TOH Level Up

TOH Level Up
Pernyataan perang tersantai



Seperti biasa Mbah Raji tengah asyik menikmati musik-musik lawas di emperan gubuk miliknya. Duduk sila di atas ranjang bambu kecil ditemani radio usang dengan suara agak kumeresek hampir rusak.


Seperti biasa kopi hitam satu cangkir sedikit gula. Telah tersaji dengan uap yang masih mengebul dari dalam cangkir. Lalu racikan tembakau dan cengkeh dibalut kertas buatan pabrik bertuliskan nama klobot. Telah terbentuk rapi diselipkan di antara jari tengah dan telunjuk.


“Malam kali ini memang beda ya. Mungkin aku akan mengucapkan perpisahan pada kota ini tanpa secara langsung malam ini,” seakan firasat telah datang lebih dahulu pada Mbah Raji. Seperti biasa gerutu Mbah Raji walau tengah sendiri tetap memberi teka-teki.


Satu tegukan kopi hitam panas telah meluncur bebas di tenggorokan tua Mbah Raji. Asap cerutu Jawa buatannya sendiri telah terbakar pada ujungnya dan telah terbubung tinggi asapnya dari bibir keriput Mbah Raji menuju angkasa bebas.


“Hehehe, tidak bisa kah kau mengucapkan salam saat bertamu. Apalagi kau bertamu ke gubuk tua dengan pemiliknya yang tua renta sepertiku ini Dokter?” Rupanya Mbah Raji sudah mengetahui kedatangan tamunya kali ini. Kedatangan satu sosok berbaju dengan seragam putih milik kedokteran melekat di badannya.


“Rupanya kau sudah mengetahui kedatanganku Kakek tua. Berarti kau sudah siap untuk menghadapi malam ini?” begitulah ucap sosok Dokter tanpa berbasa-basi dan langsung mengutarakan maksud tujuan bertamu. Tapi tetap saja dengan kata-kata tersirat yang penuh arti.


“Hehehe, aku dari kemarin, bahkan dari tahun lalu atau bahkan dari beberapa tahun lalu. Sudah menunggu saat-saat seperti malam ini. Aku ini sudah begitu tua dan sudah teramat lelah malang melintang di dunia persilatan gaib lima kota. Tapi jangan harap kau akan memenuhi hasratmu dengan rencana besarmu di masa depan itu dengan mulus Dokter,” kekeh tawa renyah dengan gigi ompong Mbah Raji mulai terlihat dari sorot lampu templek bergaya lama di depan ia duduk.


“Tapi aku membawa lima raja gaib dari bangsa setan ke mari. Apa itu tidak cukup berarti untuk menandingi kemasyhuran dan kehebatan guru besar TOH sepertimu?” Si Dokter yang masih berdiri di depan ranjang terlihat membawa lima sosok gelap dengan rupa dan wujud yang sangat aneh. Hanya satu sosok kecil dari kelima raja gaib yang disebutkan berbentuk utuh manusia, tetapi berjiwa setan.


“Rupanya kau juga membangunkan keponakanku ya? He Nak keponakanku. Kenapa kau sudi dibangunkan kembali oleh Dokter gila ini. Apa Ibumu Sari tahu akan kedatanganmu di kota ini. Bagaimana pun bentuk, sifat, rupa dan wujudmu. Kau pernah ada di kandungan istri Lurah Dava itu. Seorang Ibu pasti selalu memiliki kontak batin dengan anaknya,” ucap Mbah Raji sambil kembali membuat asap dari bibirnya hasil dari satu hisap rokok tradisional buatannya.


“Kakek tua aku sudah melupakannya, aku sudah lupa pernah punya Ibu. Bahkan aku ingin membalas dendam pada kalian para manusia. Karena kalian semualah aku jadi terlahir ke alam ini dengan tubuh manusia kerdil yang menjijikkan ini,” jawab salah satu raja setan yang bergelar bayi setan.


“Dasar anak durhaka, lalu Dokter mau apa lagi. Silakan dimulai aktivitasmu, bukankah kau ke mari untuk membawaku hidup atau mati. Kenapa kau dan boneka-boneka iblismu hanya diam saja?” ujar Mbah Raji malah menantang Dokter yang membawa lima raja setan.


