TOH Level Up

TOH Level Up
Selimut rasa asmara & kebangkitan Jerangkong



“Dek teduh wajahmu membuat aku selalu haus. Ingin selalu aku teguk agar meredakan akan selalu dahaga hasrat di alam bawah selimut,” bisik Lurah Dava di kisi-kisi telinga sang permaisuri hatinya Ibu Sari.


Ya benar Ibu Sari dan Lurah Dava mereka memanggilnya. Sebutan tersemat sejak seminggu yang lalu. Sebutan yang dinobatkan para warga untuk istilah pendiri klan keluarga bernama klan Kardi.


Seminggu kemarin di aula besar desa Banjar Kerep. Telah disetujui oleh semua kalangan desa dari tetua hingga rakyat biasa.


Mereka kompak untuk menyebut orang-orang di desa Banjar Kerep, Banjar Dowo hingga area Megaluh dengan sebutan orang-orang dari klan Kardi. Semua ini ditujukan untuk penghormatan Haji Kardi seorang kaya dan dermawan.


Perundingan aula desa seminggu yang lalu jua telah menasbihkan Dava. Menjadi Lurah dari pemimpin tiga desa, Banjar Kerep, Banjar Dowo dan Megaluh dengan pusat tatanan desa ada pada desa Banjar Kerep.


“Au sakit Mas jangan kencang-kencang dong!” rintih Ibu Sari agak meringis kesakitan. Atas usaha Lurah Dava akan menerobos hutan dan lembah sakral bagi para wanita.


Malam ini rupanya Lurah Dava dan Ibu Sari tengah melakukan aktivitas romantisme. Geliat tanpa busana yang elok dari Ibu Sari. Semakin membuat candu Lurah Dava untuk terus menghunjam-hunjamkan senjata wasiat Bapak. Semakin dalam dan semakin dalam pada jalan awal mula terlahirnya sebenih jabang bayi.


“Kalau Adek tak kuat menahan sakitnya. Gigit jari telunjuk Abang, biar agak berkurang rasa sakitnya,” ucap Lurah Dava menatap mesra penuh rasa setia pada Ibu Sari.


“Tidak sayangku nanti putus bagaimana? Aku sekarang kuat loh, Ibu Sari sekarang pemimpin utama para Srikandi TOH loh,” bisik lirih berwajah sayu-sayu sendu bercampur keringat nikmat Ibu Putri di matanya yang mulai menyempit merasakan kenikmatan Surga duniawi.


Rupanya Ibu Sari malam ini mulai mencoba nakal pada sang pujaan hati. Mulai terus menggoda dengan tarian-tarian manja di bawah tubuh kekar Sang Lurah perkasa.


Senyum tipis menebar gairah basah pada bibir ranum Ibu Sari. Terus menggoda denyut jantung Lurah Dava menjadi terpompa agak keras.


“Oh berarti sekarang istriku ini sudah mampu menahan sakit ya. Bukankah kau menjadi lebih ahli dalam silat gaib seperti sekarang ini aku yang mengajari. Jangan menangis ya kalau aku lebih mempercepat lagi. Kali ini seranganku akan seperti pompa diesel loh,” oceh Lurah Dava mencoba menantang kekuatan wanita dalam menahan rasa sakit di area utama yang jelas tak pernah mampu menahan sakit.


“Loh, loh, loh, Mas Dava jangan kencang-kencang loh. Aduh, sakit Mas, Mas mati aku Mas aduh,” oceh Ibu Sari bergelut di atas satuan gabus dan busa yang sering di sebut kasut. Dalam satu kain utuh putih agak tebal yang sering disebut selimut.


Selimut putih beraroma asmara malam ini menjadi teman setia atas kenakalan Lurah Dava. Sebuah elegi penuh aksi dan peluh keringat bersama Ibu Sari.


Kamar satu petak agak besar dan masih dengan cahaya remang. Menjadi saksi bisu seakan malu-malu melihat aktivitas syahdu dua insan suami istri utama di kalangan klan Kardi.


Tapi saat keintiman rasa suka antara suami istri Lurah Dava dan Ibu Sari. Ada satu hal ganjil tak jauh dari belakang rumahnya.


