
“Ibu Sari dimanah kau? Ibu Sari jawab aku Ibu,” teriak Fitri kebingungan mencari keberadaan Ibu Sari yang tengah dibawa lari bayangan aneh.
“Mbak Fitri jangan berteriak Mbak, sebab kita tidak tahu apa yang akan datang dengan teriakan kita. Bisa saja teriakan kita mengundang satu makhluk atau bahkan lebih banyak lagi,” ujar Sekar memperingatkan Fitri.
“Tapi kalau kita tidak berteriak Sekar, bagaimana lagi cara kita untuk mencari Ibu Sari? Kau tahu tadi kan. Ada satu sosok bayangan aneh yang langsung menyambar Ibu Sari,” jawab Fitri begitu gelisah akan keselamatan Ibu Sari.
Tetapi Sekar malah tersenyum dengan senyum sipu-sipu malu. Seolah Sekar mengetahui sesuatu hal tentang bayangan yang membawa kabur Ibu Sari.
“Kamu kok malah senyum-senyum sendiri Sekar. Apa kamu malah senang kalau Ibu Sari diculik setan?” ujar Fitri agak marah melihat gelagat Sekar. Tapi ternyata Sekar memang sudah mengetahui dari sebuah tanda yang diberikan oleh sosok bayangan yang membawa Ibu Sari. Sebuah tanda yang tidak dilihat oleh Fitri.
“Bukan begitu Mbak Fitri yang cantik. Mana mungkin aku tidak sedih kalau Ibu Negara kita satu itu dalam bahaya. Jelas aku paling depan membela beliau, tetapi kali ini berbeda Mbak Fitri. Ibu Sari itu bukan diculik oleh setan atau semacamnya,” ujar Sekar masih memberi teka-teki pada Fitri. Sehingga wajah Fitri berubah menjadi semakin bingung.
“Lalu siapa yang membawa Ibu Sari sehingga kamu begitu yakin kalau beliau tidak diculik? Apa kami benar-benar yakin bayangan aneh tadi tidak melukai Ibu Sari?” kata Fitri terkesan dengan nada mengotot dan marah-marah pada Sekar.
“Sudahlah tenang yakinlah Ibu Negara kita satu itu aman. Lebih baik kita kembali ke tempat teman-teman beristirahat. Takutnya malah mereka diserang binatang buas atau setan mungkin. Ayo Mbak Fitri kita kembali ke tempat teman-teman,” ajak Sekar pada Fitri dan Fitri malah menolaknya sambil mematung.
“Katakan dahulu siapa yang membawa Ibu Sari? Baru aku mau kembali,” jawab Fitri menatap lekat Sekar.
“Coba lihat ini apa? Yang memberikan dulu siapa? Masih ingat tidak kamu Mbak Fitri,” tanya Sekar mengulurkan sebuah kain sleyer penutup kepala berwarna hitam dengan motif batik tulis warna putih. Ada lambang naga hijau melingar kecil dengan tulisan nama Lurah Dava di bawahnya.
“Eh benar tadi bayangan yang membawa Ibu Sari adalah suaminya sendiri alias Lurah Dava. Apa iya ya, ah masak sih aku tidak melihat sosok Lurah Dava?” ucap Fitri kembali berjalan menuju tempat peristirahatan semula.
“Aku kenal betul kain ini dan aku kenal betul tanda tangan Pak Lurah yang ada di sisi belakang kain ini. Jadi sudah tenang saja dan anggap saja mereka ingin berbulan madu setelah tiga tahun terpisah,” ujar Sekar berjalan beriringan bersama Fitri kembali ke tempat yang ia tinggalkan barusan.
“Kalau memang benar Pak Lurah yang membawa Ibu Sari. Pantas saja begitu cepat menghilang dan tentu kita tidak bisa mengejar. Sebab kita tak bisa menggunakan teleportasi,” ucap Fitri.
***
“Lepaskan aku, lepaskan aku makhluk jelek. Makhluk dari bangsa mana kau setan. Apa kau tak tahu aku adalah istri dari legenda salah satu pasangan emas era tua TOH. Aku istri Lurah Dava berani-beraninya kau menculikku, lepaskan...!” teriak Ibu Sari meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari pelukan sosok bayangan yang membawanya pergi. Tanpa ia sadari jikalau bayangan tersebut ternyata sosok Lurah Dava itu sendiri.
Sebuah kamar yang hampir runtuh. Tetapi masih berdiri kokoh, karena rumahnya jua tetap utuh. Namun sudah retak di sana-sini, serta banyak beberapa sisi yang tak utuh. Tetapi tetap serupa bangunan rumah.
