TOH Level Up

TOH Level Up
Setan yang menang



“Bagaimana Bos sudah puaskah dirimu? Ini kalau di dalam tatanan ras manusia sangat disalahkan loh Bos. Bisa jadi mempercepat usia bumi menuju kehancuran,” ucap salah satu anak buah bayi setan dari beberapa yang datang.


Mereka ada sepuluh orang dan semuanya adalah manusia. Tetapi mereka manusia tak beradap, para manusia yang mengabdikan jiwanya pada setan.


“Eh Bos apa boleh kami icip sedikit lah. Kayaknya enak itu tubuh Bu Lurah,” timpal anak buah yang satunya.


“Sudah ayo nanti terburu Lurah Dava pulang. Aku mencium bau-bau Ayahku itu pulang. Mana kantong yang aku pesan untuk membawa tubuh Bu Lurah? Segera kita serahkan pada Dokter gila itu,” jawab Bayi setan mengambil sebuah kantong kecil yang tengah di genggam salah satu anak buahnya.


“Siap...!” jawab serempak sepuluh anak buah bayi setan.


Setelah itu kantong kecil yang diambil dari anak buahnya. Dia arah kan ke arah ranjang, bayi setan jua agak berkomat-kamit membaca sebuah mantra.


Tiba-tiba ada angin besar seakan menghirup tubuh Ibu Sari. Akhirnya dengan sekejap tubuh Ibu Sari tersedot ke dalam kantong yang di bawa oleh bayi setan. Segera setelah itu kantong diikat dengan gelang karet khusus yang ia bawa.


“Sudah ayo kita pergi,” perintah bayi setan lantas dibarengi menghilangnya sepuluh anak buah bayi setan dengan cepat.


“Ayah maafkan aku membuat kau sengsara. Salah sendiri kau tak menjaga Ibu dengan baik, hahaha,” ucap bayi setan namun sudah jua lenyap sosoknya. Hanya suaranya yang menggema di dalam kamar utama Lurah Dava.


Kini tinggallah barang-barang mati seperti lemari dan rak atau meja di dalam kamar membisu sebagai saksi bisu. Sebuah saksi mati akan kematian Sang Dewi dari istri pemimpin klan Haji Kardi.


Hanya tersisa hawa kengerian dan genangan bekas darah yang keluar dari robeknya daging sensitif Ibu Sari. Hanya tersisa cairan putih najis agak kental yang keluar dari rudal bayi setan di atas seprei bunga-bunga.


“Sayang aku pulang,” ucap Lurah Dava yang tiba-tiba muncul sekejap mata di dalam kamarnya yang sudah gelap dan berantakan.


Tampak baju piama tidur Ibu Sari telah robek-robek tergeletak begitu saja di lantai. Seprei dan selimut jua tak beraturan tempatnya. Bahkan ranjang utama kamarnya patah di beberapa sisi.


“Apa-apaan ini woi, Ma dimanah kau, sial! Siapa yang melakukan semua ini. Dek Sari ke mana kau sayangku?” teriak Lurah Dava terduduk lemas tak mampu membayangkan apa yang terjadi sebelum ia datang.


Lalu dengan mata gaib yang ia aktifkan. Lurah Dava mencoba menerawang kilas balik kejadian sebelumnya. Tiba-tiba wajah Lurah Dava memerah marah. Seketika matanya menampakkan kemarahan total.


Saat pandangannya masih fokus melihat kilas balik dalam penerawangan tentang yang terjadi sebelumnya di kamarnya. Tiba-tiba bayi setan dan sepuluh anak buahnya kembali. Muncul secara tiba-tiba dan mengepung Lurah Dava.


Lalu dengan begitu cepat leher Lurah Dava ditebas dengan pedang setan milik bayi setan. Darahnya mengucur dari bekas tebasan. Ada pula yang sampai mancur dan muncrat ke dinding sebelahnya.


Setelah puas menebas Lurah Dava. Bayi setan dan anak buahnya jua mengarungi tubuh Lurah Dava.


