
Vivi masih duduk termenung di atas kursi rodanya. Masih belum beranjak dari satu jam yang lalu. Bahkan pintu depan rumahnya masih belum tertutup. Padahal hari sudah begitu gelap dan hendak menjumpai tengah malam.
Mata Vivi tampak memandang ngeri ke arah luar rumah. Merasakan ada sesuatu yang tengah tidak beres mungkin sudah berjalan. Namun Vivi tak bisa mengartikan tentang apa yang ia rasakan.
Vivi memang kakak kandung dari Haji Jaka. Bahkan di masa tuanya ia telah menjadi istri Bupati Bagus yang begitu kuat serta melegenda sebagai Bupati sekaligus petarung utama TOH.
Namun Vivi adalah seorang wanita yang tak mampu bertarung seperti istri Haji muda Jaka yakni Putri. Vivi juga tidak mampu memanah seperti Sari istri dari keponakannya Lurah Dava.
Vivi hanya bisa merasakan dengan kepekaan yang tajam serta firasat-firasat akan satu hal yang bisa saja benar-benar terjadi di masa yang akan datang. Seperti halnya malam ini, betapa Vivi merasakan kengerian yang sangat mencekam.
Malam ini langit terlihat merah darah di mata Vivi. Tanah seakan banyak mayat berserakan dan sekejap lagi menghilang. Memandang sekitar yang ada hanya reruntuhan dan bau menyengat daging panggang. Lalu tak ada lagi kembali pada penglihatan semula.
“Astagfirullah apa yang sebenarnya akan terjadi. Apa yang akan berlaku di kota ini, apa yang aku lihat tadi semua nyata dan akan berlangsung sebentar lagi. Kenapa semua seakan terlihat nyata di mataku?” gerutu Vivi tanpa menyadari kalau Pak Bupati Bagus telah berdiri di belakangnya agak lama.
“Sayang kenapa belum bobok hem, pintunya juga belum di tutup lagi. Dewa ke mana juga jam tengah malam begini belum di tutup pintu depan kebiasaan ini anak?” gerutu Pak Bupati Bagus hendak menutup pintu depan rumahnya.
Namun langkahnya terhenti saat lengan tangan kanannya dipegang oleh Vivi. Seketika Pak Bupati Bagus kaget dan sontak menoleh. Bahkan wajah Pak Bupati berubah menjadi kekhawatiran. Saat melihat sang istri yang ia cintai mulai menangis.
“Loh ada apa Ma, kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Pak Bupati berjongkok di depan Vivi sambil mengusap air mata Vivi yang terus keluar tak kunjung berhenti.
“Ayah di mana anak kita Dewa dan Halilintar?” celetuk Vivi masih terus menangis bahkan sudah pada tahap terisak-isak.
Seketika dari arah kamar dan saling berebut mengambil tempat di depan Mamanya. Setelah berjalan cepat bak angin. Dewa dan Halilintar berjongkok di depan Mamanya. Sambil memandang Vivi dengan wajah heran.
“Mama siapa yang membuatmu menangis. Hayo Papa ya yang buat Mama sampai menangis begini. Hayo Papa ya, pasti ini Papa ini!” ucap Dewa yang selalu menghawatirkan dan paling perhatian pada Mamanya.
“Dewa tanya dulu Mamanya kenapa? Jangan langsung main tuduh sembarangan begitu,” ujar Halilintar yang selalu menengahi perdebatan di antara keluarga mereka.
Pak Bupati Bagus hanya tersenyum melihat tingkah kocak kedua putranya. Walau mereka sudah sama-sama dewasa. Malah Halilintar anak angkat pertamanya. Sudah lebih dari kepala tiga, terhitung sekarang ia berusia tiga puluh dua.
Tidak sulit bagi Halilintar yang sudah paham dan menguasai benar teknik teleportasi. Sangat mudah baginya untuk pergi ke satu kota menuju kota lainnya. Maka dari itu Halilintar jua sering pulang demi mengecek kesehatan Ibu angkatnya yang ia sayangi tersebut.
