
“Jadi bagaimana ini Mas Mus?” ucap Sarmat malah bertanya pada Mustaji.
“Bagaimana apanya Mat?” jawab Mustaji seolah tak mengerti dari pertanyaan Sarmat.
“Gorila coklat ini loh, kelanjutannya bagaimana kok?” ucap Sarmat sambil menunjuk ke depan. Tempat di mana gorila raja pasukan kera menyerangnya.
Tetapi sekarang malah hanya tersisa abunya saja. Gorila sang raja kera telah hancur berantakan. Hanya tinggal sisa abunya saja yang beterbangan.
“Lah mana Mat kok tidak ada?” kali ini Mustaji yang balik bertanya dengan nada kebingungan. Padahal baru saja mereka melawan raja kera tersebut. Belum jua mereka mengalahkannya dan gorila sudah hancur musnah.
“Malah Mas Mus yang balik bertanya. Maka dari itu aku bertanya pada sampean Mas Mustaji petinggi Laskar L.A dari kota Lamongan yang terhormat. Jadi bagaimana, kenapa gorila raja kera bisa sekejap mata hancur begitu saja?” ucap Sarmat malah mengajak berdebat.
“Eh kok, loh he, loh kok, he,” ujar Mustaji malah bingung sendiri sambil melihat sisa abu dari tubuh gorila yang terbakar.
“Lah kok, lah he, Mas Mus memangnya bukan yang membakarnya. Terus kalau bukan Mas Mus siapa lagi dong yang membinasakan gorila coklat nyam-nyam itu?” ujar Sarmat terus bertanya mengira Mustaji yang membinasakan gorila sang raja kera.
“Enggak Mat, aku kan dari tadi di depan kamu. Mana ada aku membakar gorila coklat blaem-blaem si sontoloyo itu. Terus siapa ya yang begitu cepat tanpa kita sadari bisa membunuh setan level raja. Tentunya dia bukan petarung sembarangan ya,” ujar Mustaji sambil mengelus dagunya tanda berpikir.
“Kamu nannya, kalian bertanya-tanya? Baiklah aku kasih tahu ya,” tiba-tiba Elang sudah berdiri di belakang mereka berdua sambil memegang pedang sakti miliknya.
“Elang! Woi Elang,” celetuk Mustaji dan Sarmat berbarengan. Dalam posisi tatapan wajah kaget dan melongo.
“Sudah-sudah ayo pergi ke pusat kota Jombang. Makanya kalau bertarung jangan bercanda saja. Kalian dari dahulu masih saja tidak berubah. Memang sih kalian termasuk jajaran petarung di era tua lima kota besar. Tapi bisa jadi kalau musuh lebih kuat, taktik kalian malah jadi bumerang bagi kalian sendiri,” ujar Elang yang datang secara mengejutkan. Bahkan bisa membunuh gorila sang raja kera dengan begitu cepat.
“Eh sebentar terus prajurit kera yang jumlahnya ratusan di bawah pada ke mana ya Elang. Apa kamu binasakan juga, masak iya kok cepat sekali?” Mustaji terus bertanya keheranan kali ini menanyakan prajurit kera pada Elang.
“Makanya hiiih, kok jadi gemas aku sama kalian berdua. Jangan pakai lagi lah kalau bisa teknik pengecoh transparan kalian. Kalau kalian malah bercanda dalam pertarungan. Saat kalian bercanda bisa saja satu desa habis dihancurkan oleh prajurit kera tersebut. Saat kalian bermain-main saya sudah menghabisi seluruh prajurit kera,” jawab Elang.
“Tapi sebentar Elang, bukannya kamu ada di perbatasan timur tadi. Kenapa sekarang bisa langsung ada di sini. Perbatasan utara dan timur jaraknya lumayan jauh loh Elang. Kok bisa kamu secepat itu?” kali ini giliran Sarmat yang bertanya. Sarmat memang salah satu pemuda yang sudah berada dalam jajaran petinggi atau jajaran ring satu di kotanya. Dia dapat mengilas balik atau menerawang begitu jauh dari tempatnya.
