
“Hai Raja Diraja para setan dan siluman. Hai Barbadak kita berjumpa lagi setelah sekian puluh tahun kita tak bertemu. Apa kau tidak merindukanku setan tua?” ucap Lurah Dava sambil memanggul golok sakti emas yang baru saja ia getarkan ke atas tanah.
Lurah Dava memang sangat misterius dan sanggatlah penuh teka-teki. Seharusnya dia ikut terbantai dan gugur bersama Haji Jaka beberapa puluh tahun lalu. Tapi nyatanya Lurah Dava masih hidup sampai sekarang di era level up.
Bahkan wajahnya tiada berubah menjadi tua. Walau usia Lurah Dava kini tiada muda lagi. Wajahnya masih sama seperti saat ia berusia dua puluh lima tahun begitu awet muda.
“Sialan kau Lurah edan! Kenapa kau selalu mengganggu kesenanganku. Apa tidak ada acara lain dihidupmu selain mengganggu kesenangan orang?” celetuk Barbadak kembali berdiri setelah terhempas agak jauh oleh getaran golok sakti emas milik Lurah Dava.
“Apa kau bilang orang, apa aku tidak salah dengar. Bukankah kau adalah setan atau jin atau siluman atau ya semacam makhluk tak kasat mata. Janganlah kau mengaku sebagai manusia walau kau memang masih separuh manusia Barbadak,” ujar Lurah Dava begitu tenang.
“Paman Dava apa kabarmu Paman, sungguh aku rindu kalian para pemimpin era tua,” ucap Wahyu mendekati Lurah Dava. Tetapi segera disetop oleh Lurah Dava dengan kode tangan agar tak melangkah mendekat kepadanya.
“Sudahlah Dava, sebenarnya aku juga rindu padamu dan anak-anak yang lain. Tetapi kali ini belum saatnya untuk bernostalgia. Bukankah kau sudah berniat dengan bulat mengakhiri semuanya malam ini jua. Terus berjuang dan wujudkan keinginanmu itu. Ingatlah para adik-adikmu yang sudah berjuang bahkan ada yang sudah gugur. Ada kabar semua pemuda Kediri gugur di tembok perbatasan Badas,” ujar Lurah Dava yang ternyata di tangan kirinya tengah membopong Elang.
“Eh Elang, kok bisa Paman bawa Adi Elang?” ucap Wahyu saat melihat Elang yang tengah dibawa oleh Lurah Dava dan tengah tak sadarkan diri.
“Kalian berdua adalah sosok penting era ini dan kalian berdua harus selamat. Apalagi kalau kalian tengah terkapar tak sadarkan diri. Tentu para cecunguk setan seperti dia akan memanfaatkan keadaan itu,” ujar Lurah Dava sambil mengacungkan goloknya ke arah Barbadak.
“Apa kalian sudah selesai bernostalgia. Kalau sudah mari kita lanjutkan perang ini yang sempat tertunda. Mau kalian maju salah satu atau keduanya silakan,” sela Barbadak kembali memunculkan pedang dengan aura kematian yang selalu ia bangga-banggakan.
“Sombong sekali kau setan tua, jangan lupa kali ini bukan lagi era kita dahulu. Tetapi kali ini era level up dan sebaiknya kau saja yang melawan Wahyu. Bukankah ini era kalian? Jadi tidak pantas orang tua sepertiku maju lebih dahulu. Nanti kau mengira aku tidak memberi kesempatan pada yang muda,” ujar Lurah Dava.
Namun sebenarnya ini adalah sebuah strategi. Bahkan Wahyu sudah mengerti akan strategi pengalihan fokus lawan yang biasa digunakan lurah Dava. Wahyu hanya mengikuti alurnya saja dan mereka berdua sama-sama berjalan ke arah Barbadak.
Tetapi tetap seolah mereka berselisih untuk menentukan siapa yang akan melawan Barbadak. Bahkan setan sekelas Raja Diraja seperti Barbadak. Dapat teralihkan pandangan dan fokusnya dan hanya melihat kedua punggawa beda generasi tersebut dengan melongo.
“Sudahlah Paman, nanti Paman mengira aku tidak sopan lagi kalau aku lebih dahulu maju. Tidak enaklah Paman lebih baik Paman lebih dahulu melawan Barbadak. Aku setelah Paman saja tidak apalah,” ucap Dava mengikuti alur teknik pengecohan oleh Dava.
