
Kerangka langit mulai hitam agak gelap cenderung kelabu. Sisi desa Banjar Kerep di mana Lurah Dava tinggal dengan sang istri tampak gerimis.
Walau tidak deras, tetapi sudah cukup membasahi seluruh atap warga yang tengah terlelap di bawahnya. Semua sunyi di tengah malam yang tenang. Semua telah beristirahat dari siang yang panas dengan pekerjaan berat masing-masing warga.
Mungkin hanya kodok yang mengorek atau jangkrik yang mengerik yang menghiasi keramaian malam buta kali ini. Mungkin hanya rintihan kencang pohon bambu yang tengah bergeseran diterpa angin di beberapa titik desa yang meramaikan gelap tengah malam kali ini.
“Mas Lurah bukankah tadi lepas jam sembilan sudah tiga kali naik. Masa mau minta kembali, apa tidak lelah kamu?” bisik lirih Sari yang masih menggeliat di bawah pelukan Lurah Dava dengan jari-jemari yang terus bergerilya.
Dalam gelapnya malam sisi rumah Pak Lurah Dava. Begitulah kejadian di dalam kamar utama antara Lurah Dava dan Ibu Sari. Rupanya mereka tengah memadu kasih cinta dan asmara malam buta.
Tapi ada yang aneh dari Lurah Dava kali ini. Seakan wajahnya begitu buas dan beringas. Seakan ia ingin ******* seluruh tubuh Ibu Sari yang memang sudah tak memakai apa-apa di dalam selimut biru.
Sebab sebelumnya Lurah Dava memang sudah mengambil jatah sebagai suami dan Ibu Sari jua sudah memberikannya secara suka rela sebagai kewajiban istri.
“Aku ingin lagi dan lagi dan terus-menerus Sari,” begitulah bisik Lurah Dava di telinga Ibu Sari. Sambil terus memberi serangan dahsyat kecupan-kecupan cepat dengan sedikit menjulurkan lidah agak panjang di balik belakang telinga kiri Ibu Sari.
Dalam hati Ibu Sari terus menaruh kecurigaan pada Lurah Dava yang memang sudah tak berbusana sama sekali di atas tubuh Ibu Sari. Apa ini benar-benar suamiku, kenapa tidak seperti biasanya? Bahkan tadi Mas Lurah tak seberingas ini. Tiada pernah Mas Lurah memulai dengan menjilat belakang telingaku. Bahkan tak pernah ia memanggilku dengan nama asliku sendiri.
Tetapi Ibu Sari sudah kadung mendapat serangan-serangan dahsyat rangsangan dari Lurah Dava. Bahkan area sensitif yang paling sensitif milik Ibu Sari. Sudahlah di koyak-koyak dengan tiga jari sosok Lurah Dava yang ada di atasnya kali ini.
“Aduh, aduh, aduh, Mas Lurah jangan kasar, Mas Lurah sakit, Au,” rintih Ibu Sari yang tak bisa mengelak dari rangsangan hebat yang tak biasa ia terima dari sang suami. Bahkan biasanya Lurah Dava hanya mengusap-usap lembut. Kali ini bagai serigala lapar yang tengah memegang mangsanya.
“Sudahlah diam dan nikmati saja Sari. Kamu juga suka kan jangan membohongi aku suamimu ini. Aku hanya ingin menikmati tubuh kamu yang harum dan selalu wangi setiap waktu. Aku ingin melahapnya utuh tanpa penghalang,” ucap Lurah Dava seketika melempar selimut biru yang menutupi dan menjadi penghalang mereka berdua.
Srak, bruk,
Selimut terlempar terlalu keras hingga jatuh di atas meja rias Ibu Sari. Sampai-sampai beberapa kosmetik Ibu Sari berserakan jatuh di atas karpet di bawahnya.
“Mas Lurah, Mas ini benar kau kan Mas?” pertanyaan seketika terlontar dari bibir Ibu Sari sambil menggigit bibir bawahnya dan masih merasakan begitu hebat rangsangan awal-awal hasrat Lurah Dava sebelum benar-benar menerobos area gelap paling sensitif dari area wanita Ibu Sari.
“Benar ini aku suamimu, apa kau tak yakin dan tak cinta lagi denganku, hem, baiklah kalau begitu akan aku percepat. Akan aku percepat dari memulai penerobosan yang selalu kau inginkan di area paling sakral para wanita. Kalau kau mampu dan bisa tidak merasa sakit kali ini aku akui kau wanita paling kuat,” oceh sosok Lurah Dava mulai membuka lebar kedua kaki Ibu Sari.
Sehingga terlihat jelaslah satu gumpalan daging yang selalu diberikan pada sang suami secara suka rela oleh Ibu Sari. Ibu Sari kali ini benar-benar mendapatkan firasat hati jikalau yang di atasnya bukanlah Lurah Dava suaminya.
