
Ternyata Raja pohon setan memang bisa kembali beregenerasi. Walau telah dihancurkan beberapa kali oleh Komandan Saprol. Tetap saja Raja pohon setan dapat kembali lagi utuh seperti semula.
Walau batang dan akarnya terpecah menjadi beberapa bagian. Hingga batangnya menjadi begitu kecil-kecil. Nyatanya bagian-bagian itu dapat kembali menyatu menjadi bagian utuh.
“Ada apa anak muda? Jangankan kau dari generasi era level up yang menurutku sangat lemah. Pemimpin utama generasi era tua saja tak mampu membinasakan aku. Dia yang kalian sebut Haji Jaka itu hanya mampu menyegel kami. Bukan membunuh atau membinasakan kaum kami,” oceh Raja pohon setan yang tengah membentuk dan menyatukan kembali bagian tubuhnya yang hancur.
“Ah sial! Apa lagi aku hanya bisa memanggil makhluk kesatria petir sekali. Setelah penyerangan dia akan hilang kembali. Rupanya kekhawatiran Wahyu kemarin ada benarnya. Bahwa Wahyu berkata jangan sampai kalah dan berhati-hati akan kelicikan bangsa kaum pohon setan,” gerutu Komandan Saprol.
“Sudahlah kalau kau sudah kehabisan ide untuk melawanku. Biar aku yang menyerang, bergantian dong masak kamu saja yang menyerang,” timpal Raja pohon setan.
Tampak Raja pohon setan mengangkat dua akarnya. Bagaikan kaki yang dapat memanjang. Akar tersebut terus mengejar Saprol yang terus melompat menghindarinya.
“Kenapa kau hanya menghindar anak muda. Kenapa tidak kau potong saja akarku? Atau kau sudah tidak mampu memotong akarku. Lihatlah pedang tanahmu sudah tidak ada petirnya,” ucap Raja pohon setan mulai mengejek Saprol.
Saprol terlihat masih melompat menghindari serangan akar dari Raja pohon setan. Wajahnya tampak berpikir keras untuk mengalahkan Raja pohon setan. Sebab legendanya jikalau Raja pohon setan mati. Maka pohon setan yang lain jua akan ikut mati.
“Saprol mereka tidak bisa di bunuh. Kita harus bagaimana lagi?” teriak salah satu anak buahnya yang terus melawan salah satu pohon setan di depannya bersama para anggota yang lain.
Sebab seluruh anggota pohon setan rupanya memiliki keahlian yang sama. Bahkan keahlian mereka seakan bergantung sama Raja pohon setan.
“Aku punya ide, kalian jangan terfokus pada pohonnya saja. Cari akar pusat mereka lalu potong. Aku amati dari akar pusat Raja pohon. Mereka saling sambung-menyambung, sehingga semua pohon setan mempunyai keahlian yang sama,” teriak Saprol memberi tahu strategi rekan-rekannya.
“Baik Komandan kami mengerti!” teriak beberapa rekannya mulai mencari akar pusat dari bangsa pohon setan.
“Rupanya kau cerdas juga anak muda. Belum sekali pun manusia yang melawanku. Menyadari akan satu hal ini, walau di era tua. Mereka tiada menyadari akar pusat yang kau maksudkan itu. Tetapi jangan kau bangga akan pengetahuan dan kecerdasanmu anak muda. Kami jua tak akan tinggal diam, anak-anak sembunyikan akar utama kalian,” balas Raja pohon setan berteriak kepada seluruh bangsanya.
Tapi rupanya kelompok pemuda Majapahit sudah sangat terlatih. Beberapa dari mereka dapat menemukan posisi akar utama yang menyambungkan pohon setan satu dengan pohon setan yang lain hingga sambung pada Raja pohon setan.
“Komandan berhasil, kami berhasil memotong akar utama mereka,” teriak beberapa rekan Saprol.
“Bagus! Incar juga wajahnya kawan-kawan. Karena kelemahan mereka hanya pada wajahnya,” teriak Saprol memberitahu rekan-rekannya akan kelemahan bangsa pohon setan.
