TOH Level Up

TOH Level Up
Parit kematian



Ledakan bertubi-tubi dari sisa-sisa pecahan tubuh mumi di depan mata Alak. Begitu sangat mengejutkan dan memukul hati Alak. Sebab Fahmi tengah berada pas di tengah-tengah ledakan.


Saat asap dari ledakan mulai hilang tersapu angin. Saat itu Alak bergegas mendekat untuk mengetahui kondisi Fahmi. Apa masih hidup atau ikut hancur bersama sisa-sisa tubuh kedua mumi.


“Fahmi, oh tidak saudaraku!, Fahmi woi jangan bercanda. Perang masih berjalan dan malam masih belum sampai penghujung harinya. Fahmi tolong jawab aku, plis jangan bercanda Fahmi!” oceh Alak berlari mendekati kepulan asap sisa ledakan.


Ternyata yang tersisa hannyalah sebuah pedang api biru milik Fahmi. Pedang tersebut menancap di atas aspal dan masih menyala. Betapa terkejut Alak melihat keadaan yang ptidak ia duga-duga.


“Fahmi, loh, Fahmi, Fahmi kau di mana?” teriak Alak mencabut pedang Fahmi. Memegangnya pada gagang pedang dan api biru yang menjadi badan pedang dan berasal dari aura kekuatan Fahmi hilang seketika. Sebab hanya Fahmi yang mampu mengendalikan aura biru pedang tersebut.


Saat Alak tengah tertunduk dirundung kesedihan akan kehilangan saudaranya. Saat itu ternyata saudaranya belum lah meninggal. Fahmi ternyata hanya bercanda dan hanya ingin mengerjai Alak saja.


Kali ini Fahmi tengah berdiri melayang di atas Alak yang tengah tertunduk lesu. Tengah meratapi kepergian Fahmi dan Fahmi hanya tertawa mengekeh di atasnya.


Hehehe,


Suara tawa Fahmi sempat terdengar di telinga Alak. Seketika Alak terperanjat bangun dari duduknya saat meratapi kepergian Fahmi. Seketika wajahnya mendongak ke atas dan mendapatkan sosok Fahmi saudaranya tengah tertawa terbahak-bahak.


“Oh semprol turun kau! Aku sudah menangis dan sedih. Aku kira kau sudah dimakan cacing tanah. Jangan bercanda ini era perang, tidak baik bercanda dengan kematian. Kata orang Jawab dahulu pamali atau tidak baik. Kalau-kalau ada malaikat mencatatnya. Bagaimana kalau benar-benar terjadi heh,” omel Alak memegang kaki Fahmi lalu memaksanya turun.


Bruk,


“Atuh sakit bos!” teriak Fahmi saat ia jatuh setelah kakinya ditarik paksa oleh Alak.


“Bodo amat kau bercanda melulu, ini pedangmu. Ayo kita pergi, lain kali jangan kau ulangi bercanda seperti tadi,” ucap Alak masih jengkel pada Fahmi yang terlalu sering bercanda dan menggodanya.


“Halah, bercanda Bro serius amat. Ibarat kata seperti yang sedang viral di kalangan anak muda preng,” ucap Fahmi sambil menyunggingkan bibirnya berniat bercanda tak serius akan tingkahnya.


“Tadi itu sebenarnya aku juga sempat bingung dan syok. Saat serpihan tubuh kedua mumi itu kembali terangkat dan seakan beterbangan melingkari tubuhku. Saat itu sebenarnya aku juga sudah pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya. Tetapi anehnya seakan ada kilatan cahaya kuning yang mengangkatku seketika. Eh tiba-tiba saat aku membuka mati dari memejamkan beberapa saat menghindari ledakan. Aku sudah ada di atas kamu yang sedang menangis,” ujar Fahmi yang sebenarnya jua bingung akan apa yang terjadi.


“Cahaya kuning ya, hem, cahaya kuning, eh aku ingat,” cetus Alak menatap Fahmi yang jua menampakkan wajah tengah mengingat sesuatu.


“Mas Wahyu...!” teriak mereka berdua mengingat cahaya kuning yang berkelebat dab mampu menolongnya dari ledakan dahsyat tadi hannyalah Wahyu.


“Aduh..!” tiba-tiba dua tangan besar menjitak kepala mereka dari belakang. Namun tak begitu keras hanya selayaknya orang yang tengah gemas dengan kelucuan anak kecil saja.