“Tidak-tidak ini era level up yang kau gadang-gadang Wahyu. Lebih baik aku belakangan saja, Pamanmu ini sudah tua Wahyu. Tulangku sudah rapuh semua dan tenagaku tidak lagi seperti dahulu,” timpal Lurah Dava masih berjalan beriringan bersama Wahyu ke arah Barbadak yang masih bingung dengan kelakuan mereka berdua.
Sebuah aura seperti taburan serbuk bunga yang berjumlah jutaan buah serbuk dan bentuknya sangat kecil. Membuat musuh seakan terlena dan hilang fokus dan tak jarang bisa membuat musuh menjadi hilang akal.
Teknik ini dikeluarkan oleh Lurah Dava hanya dengan membaca mantra dalam hati. Sebuah mantra turun-temurun dari klan Kardi dan diwarisi dari Sang Ayah Haji Kardi.
Tanpa disadari oleh Barbadak Lurah Dava dan Wahyu sudah melewatinya. Bahkan Barbadak hanya memandang mereka tanpa berkedip sekali saja. Seakan-akan Barbadak Sang Raja Diraja kaum tak kasat mata tengah terkecoh. Seakan Barbadak tengah terhalusinasi oleh teknik Lurah Dava yang sangat unik ini.
“Sial berpuluh kali aku sudah berhadapan denganmu Lurah Dava. Tetapi aku masih saja terkecoh dengan jurusmu yang menjijikkan ini. Kurang ajar kau Lurah tua! Kalau saja saat itu Petapa tanpa nama tidak datang menghidupkanmu kembali. Tentu aku tidak akan menghadapi teknik ini lagi,” ujar Barbadak yang tiba-tiba tubuhnya sudah terbelah dua. Bagian tubuhnya yang bawah malah sudah hancur menjadi debu. Bagian tubuhnya yang atas perlahan hancur jua.
“Jadi siapa yang harus melawan Barbadak lebih dahulu Wahyu kau atau aku?” ucap Lurah Dava masih menggendong tubuh Elang anaknya. Namun kali ini Elang diletakkan pada sebuah batu besar. Tubuhnya disandarkan setengah duduk.
“Ah bercanda paman ini wong Barbadak sudah mampus,” jawab Wahyu sambil tersenyum tipis pada Lurah Dava. Seakan menatap Lurah Dava dengan kekaguman tinggi. Dalam hati Wahyu berkata era tua tetap istimewa. Walau era ini aku telah memimpin seluruh kota. Tetapi era tua masih saja sangat memukau dengan teknik-teknik unik mereka.
“Loh ia kah eh Barbadak, ya mati dia. Katanya mau bertarung, katanya mau berperang malah mati dahulu. Eh Wahyu kenapa ya Barbadak kok mati, memangnya kau apakan dia?” ujar Lurah Dava bertanya namun sebenarnya pertanyaan itu hanya sekedar menggoda Wahyu saja.
“Ah Paman suka senang bergurau deh. Terus ini Elang, eh loh Elang mana Paman?” ucap Wahyu menengok ke sana-ke mari mencari Elang yang tiba-tiba menghilang.
“Kamu itu Wahyu masih saja lugu. Padahal kali ini kamu adalah pemimpin pusat para pemuda level up di seluruh kota Jombang. Bukan lagi hanya satu desa loh seperti Paman dan Ayahmu dahulu,” cetus Lurah Dava dan Elang sudah berdiri di samping Lurah Dava.
“Wah sungguh aku masih terpukau dengan kehebatan-kehebatan teknikmu Paman. Aku masih belum bisa menandingi kekuatan era tua ternyata. Walau kali ini kami dapat dengan mudah menghancurkan setan dengan tipe raja sekali pun,” ucap Wahyu geleng-geleng kepala terheran-heran dengan teknik pengobatan cepat dari Lurah Dava.
“Mas Wahyu kau sudah kembali,” ucap Elang memeluk Wahyu erat dengan rasa kerinduan yang mendalam.
“Mas Wahyu kelompok Seruni Mas, tolong kelompok Seruni. Cepat Mas tolong kelompok Seruni!” ujar salah satu punggawa klan Kardi yang tiba-tiba datang menemui Wahyu dengan terengah-engah dan terluka parah. Lalu punggawa tersebut menghembuskan napas terakhirnya. Padahal belum sempat ia mengutarakan ada apa dengan kelompok Seruni.
“Wahyu aku tinggal dahulu kau bersama Elang. Tolong lekas akhiri perang malam ini jua. Biar aku yang pergi melihat Seruni dia anakku jua,” ucap Lurah Dava menghilang seketika.