“Hahaha, aku tak akan terburu-buru Kakek tua. Aku bukan mereka para anak muda yang selalu terburu nafsu akan sesuatu hal. Kita santai dahulu biarkan malam sampai pada tengah-tengahnya dahulu. Kita berunding dahulu bagaimana kita akan berperang kali ini. Sebab rencanaku akan membantai kalian semua sampai habis pada akar-akarnya,” ujar Si Dokter malah ikut duduk bersila di depan Mbah Raji.


“Jadi kau berkunjung ke gubuk reotku ini selain ingin menculikku. Kau juga hendak menyatakan perang pada manusia hai manusia setengah iblis,” timpal Mbah Raji mendekatkan secangkir kopi hitam pada sosok Dokter di depannya.


“Bisa juga di katakan seperti demikian Kakek tua. Sebab ada manusia serakah yang ingin menguasai kotamu dan hendak membuat manusia di kotamu sebagai percobaannya. Bahkan aku sudah diberi dana besar untuk proyek maha besar kali ini,” ujar Si Dokter menuangkan seduhan kopi hitam di atas lepek kecil.


Tiba-tiba ada tiga sosok lain yang datang di belakang Mbah Raji. Mereka adalah Haji Jaka, Lurah Dava dan Pak Bupati Bagus. Mereka adalah tiga tokoh sentral TOH. Jua tiga titik sentral kekuatan era saat ini pelindung gaib kota Jombang.


“Assalamualaikum Mbah Raji, ada apa orang ini datang berkunjung ke rumah Mbah. Apa maksud dan tujuannya datang ke mari. Bahkan ada lima Raja setan yang telah kami segel di belakangnya?” tanya Haji Jaka yang duduk pas di samping kanan Mbah Raji dan Lurah Dava serta Pak Bupati Bagus duduk bersila di belakang Mbah Raji.


“Eh kalian ternyata ke mari juga dan semua ini persis seperti apa yang ada dalam firasat mimpi saya setahun lalu. Berarti semua ini sudah tidak bisa dicegah dan memang sudah takdir kita?” ujar Mbah Raji malah memberi kata isyarat dengan penuh teka-teki pada pertanyaan Haji Jaka.


“Maksud Mbah Raji apa? Kami ke mari karena menangkap sinyal gaib beraura negatif yang sangat hitam dan pekat. Maka dari itu kami bertiga langsung datang ke mari,” jawab Lurah Dava agak bingung dengan kata-kata Mbah Raji.


“Memang benar mimpiku dahulu bersambung dengan firasatku setahun yang lalu sama. Kalian bertiga memang datang ke mari dan sosok Dokter dengan lima jin raja peliharaannya jua ada di depan kita,” ucap Mbah Raji menghisap rokoknya, tapi kali ini agak tergopoh-gopoh.


“Maksud Mbah bagaimana aku jua tak memahami kata-kata Mbah kali ini?” kali ini Pak Bupati Bagus yang bertanya atas ke tidak pahamnya.


“Hahaha, Kakek tua guru besar kalian memang sangat sakti. Kakek tua ini ternyata memang begitu sakti. Bahkan dia tahu sebelum orang sakti-sakti pemimpin kota seperti kalian bertiga tahu. Biar aku yang menjelaskan Mbah. Kami memang sengaja memancing kalian bertiga ke mari. Tanpa kalian sadari dan mungkin para manusia dukun berkedok kebaikan itu. Kali ini sudah menikmati tubuh indah istri-istri kalian di kamar kalian,” kelakar Si Dokter tertawa lepas penuh rasa kemenangan dan rasa berhasil memancing tiga tokoh utama TOH.


“Kurang ajar kau Dokter!” teriak Haji Jaka penuh dengan kemarahan yang meledak-ledak. Langsung berdiri dan langsung memunculkan efek api amarah satu teknik gaib miliknya.


“Sudah-sudah Jaka susul Lurah Dava dan Pak Bupati Bagus segera. Barangkali istri-istri kalian masih bisa diselamatkan,” ujar Mbah Raji menghalangi Haji Jaka untuk menyerang Si Dokter dan menyuruhnya agar kembali pulang untuk menyelamatkan istrinya.