Rumah itu adalah sebuah rumah kenangannya bersama Sang Lurah. Rumah bersejarah penuh perjuangan pada masanya. Rumah turun temurun dari keluarga Haji Kardi sang mertua lelaki Ibu Sari.
“Loh kok di kamar ini, bukankah ini kamarku sendiri. Lalu kau...?” ucap Ibu Sari membalikkan tubuhnya ke arah Lurah Dava yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Lurah Dava langsung sigap memeluk Ibu Sari. Memeluk erat penuh kerinduan dan kehangatan cinta berpuluh-puluh tahun. Sebuah kerinduan dengan elegi rasa mendalam tanpa bertemu selama tiga tahun.
“Eh Ayah, benar kau suamiku, Ayah, apa benar ini kau sayang?” ucap Ibu Sari menatap wajah Lurah Dava yang begitu dekat.
“Ini aku Mama, ini aku suamimu. Aku Lurah Davamu sayang, apa kau sudah tak mengenali aroma dari tubuh suamimu ini. Apa kamu sudah lupa dengan senyuman yang selalu menemanimu dulu?” ucap Lurah Dava memegang dua pipi Ibu Sari dan pipi itu jua lekas memerah. Mata Ibu Sari mulai sembab serta timbul bulir-bulir air mata di sana.
“Ayah...! Ayah ke mana saja? Ayah jahat meninggalkan Mama berjuang memimpin anak-anak sendirian. Mama juga kini tak tahu dimanah anak lelaki semata wayang kita berada? Ayah jahat,” Ibu Sari mulai merengek serta menangis sejadi-jadinya. Sambil memukul-mukul dada Lurah Dava yang sangat bidang. Tentu dengan pukulan tak seberapa kencang.
“Sudah sayang jangan menangis, Ayah selalu ada di sisi Mama kok. Tapi Mama saja yang tidak tahu, oh iya tentang Elang anak kita. Beberapa saat lalu Ayah menemuinya dan ia selamat. Bahkan Ayah sempat bertemu Wahyu dia sudah kembali Ma,” jawab Lurah Dava sambil menyeka air mata Ibu Sari yang bercucuran menuju pipinya yang masih halus.
“Elang, Ayah bertemu Elang, benar Ayah? Apa benar Elang baik-baik saja? Tapi Mama malu bertemu Wahyu Ayah. Kita tidak bisa menyelamatkan Mas Jaka dan Mbak Putri, Mbah Raji dan yang lain. Bahkan kita tidak bisa menemukan jasat mereka. Mama tentu tak bisa menjawab apabila Wahyu bertanya tentang orang tuanya,” ujar Ibu Sari masih dalam posisi memeluk Lurah Dava. Bahkan kali ini Ibu Sari menenggelamkan wajahnya di dada Lurah Dava.
“Wahyu itu anak yang sangat sakti Mama. Bahkan dia adalah keturunan langsung dari Raja klan Dewa. Bukankah kita bisa hidup kembali karena Petapa tanpa nama yang ternyata adalah seorang Dewa langit. Tentu Wahyu dapat mengerti keadaan kita dan tentu dia bisa memandang jauh ke belakang dan tahu bagaimana peristiwa yang sebenarnya terjadi,” ujar Lurah Dava menegaskan.
“Mas aku kangen harum tubuhmu, Mas Dava aku kangen hangatnya pelukanmu seperti ini. Mas aku kangen masa-mas kita bersama dahulu. Mungkin setelah malam ini, entah malam ini akan berakhir atau tidak. Entah anak-anak pemuda penerus kita berhasil menang atau tidak. Entah kita esok masih melihat mentari atau tidak. Jelasnya malam ini aku ingin sekali saja merasakannya lagi Mas,” ujar Ibu Sari begitu manja meminta satu permintaan pada Lurah Dava.
“Eh sebentar permintaanmu yang satu ini perlu membuat pagar gaib di sekitar rumah kita. Aku tahu jikalau kau tidak lagi memanggilku Ayah dan menggantinya dengan panggilan Mas. Sudah pasti kamu menginginkan hal itu benar kan?” jawab Lurah Dava dengan akhiran pertanyaan penegasan.
Ibu Sari hanya mengangguk sambil tersipu-sipu malu. Wajahnya mulai merona merah agak malu-malu. Bagai seorang gadis yang baru saja dinikahi kekasihnya dan tengah mengalami malam pertama.