
Dar,
Lurah Dava kembali lagi setelah beberapa saat menghilang untuk menuju kelompok Seruni anak perempuannya. Hal ini membuat Wahyu dan Elang merasa kebingungan. Merasa ada yang aneh dan bertanya-tanya. Kenapa Lurah Dava kembali lagi? Bukankah Seruni tengah dalam bahaya.
“Loh Paman kenapa engkau kembali. Bukankah menurut laporan satu punggawa klan Kardi di sampingmu itu Seruni dalam bahaya?” ucap Wahyu merasa sangat heran dengan tingkah laku Lurah Dava yang selalu aneh.
“Ayah ada apa denganmu? Bukankah Adek Seruni sedang mengalami bahaya. Jikalau Ayah tak mau pergi, baiklah kalau begitu aku yang pergi,” timpal Elang hendak memanggil hewan gaib dari langit yang biasa membantunya yakni sebuah hewan sakti berwujud Elang.
Tapi hal itu diurungkan oleh Elang, sebab Lurah Dava seketika bergeleng kepala. Sebagai sebuah tanda agar Elang membatalkan teknik segel tangan pemanggil hewan pendampingnya.
“Wahyu, Elang, apa kalian tidak merasa ada yang aneh?” tanya Lurah Dava menekankan sebuah pertanyaan agar Wahyu dan Elang menyadari ada sebuah kejanggalan dari laporan salah satu punggawa klan Kardi yang datang.
“Apa Paman, apa yang aneh? Tidak ada yang aneh aku rasa. Dia manusia, punggawa itu manusia dan kita harus segera menolong Seruni,” oceh Wahyu belum jua menyadari akan keanehan yang dimaksudkan oleh Lurah Dava.
Sering, sling, cres,
Tiba-tiba Lurah Dava memenggal kepala dari salah satu punggawa klan Kardi yang baru saja datang melapor. Sehingga kepalanya menggelinding ke tanah. Tapi anehnya dari bekas tebasan golok emas Lurah Dava di leher punggawa tersebut. Sama sekali tidak mengeluarkan darah segar, selayaknya manusia yang terpenggal.
Bahkan kepala yang putus dan jatuh menggelinding. Tiba-tiba terbakar lalu habis menjadi abu. Tak beberapa lama badannya jua ikut terbakar menjadi abu pula.
“Ayah apa maksud dari semua ini, kenapa Ayah membunuh punggawa itu?” ucap Elang masih belum mengerti akan maksud Sang Ayah yakni Lurah Dava itu sendiri.
“Rupanya kau belum mengerti anakku. Bagaimana denganmu Wahyu, apa kau sudah memahami yang aku maksudkan?” tanya Lurah Dava pada Wahyu yang tengah merenung sesaat. Seolah-olah Wahyu tengah memikirkan sesuatu.
“Benar katamu Paman dia bukan manusia. Aku sudah curiga dari tadi, sebab jikalau manusia. Tentu dia memiliki bayangan selayaknya manusia. Tetapi dia punggawa itu tak memiliki bayangan, berarti dia adalah setan,” ujar Wahyu mengemukakan pendapatnya.
“Benar sekali Wahyu apa yang kau katakan. Tepat sekali akan koreksi yang kau dapatkan. Ternyata instingmu masih berjalan sebagai kesatria. Lalu apakah benar seorang punggawa dari ring tiga bisa menggunakan teknik teleportasi sangat cepat. Bukankah mereka tidak kebanyakan belum mampu menggunakannya. Bukankah hanya kesatria ring satu yang dapat menggunakannya,” terang Lurah Dava.
“Aha benar-benar dan maaf Ayah Elang baru menyadari. Beberapa saat lalu Elang mendapat informasi yang akurat dari salah satu punggawa. Tentunya punggawa itu terus bersama kami bertarung saat melawan bayi setan. Bahwa Seruni adikku masihlah baru bergerak memasuki kota. Aku rasa mereka sekarang masih berada di tengah kota. Sedangkan kita jauh dari kota dan mana mungkin punggawa itu sampai kemari,” timpal Elang baru menyadari.
“Benar sekali menurut penerawangan Ayah. Kelompok klan kita klan Kardi memang tengah bertarung. Tetapi mereka masih bisa mengendalikan situasi aku rasa. Jadi ingatlah bahwa setan selalu mengelabuhi kita. Tetaplah terjaga walau dalam tidurmu Wahyu dan anakku Elang,” jawab Lurah Dava memberi nasihat.