Sedangkan Dewa memang khusus belajar di dalam kota. Tetapi ia belajar dari seluruh pemuka TOH ring satu. Termasuk belajar pada Pamannya Haji Jaka dan Omnya Lurah Dava. Hari ini kebetulan kedua putra Pak Bupati Bagus sedang ada di rumah.
“Tidak anak-anakku, Mama tidak apa-apa. Tetapi beberapa saat yang lalu Mama seperti melihat sebuah peristiwa besar yang akan terjadi. Peristiwa tersebut seakan memakan banyak korban. Langit seakan memerah dan tanah dibanjiri darah sepenuhnya. Banyak mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana dan kota kita telah luluh lantak rata akan tanah. Sebab itulah Mama menangis,” jawab Vivi mengelus kepala kedua Putranya penuh kasih.
“Astagfirullah, anak-anak kalian tahu bukan apa yang harus kalian lakukan. Sebab biasanya firasat Mama kalian sembilan puluh persen benar dan bisa menjadi kenyataan. Tentu Papa juga berharap itu tak terjadi, tetapi biasanya memang terjadi. Pergilah kalian dan beri tahu semua tetua wilayah secepat mungkin,” ujar Pak Bupati Bagus.
“Baik Papa, eh Ayah, ah sebenarnya panggilnya apa ya yang lebih Pas. Begini saja, baik Rama Papa laksanakan,” ucap Dewa malah bercanda pada Papanya. Lalu ia berlari kencang keluar rumah bak angin secepat kilat.
“Papa tapi ini sudah begitu malam, apa tidak bisa besok saja anak-anak perginya. Mereka baru saja pulang Papa, malah di perintahkan untuk pergi lagi,” ujar Vivi yang kesal pada sang suami. Sebab anak-anaknya baru saja pulang rindunya belum habis atas putra-putra tampannya.
“Mama firasat ini bukanlah isapan jempol belaka. Tadi siang Papa di datangi Mbah Raji yang tiba-tiba bertamu ke kantor Bupati. Beliau menyampaikan ada hawa aneh dari timur. Sebuah hawa negatif yang begitu besar tertumpuk pada satu wilayah hutan di kecamatan Wonosalam,” ucap Pak Bupati Bagus mengabarkan atas berkunjungnya Mbah Raji.
“Mbah Raji datang ya Pa, kangennya aku pada Mbah Raji. Tapi kalau Mbah Raji yang sudah berkata. Maka pasti itu benar Pa, sebab Mbah Raji sering berkeliling kota Jombang hingga pelosoknya. Demi menjaga kestabilan kedamaian yang telah terbentuk cukup lama ini Pa,” ucap Vivi.
“Sudah-sudah jangan dipikirkan sayang, biarkan kami yang memikirkan. Kita masuk kamar yuk Ma, kebetulan tadi Papa sudah minum jamu herbal penambah stamina loh,” ujar Pak Bupati Bagus menggendong Vivi dari kursi roda.
“Loh Pa, Pa, lah wong sedang bicara serius malah diajak bercanda. Terus penglihatan Mama tadi bagaimana?” tanya Vivi yang menurut saja di atas gendongan Pak Bupati Bagus yang terus berjalan ke arah kamar utama.
“Istriku yang masih cantik dan tetap awet muda. Kota Jombang ini memiliki segudang kesatria dengan silat gaib yang luar biasa. Jadi mana mungkin mereka para musuh bisa seenaknya meluluh lantakkan kota hingga rata dengan tanah seperti pada gambaran firasatmu itu,” ujar Pak Bupati Bagus membaringkan Bu Vivi di atas kasur di dalam kamar utama.
“Tapi aku tidak mau lagi kehilangan orang-orang yang aku cintai Pa. Sudah cukup dahulu aku kehilangan Ayah dan Ibuku. Aku tak mau lagi kehilangan kalian kali ini,” rengek Bu Vivi.
“Tidak akan sayang, aku tak akan ke mana-mana dan kau tak akan kehilangan suamimu ini. Sampai kapan pun, aku akan tetap di sisimu selamnya,” jawab Pak Bupati Bagus mulai mengecup kening Bu Vivi sebagai tanda permulaan cumbuan mesra malam ini.