
Sementara itu disalah satu ruangan di barak hitam area hutan Pangklungan di kecamatan Wonosalam. Sebenarnya Haji Jaka belum mati dan tentu seorang pemimpin pusat lima kota tak akan mati semudah itu.
Tetapi Dokter Dono memang sangat cerdik dan licik. Dia menciptakan serum khusus untuk mengunci kekuatan gaib sebesar apa pun jua. Saat serum tersebut disuntikkan ke dalam tubuh seorang petarung.
Tentu petarung yang disuntik dengan serum tersebut akan merasa lemas. Tidak memiliki daya dan tenaga, bahkan auranya seakan hampir memudar cenderung sangat tipis.
Haji Jaka kini tengah di ikat di satu tiang dengan ikatan tali serat jiwa. Sebuah tali jerat pengunci tubuh dab ruh. Sehingga para petarung yang terjerat tali semacam ini tidak mampu berkutik jua.
“Haji Jaka, Haji Jaka, bagaimana rasanya telah dikalahkan oleh bangsa setan? Apa menyenangkan bagimu. Hem aku rasa tidak seperti itu, jangan melotot padaku. Memang benar aku yang membunuh Lurah Dava dan istrinya dan istrimu. Aku yang merancang semuanya asal kau tahu,” ujar Dokter Dono berdiri di hadapan Haji Jaka yang tengah terikat.
“Kau, kau Dokter Dono, mengapa kau begitu tega melakukan semua ini. Bukankah kau juga dari ras kami manusia? Setega itu kau dengan bangsamu. Berapa kau dibayar untuk menciptakan kehancuran kali ini?” tanya Haji Jaka tampak tak percaya kalau dalang di dalam semua peristiwa malam ini adalah Dokter Dono.
“Aku memang dibayar, ya memang aku dibayar. Bahkan bayaranku bisa untuk membeli dua atau tiga kota seperti kotamu Jombang beriman. Alias bersih indah dan nyaman tercinta ini,” jawab Dokter Dono menyunggingkan bibir. Begitu dekat dengan wajah Haji Jaka untuk mengejeknya.
“Kau sungguh setan berkedok manusia. Kau memang manusia berkepala iblis, bahkan kau tega menyiksa Putri dan Sari sebelum membunuhnya,” ucap Haji Jaka mengumpat pada Dokter Dono.
“Hahaha, sekarang kau bisa apa Pak Haji? Bahkan kau sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar mengangkat tanganmu Haji. Jangan sombong kau sekarang bahkan kau tidak tahu sejatinya siapa aku sebenarnya,” ucap Dokter Dono mengeluarkan sebilah pisau dari kantong seragam dokternya bagian dalam.
“Jangan terlalu kasar Pak Dokter. Coba lihatlah ini aku bawakan oleh-oleh untukmu. Oh iya Paman Haji, aku rasa masih membekas rasa kenikmatan dari tubuh Ibuku sendiri Ibu Sari,” ujar Bayi setan menyindir Haji Jaka. Mengingatkan bahwa ia telah memaksa Ibu Sari yang sejatinya Ibu kandungnya sendiri.
Memaksa untuk melayani nafsu bejatnya, lalu membunuhnya. Terlihat Bayi setan datang dengan sepuluh anak buahnya membawa dua buah karung.
Satu karung berisi tubuh dari Ibu Sari yang sudah di potong-potong. Satu karung lagi berisi tubuh Lurah Dava yang sudah di potong kepalanya.
Tampak Bayi setan mengulurkan dua buah karung tersebut pada Dokter Dono. Setelah menerima dua kantong tersebut. Dokter Dono melempar dua kantong keresek besar dengan bahan anti bakar dan telah dibacakan mantra pelindung tersebut ke arah lubang besar di salah satu sisi bungker.
Dimanah di dalam lubang tersebut telah tertumpuk dengan jumlah banyak kantong-kantong plastik besar. Tentu jua berisi jasad-jasad para pendekar dan tetua TOH.