“Baik Komandan laksanakan,” teriak para pasukan pemuda Majapahit serempak menyasar wajah pohon setan yang mereka lawan.
“Lihatlah Sang Raja pohon setan, lihatlah kami bisa memusnahkan pasukanmu dengan kecerdikan kami,” kata Saprol yang masih menghindari akar dari Raja pohon setan dan Raja pohon setan jua masih menyerangnya.
“Jangan kau jemawa dahulu anak muda. Jangan kau terlalu menyombongkan kecerdasanmu wahai pemimpin anak muda manusia. Lihatlah di sekelilingmu Komandan mereka tumbuh kembali. Teknik regenerasiku bukan hanya untukku sendiri. Aku juga dapat menciptakan pasukanku berulang-ulang kali. Walau mereka kalian binasakan berkali-kali. Aku dapat menumbuhkannya kembali,” ucap Raja pohon setan.
Betapa tidak terkejut Komandan Saprol melihatnya. Bahkan pasukan pohon setan dapat kembali tumbuh selayaknya pohon yang bertunas kembali.
Lalu setiap tunas yang muncul begitu cepat menjadi besar. Sehingga pasukan pohon setan kembali hidup, bahkan bertambah banyak.
“Apa-apaan ini? Hati-hati woi. Mereka kembali hidup bagai tanaman yang baru saja bertunas. Kenapa jua mereka tumbuh begitu cepat?” teriak salah satu rekan Saprol yang begitu kebingungan dengan keadaan di sekitarnya.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan anak manusia? Ayolah bukankah kau mengaku paling cerdas dari kaummu. Apa kau kehilangan akal untuk melawan kami?” kata Raja pohon setan yang kini rupanya mulai serius.
Badan dari pohon setan mulai menghitam seolah membatu. Lama-lama mulai mengeras bagaikan sebuah pohon yang berusia ribuan tahun dan sudahlah terpendam di lapisan bumi dan sudah menjadi fosil. Serta beraura gelap begitu menyeramkan.
“Baiklah sebaiknya aku coba dahulu. Apa salahnya kalau tidak mencoba dahulu. Bersiaplah Raja pohon setan dan kali ini pedangku tidak akan aku selimuti petir lagi. Tetapi akan aku selimuti api dari puncak gunung welirang. Sebab pedangku ditempa di sana, bersiaplah,” ucap Saprol melompat sambil menghunjamkan pedangnya ke arah wajah Raja pohon setan. Pedangnya jua kini telah membara, bagai api dari lava puncak gunung welirang.
“Ah sudahlah kau dibilangi tetap saja membandel anak kecil. Sebaiknya aku bunuh saja kau secepatnya,” ujar Raja pohon setan yang malah memegang tubuh Saprol dengan satu batangnya yang seolah menjadi tangan.
“Woi Setan durjana jangan kau congkak atas kekebalan tubuhmu!” tiba-tiba Elang melompat tepat di depan wajah Raja pohon setan. Elang jua berhasil dengan telak menancapkan pedangnya pas di tengah mata Raja pohon setan.
“Argtz, Elang anak Lurah Dava, ternyata benar kata bangsa setan yang lain. Berhati-hatilah dengan dua anak muda keturunan pasangan emas TOH era tua. Kau memiliki teleportasi cepat seperti para pemimpin era tua dahulu, kurang ajar!” oceh Raja pohon setan yang kali ini terbakar habis menjadi abu.
“Elang kau di sini? Alhamdulillah kami tertolong. Terima kasih sudah menyempatkan untuk mengontrol perbatasan,” ucap Elang kembali menghilangkan pedangnya.
“Semua kita segera bergerak ke tengah kota Jombang. Malam ini kita wujudkan kedamaian seluruhnya di lima kota. Sebab bila kota Jombang hancur, sudah barang tentu kota lain di sekitarnya akan segera hancur,” teriak Saprol memberi komando kembali pada rekan-rekannya.
“Baik Komandan Saprol!” teriak seluruh pasukan pemuda Majapahit.
“Baik Mas Saprol saya akan menuju perbatasan utara. Tampaknya ada pembantaian di sana, semoga bukan manusia yang tengah di bantai,” ucap Elang tiba-tiba menghilang.