TOH Level Up

TOH Level Up
Elang dan Burung Elang



Saat Ambon sudah dalam keadaan genting. Leher Ambon hampir saja terputus oleh golok dari Ki Codet. Elang segera menyambar Ki Codet dengan teknik pengambilan arwah. Lalu lekas membakar arwah Ki Codet sampai tak tersisa.


Tubuh Ki Codet ambruk membentur satu nisan yang ternyata di muka nisan tersebut bertuliskan nama Ki Codet. Bahkan di sebelahnya ada makam dengan nisan bertuliskan nama Ireng.


Seruni tampak tengah memangku tubuh Ambon yang sekarat. Darah dari leher Ambon mengucur deras membasahi kain putih yang dikenakan Seruni.


“Tuan Putri Seruni maaf aku mulai malam ini sudah tidak bisa lagi mendampingimu. Aku mulai malam ini sudah tidak bisa lagi menjagamu. Sampaikan salamku pada Tuan Dava dan Ibu Sari agar memaafkanku. Sebab aku sempat tak bisa menjagamu beberapa saat. Sampai-sampai Ireng hendak menodaimu dan aku tak mampu berbuat apa-apa,” ujar Ambon begitu lemah dan berwajah pucat sudah.


“Ambon aku juga anak dari Lurah Dava dan aku berhak atas perintah di klan Kardi. Maka sekarang aku bebaskan kau dari penjagaan adik kecilku ini. Pergilah dengan tenang bila memang semua sudah takdir Allah,” ucap Dava berjongkok di depan Seruni yang tengah memangku Ambon.


“Mas Elang aku serahkan kembali pasukan kita kepadamu. Tolong mereka yang terluka parah. Biarkan aku gugur di atas pangkuan Tuan Putri. Suatu keberuntungan bagiku mati di atas pangkuan Tuan Putri yang sedari kecil aku jaga. Jangan menangis Tuan Putri semua sudah garis takdirnya,” ujar Ambon meraih pipi Seruni mengusap air matanya perlahan.


“Tidak Kang Mas Ambon kau tak akan mati di sini. Akak Elang apa kau tidak bisa menyembuhkan Kang Mas Ambon?” tanya Seruni masih terus menangis sesenggukan sambil memangku Ambon.


“Urat nadi Ambon sudah terputus Dek. Ambon masih bertahan itu sudah sangat hebat. Ambon maafkan aku yang datang terlambat. Pergilah bersama Bargo teman susul dia. Teman kita yang satu itu bahkan terlalu tangguh untuk klannya sendiri. Bahkan dia membunuh seluruh klannya sendiri dan pada akhirnya dia jua gugur,” ujar Elang mengulurkan kaos hitam yang terakhir Bargo kenakan. Kaos itu sudah penuh dengan darah dan sobekan.


“Tenang Mas Elang dia sudah ada di sini dan tersenyum mengulurkan tangannya. Baiklah Mas Elang dan Dek Seruni maafkan aku tidak lagi bisa ada di sisi kalian. Mas Elang satu permintaanku tolong jaga Seruni kecil kita ini. Jangan biarkan siapa saja menjamah tubuhnya lagi,” ucap Ambon dengan kata-kata terakhir dan permintaan terakhirnya pada Elang.


Sebab setelah permintaan terakhirnya tersebut. Ambon sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Bahkan Ambon sempat mengucapkan lafaz Syahadat namun begitu lirih. Hanya bibir yang bergumam tanpa suara dan menghilang.


Sebagai kematian kesatria sejati. Tubuh Ambon memudar perlahan menjadi debu. Bersatu dengan udara kota Jombang, berbaur dengan alam raya kota Jombang. Seakan mereka yang gugur selayaknya Ambon. Menjadi ruh-ruh penjaga keseimbangan alam kota Jombang.


Mungkin dari satu hal inilah, kenapa ribuan tahun kota Jombang. Tiada benar-benar hancur sepenuhnya, walau telah di ratakan oleh pasukan setan beberapa kali.


“Kang Mas Ambon tidak, jangan pergi Kakang. Akak Elang, Kang Mas Ambon pergi aku main sama siapa. Kang Mas Bargo juga sudah pergi para setan itu. Mereka harus membayar setimpal akan perbuatan mereka. Akak Elang demi Allah balaskan dendam kami pada para setan itu. Selesaikan semuanya malam ini juga Akak,” pinta Seruni sambil memeluk Elang.


