
Tiga tahun yang lalu,
Malam masih merajut rindu dengan rembulan. Mendung masih tertambat mesra di ujung-ujung nirwana. Gerimis jua agak menggoda burung malam yang bertengger ogah-ogahan di atas cabang akasia.
Kota Jombang malam ini di malam Jumat Legi. Tampak sunyi senyap tak ada aktivitas yang berarti. Sudah lama pula kedamaian menaungi seluruh kota. Bahkan mungkin manusia sudah lupa akan pertempuran-pertempuran gaib yang dahulu pernah melanda secara membabi-buta.
Dalam keremangan yang menuju terang tak sebegitu gelap. Dalam ke haribaan tenangnya malam kota Jombang. Nyatanya sosok-sosok bayangan-bayangan hitam pelaku kejahatan masih saja terus mengintai.
Mereka masih terus mengawasi dengan mata-mata gaib mereka. Mencari kesempatan untuk kembali mengibarkan perang kepada ras manusia. Mereka masih terus memberi teror dengan penampakan-penampakan makhluk astral dari para prajurit atau punggawa gaib yang mereka miliki.
Dalam sepetak kamar tengah dengan cahaya redup dari pijar lampu hias sebelah rak buku. Haji Jaka masih sibuk duduk di balik meja kerjanya. Sambil membolak-balik laporan harian Pondok As Salam yang ia kelola.
Terkadang sesekali Haji Jaka merentangkan kedua lengan. Sambil memutar-mutar pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Demi melegakan letih yang tertumpuk di permukaan punggungnya.
Terkadang sesekali secangkir kopi hitam sedikit gula di samping tumpukan berkas di atas meja kerja depan ia duduk di raih. Lalu sejenak ia teguk demi membasahi kerongkongan dengan kegemaran atas rasa pahitnya bubuk kopi dan air panas agak hangat.
Tek, tek, tek,
Suara langkah kaki perlahan mendekati Pak Haji dengan label pemimpin seluruh kota Jombang dari segi gaib tersebut. Agak kaget dan tersentak sedikit mendengar langkah kaki yang tiba-tiba memecah keheningan kamarnya.
Sebab sudah tengah malam Haji Jaka masih saja berkutat pada pekerjaannya. Bahkan seharian dia sudah berada di kantor pondok pesantren miliknya.
“Ayah, kenapa belum bobok sih? Ibu sudah menunggu dari tadi loh. Punya istri cantik begini masih saja dibiarkan saja menganggur. Dahulu saat Wahyu masih kecil dan belum belajar di luar kota. Ayah sering beralasan Wahyu belum tidur. Sekarang malah sibuk dengan pekerjaan. Terus Ibu ini bagaimana, dari dahulu sering sekali bobok sendiri. Ayah masuk kamar paling setelah subuh,” oceh Ibu Putri sambil memeluk Haji Jaka dari belakang.
“Sebentar Ibu nanggung sedikit lagi selesai ini,” jawab Haji Jaka mulai mengerik kembali angka-angka dan nominal di layar laptopnya.
“Tuh Kan, pasti begitu, sebentar lagi selesai lah, nanti dahulu kurang sedikit lagi lah. Tapi tetap saja setelah subuh baru ayah masuk. Ayah aku ini istrimu bukan lukisan yang kau beri pigura cantik hanya untuk menghiasi dinding rumahmu saja,” ucap Ibu Putri agak memanyunkan bibirnya.
“Sebentar lagi sayangku, bobok saja dahulu nanti aku menyusul. Masak seperti orang pacaran saja Ibu ini. Kita ini sudah sama-sama tua Ibu, masih saja seperti anak-anak di kesatuan Srikandi manjanya,” ujar Haji Jaka sambil mengelus pipi Ibu Putri yang masih kencang dan halus walau sudah berusia kepala tiga.
“Bodo amat Ayah, manja sama suami sendiri masak enggak boleh. Lagian enggak ada yang melihat juga. Ayolah Ayah ini malam Jumat loh. Apa Ayah tidak mau menengok ladang Ibu lagi subur loh Ayah. Apa enggak kangen apa Ayah sama Ibu. Bukannya sudah seminggu kita tidak melakukannya?” ujar Ibu Sari malah mengubah posisi.
