
“Apa-apaan ini? Sudah aku bilang bukan untuk cepat menuruni tebing,” gerutu Saprol bergegas naik kembali ke atas tebing.
Saat Saprol dan beberapa rekannya dari kelompok pemuda Majapahit. Kembali ke atas tebing semua sudah terlambat. Beberapa rekannya yang semula ada di atas tebing. Menunggu giliran untuk segera menuruni tebing.
Habis terbantai dengan cara mengenaskan oleh bangsa setan pohon. Bahkan masih ada satu dua yang setengah sadar. Tapi sudah tinggal separuh badan dan tengah dimakan salah satu bangsa pohon setan.
“Haik, Ehm, lumayan daging muda dapat untuk mengganjal perut yang lapar. Apalagi sejak puluhan tahun lalu kita tertidur dari kunci segel Jaka pemimpin kota Jombang itu,” ucap salah satu pohon setan yang masih menjilati tulang bekas memakan satu pemuda Majapahit.
“Woi pohon setan! Kau sudah mengganggu perjalanan kami. Padahal kami sudah menghindari konflik dengan kalian. Padahal kami sudah sangat berhati-hati dan tak ingin mengganggu kalian. Kali ini aku tak akan mengampuni kalian semua,” teriak Saprol mengeluarkan sebuah pedang yang terbuat dari tanah berselimut petir.
“Haha, pedang tanah berkekuatan petir. Hay anak manusia, apa kau tidak melihat kalau kami ini kayu dan berusia ratusan tahun. Mana mempan pedang mainan seperti itu pada kami,” cela salah satu pohon setan yang kebetulan tepat berada di depan Saprol dan yang lainnya.
“Teman-teman kelemahan bangsa pohon setan adalah pada wajahnya. Maka dari itu incar wajah-wajah mereka yang buruk rupa tersebut. Jangan lupa bergerak secepat mungkin agar tidak tertangkap oleh akar-akar mereka. Kita lakukan secepat mungkin agar kita sampai di tengah kota Jombang lebih awal. Tugas kita hanya membersihkan penghalang di setiap kita lewat menuju tengah kota Jombang,” ucap Saprol memberi arahan pada rekan-rekannya.
“Baik Mas Saprol mari kita lakukan,” ucap beberapa rekan Saprol dari kelompok pemuda Majapahit. Serempak mereka mengeluarkan pedang tanah berselimut petir dari sarungnya.
“Serang...!” teriak Saprol memberi komando serangan.
Seketika beberapa pejuang dari anggota pemuda Majapahit. Melesat cepat ke arah beberapa pohon setan yang ada di depan mereka.
Tetapi para bangsa pohon setan tidak tinggal diam. Mereka menggunakan akar-akar mereka untuk menghalau para pemuda Majapahit yang menyerang.
Sehingga para pemuda Majapahit yang mencoba berlari cepat ke atas-atas pohon setan agak kesulitan. Sebab mereka harus pula menghindari sabetan akar-akar dari pohon setan yang hendak mereka naiki.
Melihat para rekan yang ia pimpin tengah kesulitan. Saprol dengan cepat mengambil tindakan. Saprol berlari secara tak beraturan sambil terus memotong akar-akar pohon setan.
Sehingga rekan-rekannya dapat mencapai atas pohon setan. Lalu mereka menancapkan pedang tanah berselimut petir mereka ke arah wajah-wajah pohon setan. Seketika beberapa pohon setan ambruk dan hancur seketika.
Melihat banyak pohon setan yang ambruk lalu hancur. Raja pohon setan tampak geram dan begitu marah. Sehingga ia mengeluarkan kibasan akar dari akarnya yang begitu besar.
Saprol hanya tersenyum dan terus berlari maju ke arah raja dari pohon setan. Pedang tanah berselimut petir dari kelompok pemuda Majapahit. Memang tidak bisa dianggap remeh, bahkan ketajamannya sepadan dengan pedang petir milik Halilintar.