“Akhirnya kau menyadarinya Wahyu. Lalu kau anakku Elang, kau masih butuh banyak belajar rupanya,” jawab Lurah Dava tersenyum pada Wahyu dan Elang.
“Maksudnya bagaimana ini? Kenapa aku tak memahami apa yang dikatakan Mas Wahyu. Ayah coba jelaskan padaku tentang pertanyaan Mas Wahyu,” ujar Elang mulai penasaran dan sedikit ingin meneteskan air mata. Menghawatirkan akan Ayahnya Lurah Dava. Bahkan mereka baru bertemu setelah terpisah akan peperangan yang berkepanjangan.
“Anakku Elang aku hadir kembali di era level up yang kalian ucapkan ini. Hannyalah sementara dan bukanlah abadi seperti apa yang orang-orang katakan. Aku dan Ibumu tidaklah abadi, karena hanya Sang Penciptalah yang abadi. Tetapi kami diberi kesempatan kembali melalui kesaktian Petapa tanpa nama untuk membantu kalian malam ini saja,” jawab Lurah Dava sambil mengusap kepala Elang penuh kasih antara Ayah dan anak.
“Apakah itu berarti Ayah?” ucap Elang tapi perkataannya segera dihentikan oleh Lurah Dava.
“Sudah-sudah yang penting malam ini segera kalian akhiri peperangan. Walau kalian begitu sakti di era level up, tetapi jiwa muda kalian yang menggebu-gebu tentu masih butuh nasihat. Sebab itulah Ayahmu ini kembali, anggap saja begitu. Lalu bila perang usai dan kedamaian kembali datang. Tentu kalian tidak lagi membutuhkan nasihat, jua tak membutuhkanku,” timpal Lurah Dava.
“Hust, Paman jadi sebenarnya paman ini hidup atau mati ya. Tapi saat aku menerawang kilas balik dua tahun yang lalu. Paman gugur melawan Barbadak bersama Abahku. Benar tidak sih penglihatanku ini?” ucap Wahyu mendekat lalu berbisik pada telinga Lurah Dava dengan suara kecil. Agar Elang tidak mendengarnya, sebab Elang belum siap menerima kalau sebenarnya semua orang tua era TOH lama memang sudah tiada.
“Sudahlah kali ini kami benar-benar menyerahkan terciptanya kembali kedamaian kota Jombang ini kepada kalian. Terutama kau Wahyu jangan kecewakan kami dan jangan sia-siakan pengorbanan kami,” ucap Lurah Dava jua ikut berbisik pada Wahyu.
“Kalian bicara apa ya, aku kok seperti tak boleh tahu ya?” ucap Elang agak uring-uringan.
“Oh tidak Adikku Elang, anu, apa namanya ya Paman. Bakso ya bakso, setelah perang makan bakso enak ini, hehe,” ucap Wahyu mengalihkan pembicaraan dengan alasan sedapat mungkin agar Elang tidak curiga.
“Tidak jelas kalian ini, lalu bagaimana lagi kita kali ini?” ucap Dava bertanya.
“Ya kita perang ya Paman,” ucap Wahyu masih mengelabuhi Elang agar tidak tahu keadaan Lurah Dava dan Ibu Sari sesungguhnya.
“Benar Elang kita harus perang semangat dan kita bagi tugas. Oh ia Wahyu aku merasakan aura ribuan setan yang hendak meringsek masuk ke dalam kota Jombang dari luar kota Jombang. Kau sudah memberi tahu teman-teman sesama para kesatria petarung gaib dari golongan manusia bukan? Akan hal ini. Jangan sampai kita kecolongan. Lalu malam ini berlalu secara sia-sia,” ujar Lurah Dava membelokkan arah perbincangan kembali serius.
“Sudah Paman mereka para kesatria lima kota sudah kami beri tahu. Cuma takdir berkata lain di tembok perbatasan sisi selatan di area desa Badas. Entah area itu selalu memakan korban bagi para petarung kota Kediri,” ucap Wahyu menjawab pertanyaan Lurah Dava.
“Woi Elang mau ke mana Nak? Begitu saja mengambek kamu,” teriak Lurah Dava melihat elang yang menyelonong pergi begitu saja.
“Pergi berperang Ayah!” ujar Elang terus menghilang.