“Aku memang setan, dari dahulu aku memang setan dan dia adalah Ayahku. Karena kesalahan kalian pula aku terlahir beberapa tahun lalu. Karena kalian aku harus lahir ke dunia yang bobrok penuh tipu daya ini, bukan salahku bila aku menuntut balas atas perlakuan kalian,” ujar Bayi setan setelah menunjuk Adhiyaksa yang ternyata sudah berada di sana. Lalu mulai mengeluarkan pisau beraura setan dari dalam kantongnya.
“Kalian tidak akan semudah itu membunuhku. Ingatlah kalian para setan dan para manusia yang diperbudak oleh setan. Suatu hari nanti entah dua atau tiga tahun lagi. Kalian akan binasa kembali dengan mudah oleh para pemuda kami. Bahkan saat hari itu tiba kalian tak akan sempat untuk menolak bahwa derajat kalian para setan lebih rendah dari manusia,” ucap Haji Jaka.
“Mengumpatlah, berteriaklah, celalah kami sepuas hatimu Pak Haji. Kali ini kami masih memberimu waktu setidaknya untuk mencemooh kami sepuas hatimu. Sebelum pada akhirnya kau kami binasakan seperti keluargamu. Seperti anak buah dan bawahan dan teman dan rekan-rekanmu di bawah lubang itu,” ujar Dokter Dono menancapkan pisau kecil di perut Haji Jaka.
Cres,
Darah Haji Jaka mulai mengucur dari tancapan pisau. Ternyata Dokter Dono sudah menyiapkan bejana untuk menampung darah Haji Jaka tersebut.
“Kalau masa itu datang, tentu dipihak setan ada kelompok kami yang saya pimpin sendiri. Tentu kau sudah pernah melihat labirin hebatku bukan,” ujar Sultonnirojim datang dari sisi gelap membawa gergaji besi. Menyalakannya dan seketika menebas kaki kanan Haji Jaka.
“Argtz, Argtz, apa sebenarnya yang kalian harapkan dari kematian kami. Apa yang kalian harapkan dari kehancuran kota Jombang?” ucap Haji Jaka sambil merintih kesakitan.
“Ada seorang miliarder dari kota Surabaya. Bahkan dia lebih kejam, lebih beringas dan licik, bahkan dia lebih rakus serta lebih iblis dari pada kami. Dia memberi kami dana yang tak terhingga. Hanya untuk kota Jombangmu ini, hanya untuk memiliki satu kota bernama Jombangmu ini,” ujar Dokter Dono.
“Biar aku perjelas kami ditugaskan untuk membuat sebuah kerajinan tangan. Sebut saja demikian untuk manusia buatan yang akan kami buat menyerupai kalian. Menyerupai bentuk rupa dan kekuatan bahkan aura gaib kalian. Maka dari itu kami membutuhkan tubuh kalian sebagai bahan bakunya. Maka dari itu kami membunuhi kalian satu demi satu,” timpal Dokter Dono kembali mengambil satu pisau dari saku dalam jubah kebesaran dokternya.
“Karena selama ini saya dan para Dokter di bawah naungan saya. Selalu menderita dengan finansial yang seadanya. Bahkan bisa dibilang di bawah standar. Kami iri dengan kalian yang hidup dengan berkecukupan. Lalu ada orang menawarkan proyek ini pada kami. Lalu kenapa tidak kami terima dan kami akan membangun dinasti baru. Sebuah peradaban baru pengganti manusia. Sebuah peradaban manusia buatan yang kami ciptakan,” ujar Dokter Dono.
Sekaligus menancapkan belati yang ia genggam. Menancapkannya tepat di dada kiri Haji Jaka. Pas kena area jantung Haji Jaka dan jantung Haji Jaka berhenti berdetak jua.
“Mati kau Haji Jaka sang pemimpin lima kota. Kita menang wahai para setan, hahaha,” teriak Dokter Dono sambil tertawa terbahak-bahak.