Bahkan Saprol dapat memotong beberapa akar besar dari raja pohon setan yang terkenal tak mempan untuk di tebas oleh senjata apa pun. Tetapi yang dibawa oleh Saprol bukanlah pedang tanah sembarangan.
Tapi yang dihadapinya kali ini adalah raja dari bangsa pohon setan. Raja bangsa pohon setan dapat beregenerasi dan menumbuhkan kembali di bagian batang atau akarnya yang di tebas oleh lawan-lawannya.
“Hahaha, seberapa sering pun kau menebas akar atau batangku. Aku akan dapat menumbuhkan kembali dengan cepat. Percuma saja kau berusaha memotong bagian tubuhku,” ucap Raja pohon setan.
“Sial rupanya legenda raja pohon setan itu nyata. Pantas Wahyu selalu mengingatkanku untuk berhati-hati dengan bangsa pohon setan jika melintas di bukit ini. Tapi mau bagaimana lagi hanya jalan ini satu-satunya jalan pintas terdekat menuju kota Jombang,” gerutu Saprol sambil berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menebas raja pohon setan.
“Ada apa anak muda, apa kau sudah kehabisan akal untuk melawanku. Ayolah tunjukkan kekuatan pemuda Majapahit yang terkenal seantero kota Mojokerto itu,” kelakar Raja bangsa pohon mulai mengintimidasi Saprol.
“Ets, jangan sedih pohon setan. Kita coba teknikku yang satu ini, tapi jangan kaget jikalau kau akan hancur lebur seketika,” timpal Saprol mulai memperagakan teknik pemanggilan arwah. Tetapi kali ini berbeda dari teknik pemanggilan pada umumnya.
Setelah membuat segel tangan teknik pemanggilan. Saprol tidak menepakkan telapak tangannya ke atas tanah. Tetapi Saprol malah mengarahkan telapak tangannya ke atas langit.
Lalu dari telapak tangannya keluar guratan-guratan aliran listrik serupa petir. Muncullah secara terus menerus aliran listrik berwarna biru dari balik awan. Terbentuklah sesosok gaib dari aliran listrik berwujud petir. Sosok legenda pendekar petir dari langit telah dihadirkan oleh Saprol.
“Mari sahabatku kita hancurkan bangsa pohon setan. Kita ubah sejarah ratusan tahun di mana bangsa pohon setan tiada bisa dimusnahkan dan hanya bisa disegel. Tetapi di era level up ini sungguh berbeda. Kami para petarung kesatria gaib level up. Akan membinasakan kalian semua setan durjana,” teriak Saprol segera melompat hendak menghunuskan pedangnya ke arah wajah raja pohon setan.
Searah dengan Saprol kesatria gaib terbentuk dari petir yang dipanggil oleh Saprol. Mengikuti gerakan yang sama dengan Saprol melayang di atas Saprol. Menghunuskan pedangnya ke arah Raja pohon setan.
Tar, tiar, dar,
Benturan antara petir dan pohon terjadi sudah. Raja pohon setan berantakan sudah terbelah menjadi berkeping-keping. Bahkan sisa-sisa dari pecahannya hangus terbakar.
Tetapi ada yang aneh dari semua pecahan batang Raja pohon setan. Walau gosong tidak tercium bau terbakar sama sekali. Hal ini tidak biasa bagi para setan yang hancur terbakar yang selalu tercium bau gosong di sisa terbakarnya.
“Kenapa tidak berbau, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Saprol penasaran akan apa yang terjadi pada Raja pohon setan.
Bahkan batang-batang yang berserakan dari tubuh Raja pohon setan masih utuh dan tak menjadi abu. Seperti selayaknya para setan yang terbakar setelah menerima serangan para pejuang manusia.
“Ada apa Komandan Saprol murid Haji Hadi dati kota Mojokerto. Apa kau kebingungan akan satu hal yang baru, yang baru saja kau temui. Sudah dari awal aku bilang aku bisa beregenerasi. Kau masih saja ingin menghancurkanku, lihatlah aku bisa kembali,” ucap suara Raja pohon setan.