“Ibu jadi enggak kelihatan ini loh layar laptop Ayah. Turun dulu dong sayangku, ayolah masak seperti anak kecil minta pangku. Mana sambil memeluk menghadap Ayah lagi,” ucap Haji Jaka menatap wajah Ibu Putri.
Tiba-tiba Ibu Putri melepas kaca mata yang menempel di mata Haji Jaka. Secara tiba-tiba Ibu suri langsung melancarkan serangan secara brutal terhadap bibir Haji Jaka. Menggunakan teknik kecup ******* terus-menerus sehingga Haji Jaka tiada bisa menolak. Apalagi yang menyerang adalah bibir sang istri tercinta.
Sementara itu di sebuah sisi gelap di salah satu atap rumah warga tidak jauh dari rumah Haji Jaka. Ada beberapa bayangan dengan mata-mata merah yang mengintai kediaman Haji Jaka.
“Tuan apa harus kita menyerang sekarang? Ini kesempatan kita mereka sedang melakukan sesi percintaan. Bukankah Tuan paling suka film yang demikian. Mari segera kita bantai saja keluarga pemimpin gaib nomor satu di kota Jombang tersebut,” ujar salah satu bayangan hitam yang tengah mengintai rumah Haji Jaka dari atap rumah salah satu tetangga Haji Jaka.
“Kau bodoh prajurit! Makanya kau selalu jadi prajurit dan tidak naik jabatan menjadi pemimpin. Kalau sekarang kita serang mereka masih sangat dini dan terlalu berbahaya. Mungkin kau tidak bisa melihat, tetapi aku melihatnya. Ada beberapa macan kumbang hitam yang terus berjalan mengitari rumah Haji Jaka. Kita belum mampu mengalahkan mereka para manusia harimau dari Sumatera itu,” jawab satu bayangan yang dipanggil Tuan.
“Maaf Tuan aku salah, lalu kapan kita menyerang mereka. Bahkan kita telah dibangkitkan lagi oleh kelompok Dokter gila itu. Masak manusia ingin memusnahkan manusia, dasar dokter gila,” ucap bayangan hitam yang berpangkat pemimpin dab sering dipanggil Tuan oleh anak buahnya.
“Lalu kapan kita membalas dendam pada ras manusia yang sering mengalahkan dan membantai kaum kita itu. Bahkan aku sangat ingin menikmati keindahan dab keelokan tubuh istri pemimpin kota Jombang itu,” ujar bayangan yang berstatus hanya prajurit.
“Kau ini yang ada di otakmu hanya kawin dan kawin saja. Sudah kita kembali ke hutan Pangklungan. Sementara kita bersembunyi di sana bersama teman-teman yang lainnya,” ujar bayangan hitam yang berpangkat ketua lalu mereka menghilang dari atap rumah tetangga Haji Jaka.
“Ya sudah, sudah, Ayah matikan laptop dahulu. Ibu turun dahulu dong masak menggelayut seperti anak kucing begini,” ujar Haji Jaka menutup laptopnya seketika.
“Enggak mau Ayah, orang sudah kepingin kok. Nanti aku turun Ayah enggak mau lagi menuruti permintaan Ibu,” rengek Ibu Putri yang masih tetap di pangkuan Haji Jaka.
“Astagfirullah manjanya istriku untung cantik ya kamu. Baiklah ayo kita ke kamar kita main dokter-dokteran,” cetus Haji Jaka mengendong Ibu Putri dari depan menuju kamar tidur utama.
Kamar tidur utama Haji Jaka dan Ibu Putri berada tak jauh dari kamar tengah yang dijadikan ruang kerja Haji Jaka. Dahulu kamar tersebut milik anak lelaki semata wayang kesayangannya Si Wahyu. Tetapi sudah lama Wahyu tidak pulang di luar kota menimba ilmu.
Sampai di kamar utama pintu kamar langsung di kunci dari dalam. Haji Jaka dan Ibu Putri mulai melakukan aktivitas halal suami istri selayaknya pada umumnya.
Walau rumah tangga mereka sudah berlangsung lama dan terhitung sudah lima belas tahunan. Bahkan bisa jadi lebih dari lima belas tahun sudah mereka berumah tangga. Tetapi mereka tetap saja terlihat mesra bahkan di setiap kesempatan.