Ada satu tempat kosong tak jauh di belakang rumah Lurah Dava. Tepat sepuluh meter dari halaman belakang Lurah Dava. Hanya terpaut kebun warga satu petak sampai di tembok pembatas halaman belakang Lurah Dava.


Cerita warga dari mulut-ke mulut dab kabar burung sekitar rumah kosong. Dahulu rumah tersebut tergolong besar dan mewah. Pemiliknya adalah juragan tanah. Namun satu masa keluarganya mati satu demi satu.


Kabar yang berembus mereka menjadi korban perampokan. Namun dengan cara disekap dan di bantai satu-satu secara perlahan-lahan.


Malam ini keganjilan tampak pekat dengan suasana horor yang kental muncul di dalam rumah mewah kosong tersebut. Ada kabut tiba-tiba menjalar di dalam rumah melewati di sela-sela akar rayutan yang menumpuk banyak menutupi dinding.


Hawa dingin merata membawa harum anyir darah. Dengan bau bangkai menyatu menjadi harum menyengat bak bangkai tergeletak.


Tiba-tiba dari arah ruang tengah ada pergerakan seperti tanah yang menyembul. Seperti ada sesuatu dari dalam tanah yang ingin terbebas keluar.


Brak,


Satu ubin pecah dan terlempar agak jauh. Ada tangan serupa tengkorak dan hanya memang tengkorak. Tiba-tiba muncul dari balik ubin meronta-ronta dari dalam tanah. Dari tangan hingga kepala dengan gigi seolah terus menggigit. Namun kepala itu tak berdaging hanya sebatas tengkorak.


“Akhirnya aku terbebas setelah puluhan tahun aku kembali mati dari kekalahan besar perang siklus sepuluh tahunan. Siapakah yang berani membuka segel para tetua TOH yang sangat kuat. Apa ada raja setan lain selain Adhiyaksa dan Barbadak yang datang ke kota ini? Atau manusia sendiri yang ingin menguasai manusia lainnya,” begitulah oceh tengkorak yang kembali hidup menerobos dari dalam tanah.


“Kau aku bangunkan kembali hai setan jerangkong pemimpin ribuan bala tentara setan tengkorak. Bergegaslah bangun kembali era kejayaan para setan. Bangunkan kembali pasukan-pasukan tengkorakmu lalu ikut denganku menuju hutan Pangklungan,” ucap seseorang yang tengah memakai baju selayaknya dokter.


“Siapa kau berani membongkar segel sakral para tetua TOH. Sekuat apa kau manusia sehingga mampu membangkitkanku kembali. Kenapa manusia sepertimu menginginkan kami bangkit kembali?” cerocos Jerangkong.


“Sudahlah Jerangkong taati saja perintahku dan ikut denganku. Raja setan yang lain telah aku bangkitkan. Mereka sudah aku kumpulkan di tengah-tengah hutan jati dan pinus Pangklungan. Kau akan tahu rencana kami untuk kembali menciptakan perang besar di kota Jombang. Kami akan membinasakan seluruh TOH, mereka harus membalas sakit hatiku,” ujar manusia berpakaian dokter di hadapan Jerangkong.


“Baiklah asal membunuh para TOH itu. Aku akan setia kepadamu manusia mari kita pergi,” ujar Jerangkong dan mereka menghilang di sela-sela gelapnya rumah kosong belakang rumah Lurah Dava.


“Sebentar Mas, sebentar, stop dahulu,” ujar Ibu Sari tib-tiba menyuruh Lurah Dava berhenti dari aktivitasnya memompa liang surgawinya.


“Ada apa sih Dek? Kok Mas disuruh berhenti. Sedikit lagi ini selesai sudah di ujung. Masak mau Mas tahan kamu ini ada-ada saja,” jawab Lurah Dava masih terus melangsungkan acaranya.


“Mungkin perasaanku saja Mas, mungkin hanya khayalanku saja. Tadi seperti aku melihat tengkorak yang kembali bangkit dari kubur. Biar mungkin hanya imajinasi penggoda. Lanjutlah sayang, duh kasihan sayangku. Lanjut Mas kencangkan terus, sudah hajar saja Mas,” oceh Ibu Sari yang sempat mendapatkan firasat akan munculnya kembali setan tengkorak.