Karena wanita memang sulit menghindar saat tubuhnya sudah takluk dan banyak menerima serangan rangsangan. Tentu kebanyakan wanita akan lemas lunglai dan hanya menuruti hasrat semata.
Mata Ibu Sari terbelalak tak kuat menahan bentakan pertama dari terobosan rudal besar yang tak biasanya dari sosok Lurah Dava. Kali ini benar-benar jelas di pikiran Ibu Sari. Bahwa yang sedang bercinta dengannya bukanlah sang suami.
Tapi dia tak bisa mengelak saat yakin sewaktu melihat senjata utama lelaki milik Lurah Dava kali ini. Bahkan ia hafal betul rudal lelaki milik suaminya seperti apa.
“Sudah jelas kali ini bukan kau sayang yang ada di atasku. Maafkan aku Mas Lurah, aku tak mengerti keadaanku sekarang ini. Aku tak tahu kalau di atasku yang sedang mencumbuku kali ini bukan dirimu. Maaf sayang aku telah memberikan tubuhku bukan padamu. Kau ada di mana Mas Lurah, kenapa sosok ini begitu mirip tanpa cela denganmu?” begitulah gumam lirih cenderung tak jelas dan tak terdengar dari Ibu Sari. Sebab bibirnya sudah terpaut dan dilumat habis oleh sosok Lurah Dava di atasnya.
“Argtz, No, tidak, sakit, sakit Mas Lurah!” walau teriakan-teriakan Ibu Sari terus keluar dari bibirnya yang sudah agak berdarah. Karena serangan-serangan hebat dari gigitan-gigitan Lurah Dava.
Tapi tetap saja sosok Lurah Dava tak mau menghentikan bentakan-bentakan serangan bagian bawahnya. Terus menerus bahkan lama semakin lama semakin kencang.
Membuat Ibu Sari semakin menggelinjang tak karuan. Kepalanya terus mendongak-dongak ke atas dengan bola matanya terus melirik ke atas kesakitan. Bahkan Ibu Sari sudah tak bisa merasakan dua gundukan sensitif di bagian depan miliknya.
Entah masih utuh atau sudah lepas dari tempatnya. Sebab terlalu beringas tangan-tangan Lurah Dava menyerangnya.
“Kau hebat Sari, kau bisa bertahan sejauh ini dari serangan rudal istimewaku. Termasuk kau wanita dari ras manusia yang kuat. Kali ini terimalah serangan-serangan terakhirku. Maaf bila serangan terakhirku akan membuatmu, ya mungkin berpindah alam,” bisik sosok Lurah Dava menyiapkan serangan terakhir.
Kata-kata yang meluncur dari Lurah Dava begitu saja. Membuat Ibu Sari teramat syok dan matanya seketika melotot. Jelas sudah kalau di atas tubuhnya bukanlah sosok sang suami. Sebab kata-kata ras manusia yang terucap menandakan kalau dia sosok Lurah Dava kali ini bukanlah manusia.
“Jangan-jangan tolong jangan lakukan. Sudah cukup, sudah cukup tolong jangan membunuhku dengan cara seperti ini. Siapa pun kau jangan lakukan itu kepadaku. Bukankah aku sudah rela memberikan tubuhku untuk kau nikmati. Tolong berhentilah dan biarkan aku hidup,” rengek Ibu Sari dengan mata nanar dan ketakutan. Bahkan ia begitu syok akan kecurigaannya yang ternyata benar. Sebuah kecurigaan bahwa bukanlah sosok Lurah Dava yang ada di atasnya.
“Tidak bisa aku sudah berada di puncak ******* kenikmatan. Bersiaplah Sari Ibuku sayang terimalah tusukan terakhir dari aku anak yang pernah kau lahirkan dari raja setan Adhiyaksa,” bisik sosok Lurah Dava yang ternyata dia adalah bayi setan yang pernah dilahirkan Ibu Sari sendiri.
Mata Ibu Sari semakin melotot dan tak menyangka. Kalau yang di atasnya adalah si bayi setan yang pernah ia lahirkan sebelum Elang anak keduanya yang kini menjelma sebagai Lurah Dava.
“Tidak-tidak Nak jangan, jangan! Argtz,” teriakan terakhir Ibu Sari lalu tubuhnya bergetar bagai ayam sayur yang baru saja disembelih. Lalu selang beberapa menit berhenti dan tak bernapas jua tak bergerak sudah.
“Hahaha, aku menang, aku menang Lurah Dava. Lihatlah Ayahku Lurah Dava aku membunuh istrimu dengan caraku yang sangat keji ini!” teriak sosok Lurah Dava yang masih di atas tubuh Ibu Sari. Belum jua mencabut rudal sakti miliknya yang masih ada di dalam gua sensitif Ibu Sari.