“Loh Mas Wahyu kenapa kami dipukul?” ujar Alak sambil menggosok-gosok kepalanya bekas dijitak oleh Wahyu. Begitu jua dengan Fahmi sama dengan Alak menggosok-gosok kepalanya kesakitan.


“Baik Mas Wahyu laksanakan, hehe,” teriak Fahmi dan Alak langsung melesat ke arah desa Badas selatan.


***


Area persawahan yang masuk desa Badas utara semakin berkabut. Semakin gelap dan bertambah dingin pula. Rupanya bukan hanya siluman babi, manusia serigala dan para siluman kalong saja yang tengah menyerbu area Badas selatan.


Tapi ada satu bangsa setan lagi yang datang membantu para setan dan siluman yang lebih dahulu datang. Mereka adalah bangsa jerangkong hidup atau bangsa setan tengkorak. Mereka adalah setan-setan dengan susunan-susunan tulang orang mati. Membawa pedang tulang yang terkenal sangat beracun.


Bahkan pedang dari raja jerangkong. Setara dengan pedang api milik Haji Jaka dahulu kala. Bahkan mereka disebut-sebut tak bisa dimusnahkan begitu saja. Sebab setan jenis ini akan kembali tertata rapi dan menyusun kembali dari tulang-tulang yang hancur akibat musuh mereka dan kembali hidup.


Hanya para kesatria dengan elemen pengendali unsur api lah yang mampu menghancurkan mereka. Sebab tulang-tulang mereka sejatinya akan hancur menjadi abu dan debu apabila terbakar.


“Bagaimana Mas Evan, area perbatasan sudah semakin mengerikan. Hawanya bak hawa akan ada orang meninggal. Baunya begitu menyengat akan bau anyir darah,” ucap Rafi yang tengah berdiri di atas bambu dan berbicara dengan Evan menggunakan telepati.


“Sabat mereka belum ada tanda-tanda bergerak. Aku merasakan mereka hanya berdiri berjajar ribuan jumlahnya. Belum ada tanda-tanda mereka menyerang ke arah kita. Bagaimana keadaan teman-teman yang ada di parit depan tembok perbatasan kita?” ujar Evan menanyakan kondisi teman-temannya yang tengah bersembunyi di parit-parit panjang dan dalam di depan tembok perbatasan.


Mereka memang sengaja membuat parit-parit. Lalu menutupinya dengan jerami di atasnya. Tetapi sebelumnya para anggota Pemuda Kediri sudah mengisi parit-parit tersebut. Setelah parit tertutup jerami, mereka menutupinya lagi dengan dedaunan dan rumput-rumput.


Agar para siluman tertipu tentunya dan tak mengira di sepanjang depan tembok ada parit dan ada para Pemuda Kediri yang bersembunyi. Hal ini bertujuan saat para siluman melintas di atas mereka.


Mereka dapat dengan mudahnya menghunuskan senjata-senjata mereka ke arah siluman. Seperti halnya puluhan tahun lalu yang pernah dilakukan sesepuh-sesepuh dan orang tua mereka.


Argtz,


Argtz,


“Tidak, tolong, Argtz!” tiba-tiba teriakan-teriakan kematian meraung-raung di depan tembok. Tepatnya di parit-parit yang sejatinya untuk menjebak para siluman.


“Loh, loh, loh, ada apa, ada apa. Kenapa dan teriakan siapa itu. Coba lekas cek, cepat lekas cek keadaan parit!” teriak Evan memerintahkan anggotanya untuk memeriksa parit-parit yang ada di depan tembok perbatasan.


“Ada apa Mas Evan, teriakan apa itu?” ucap Onal menghampiri Evan yang tengah berdiri di balik tembok.


“Mas bukankah itu teriakan teman-teman yang ada di dalam parit. Kenapa mereka seakan tengah mengalami sakaratul maut. Kenapa mereka seolah-olah seseorang yang tengah dibantai?” ucap Rafi yang ikut turun menghampiri Evan.


“Sabar kita belum tahu apa dan siapa yang berteriak. Bisa saja ini hanya jebakan agar kita keluar terlebih dahulu menyerang dan mereka dapat dengan mudah membantai kita,” jawab Evan meminta teman-temannya untuk berhati-hati dan tetap waspada.