evan yang sudah lemas mulai terangkat ke atas tanah. Tampak Raja manusia serigala begitu puas dan merasa sudah menang atas kelompok dua puluh. Raja manusia serigala menganggap kalau ia mampu mengalahkan anggota dua puluh. Berarti dapat mengalahkan seluruh kota Kediri. Sebab merekalah yang paling kuat.
“Walau kau dapat membinasakan pasukan dua puluh dan mungkin aku akan mati malam ini. Tetapi ingatlah perkataanku, dimanah ada kelaliman setan di situlah. Anak muda-anak muda seperti kami akan selalu ada untuk melawanmu,” ujar Kapten Evan sudah mulai pasrah.
“Baiklah akan aku kabulkan permintaanmu anak muda,” jawab Raja manusia serigala mulai memanjangkan kukku-kukuknya. Lalu mulai menusukkan tangannya ke dada Evan hingga tembus ke punggung belakang. Membuat Evan mulai muntah darah kembali.
Bahkan darah segar mengucur deras dari jari-jari Raja manusia serigala yang menembus dada Evan. Rupanya Evan sudah tidak bergerak sama sekali.
“Dasar manusia, bahkan mati dengan cara mengenaskan masih tersenyum di saat-saat terakhirnya,” oceh Raja manusia serigala melemparkan tubuh Kapten Evan begitu keras ke arah tembok perbatasan desa Badas dan akibat benturan tubuh Evan tembok kembali jebol.