“Kamu nannya, kamu bertanya-tanya, baiklah biar aku kasih tahu ya,” ujar Elang malah kembali bercanda.
“Halah semprol ini bocah ditanya orang tua kok malah bercanda,” cetus Sarmat agak kesal.
“Eh buset, burung elang sang legenda. Ternyata benar ada dia si burung elang. Eh benaran kalian lahir bareng, berarti burung elang itu kakakmu ya Elang?” ucap Mustaji masih mendongak melihat burung elang besar terus terbang memutar di atas mereka.
“Ya benar, sudah ayo kita pergi ke pusat kota. Kalian sudah di tunggu Mas Wahyu di sana,” ucap Elang seketika melompat tinggi ke arah burung elang yang tengah terbang memutar di atas mereka.
“Halah padahal aku sudah berharap membunuh raja kera itu. Lalu memamerkan padamu Mat, malah kedahuluan sama Elang,” ujar Mustaji seraya melompat ke bawah tebing.
“Eh Mas Mus, apa Cuma kita berdua yang pergi. Apa yang lain tidak kita ajak Mas, Woi Mas Mus tunggu, ah menyelonong saja dia,” gerutu Sarmat ikut terjun bebas ke bawah tebing.
Sementara itu di sisi hampir tengah kota. Pada sebuah gedung bekas sekolah menengah atas yang sudah runtuh. Hanya tinggal menyisakan beberapa ruang saja.
Ibu Sari yang memimpin anggota para Srikandi. Tengah berjaga bersama Fitri dan Sekar. Seakan mereka tiada pernah tertidur dan selalu terjaga. Walau baru saja mengalahkan ratusan anjing setan dengan bantuan satu bayangan Wahyu.
Tetap saja mereka harus terus waspada. Karena ancaman bisa datang dari mana saja tanpa diduga-duga.
“Ibu apa kau tidak istirahat terlebih dahulu. Biarkan saya dan Fitri yang berjaga. Saya lihat Ibu Sari sudah begitu lelah tidurlah Ibu,” ucap Sekar yang duduk di samping Fitri sebelah kiri. Lalu Ibu Sari berada di samping kanan Sekar. Sedangkan anggota Srikandi yang lain tengah beristirahat di dalam sebuah ruangan. Mereka tengah duduk di depan ruangan tersebut.
“Aku tidak bisa tertidur Sekar sebelum kota Jombang benar-benar aman dari para setan. Selama kita masih dalam keadaan berperang. Aku tidak akan bisa tertidur, kalau kalian ingin istirahat, istirahatlah,” jawab Ibu Sari tersenyum manis.
“Tidak Ibu saya akan menemani Ibu Sari. Begitu jua dengan Mbak Fitri tentu sependapat denganku. Benarkan Mbak Fitri?” ucap Sekar menatap Fitri.
“Benar Dek Sekar, eh tapi apa tadi Mas Wahyu tadi Cuma bayangan ya. Kok bisa masa aktifnya habis seperti tadi ya?” tanya Fitri agak bingung.
Tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang bergerak begitu cepat ke arah tiga Srikandi tersebut. Sebuah bayangan hitam melesat dari arah belakang dan menyambar Ibu Sari.
“Eh loh, loh Ibu Sari, he Ibu Sari Dek Sekar Ibu Sari,” teriak Fitri begitu tercengang ketika Ibu Sari di sambar bayangan tersebut.
“Ya Allah Ibu! Woi jangan bawa Ibu Sari,” Teriak Sari melepaskan satu panah ke arah bayangan tersebut. Namun panah api yang dilepaskan Sari malah pecah sebelum mengenai bayangan tersebut.
“Ibu Sari he, Ibu Sari jangan di bawa!” teriak Fitri dan Sekar berlari mengejar bayangan yang menyambar Ibu Sari.