Elang yang mengetahui hal itu namun sudah terlambat pula untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Lekas mengejar bayi setan dab anak buahnya.


“Woi, apa yang kalian lakukan setan jahanam!” teriak Elang yang baru datang. Walau masih di luar rumah. Tepatnya masih berada di depan pagar. Tapi Elang dengan daya mata indranya dapat mengetahui dengan jelas apa yang terjadi.


Walau Elang mengejar dengan teleportasi cepatnya. Namun Elang keburu di hadang ratusan pasukan setan lainnya.


***


“Apa-apaan ini desa, kenapa desa terkuat seperti desa Mojokembang bisa hancur seperti ini?” ucap Ustaz Khotib tengah bingung di tengah-tengah desa Mojokembang yang sudah porak-poranda.


“Eh Haji Jaka, apa rumah Haji Jaka baik-baik saja?” gerutu Ustaz Khotib segera menytarter motor matik miliknya menuju ke arah rumah Haji Jaka yang ada di ujung desa Mojokembang paling selatan.


Sampai di area depan rumah Haji Jaka. Ternyata kondisi rumah Haji Jaka sudah porak-poranda. Bahkan kondisinya sudah runtuh akibat terbakar.


“Allahuakbar siapa yang melakukan semua ini? Pak Haji, Bu Hajah di mana kalian?” teriak Ustaz Khotib mencoba mencari Haji Jaka dan Umi Putri namun tak menemukannya yang ada hanya reruntuhan bangunan rumah habis terbakar.


“Hai Ustaz Khotib, apa kau mencari Haji Jaka dan Umi Putri. Tenang saja mereka sudah beristirahat dengan damai,” ucap sosok tengkorak hitam bernama Raja setan tengkorak Jerangkong hidup. Sosok tersebut keluar dari bayang-bayang gelap salah satu sisi reruntuhan di rumah Haji Jaka.


“Siapa kau, apa yang sebenarnya dengan desa ini?” tanya Ustaz Khotib dengan terus waspada akan segala kemungkinan yang terjadi.


“Sabar Ustaz muda dan malam ini hanya kau yang tersisa di desa Mojokembang yang telah hancur luluh lantak rata akan tanah. Jadi kau harus melawanku kali ini, kau tahu malam ini telah berkobar perang di seluruh kota Jombang. Benar malam ini adalah malam awal perang besar antara manusia dan setan,” cerocos Jerangkong hidup mengeluarkan pedang tulang miliknya.


“Baiklah kalau begitu tengkorak setan dan ini adalah maumu bukan kemauanku. Entah ini perang atau bukan, tetapi yang jelas kau telah salah melangkah. Para setan telah salah melangkah dengan mengobarkan perang malam ini,” ujar Ustaz Khotib dan dia adalah salah satu murid, teman dan tangan kanan di pondok pesantren milik Haji Jaka.


“Hahaha, dasar anak muda yang tak tahu apa-apa. Bahkan kau hanya berada dalam posisi ring kedua TOH kali ini. Lalu kau hendak melawanku yang berstatus Raja setan. Kau ini rupanya tiada tahu kalau kedua pemimpin pusat kota Jombang Haji Jaka dan Lurah Dava beserta keluarganya. Telah kami habisi dan kami bawa tubuh-tubuh mereka,” ujar Jerangkong hidup berjalan perlahan ke arah Ustaz Khotib.


“Apa, kenapa bisa, Argtz, huek, tjueh,” rupanya Ustaz Khotib kurang waspada dan konsentrasi. Sebab Jerangkong sudahlah melewatinya dengan cepat.


Bahkan tubuh Ustaz Khotib kini telah terbelah dua bagian. Hingga jatuh ke atas rerumputan di bawahnya. Darahnya begitu menggenang dengan mata melotot.


“Sudah aku bilang Ustaz muda, kau masih dalam tahap ring dua di TOH. Mana mungkin kau mampu melawanku yang sedang menyandang status Raja setan di kalangan setan tengkorak. Pada akhirnya kau mati jua di ujung pedang tulang milikku,” ucap Jerangkong hidup lalu ia menghilang seketika.