“Adek yang bisa menyelesaikan semuanya malam ini adalah Masmu Wahyu. Masmu Elang ini belum mampu untuk mengemban tugas itu. Tapi Masmu Elang ini akan berusaha sekuat tenaga. Sebaiknya kau aku ungsikan terlebih dahulu agar aman. Elang sahabatku kemarilah aku membutuhkan bantuanmu,” teriak Elang sambil menatap langit.


Sayapnya mulai turun dengan bentangan teramat lebar. Paruhnya seumpama pisau dan pedang yang baru terasah. Tatapannya bagai burung kematian yang siap menerkam suatu saat.


Tapi burung elang raksasa dari langit adalah hewan yang lahir bersama Elang dari rahim Ibu Sari. Burung Elang jua masih saudara dari Elang dan Seruni. Saat kelahiran Elang sendiri dahulu ada keanehan. Sebab burung elang keluar terlebih dahulu dari perut Ibu Sari.


“Hai Elang Adikku, eh si kecil Seruni apa kabarmu adik kecil?” tegur burung elang yang berdiri menjulang di depan Elang dan Seruni.


“Akak burung Elang hai, aku kangen akak,” ucap Seruni berlari memeluk kaki burung Elang sebab terlalu besar tubuh burung Elang.


“Hahaha, kau masih saja seperti dahulu Seruni. Oh ia cincin dari api pemberian Ibu Seruni masih aku pakai di cakarku. Bagaimana kabar Ayah dan Ibu kita adikku Elang?” tanya burung Elang pada Elang.


“Mereka masih hidup dan masih terus berjuang. Tapi sebenarnya mereka telah tiada dan aku belum jua mengerti perkataan itu. Oh ia Kakakku sekaligus sahabatku burung Elang. Tolong bawa adik kecil kita ke tempatmu. Dia masih belum mampu bertarung dengan tak memakai emosinya. Aku khawatir dia akan celaka saat menemui musuh yang lebih unggul darinya,” pinta Elang segera membawa Seruni melompat ke atas punggung burung Elang dan Elang sendiri kembali melompat turun.


“Mengenai Ayah Dava dan Ibu Sari aku beberapa saat lalu pernah menanyakannya pada Ki Datuk Panglima Kumbang. Kata beliau saat tiada Ayah dan Ibu ditakdirkan kembali dari nirwana. Tapi aku belum mengerti juga akan konsep keabadian ayah dan Ibu kita. Ada kabar saat kembali dari nirwana, Ayah dan Ibu ditemui petapa tanpa nama. Mereka lalu diberi minuman dari telaga keabadian. Baiklah Elang hati-hatilah engkau dalam perang kali ini. Lekas temui Wahyu dia butuh bantuanmu. Sebab musuhnya kali ini bukan main-main,” ujar burung elang.


Lalu terbanglah burung elang kembali ke atas langit. Membawa Seruni ikut serta bersamanya. Sebab terlalu riskan Seruni untuk mengikuti perang kali ini. Seruni belum siap akan perang kali ini.


“Baiklah mari kita bersihkan area pemakaman ini,” ucap Elang menatap area pemakaman yang masih bergejolak perang dari setan dan pasukan padepokan pekuburan melawan sisa-sisa pasukan klan Kardi.


Elang menggigit jempolnya sedikit agar berdarah. Darahnya tersebut menetes ke atas tanah. Lalu dengan cepat darah yang jatuh ke tanah di tepak dengan telapak tangan kanan Elang.


“Teknik penghancuran segel bumi. Kembalilah kalian ke dalam bumi yang berasal dari tanah akan kembali ke dalam tanah,” ucap Elang.


Seketika ada ribuan tangan gaib dari dalam tanah. Tangan-tangan gaib yang panjang dan besar namun serupa hanya bayangan hitam. Meraih ratusan setan dan manusia pembawa setan dari padepokan pekuburan. Menenggelamkannya kembali ke dalam tanah tiada tersisa.


“Tuan Elang datang...!” teriak salah satu dari pasukan klan Kardi yang baru menyadari kalau Tuan mereka Elang berada di sana.