TOH Level Up

TOH Level Up
Medan area kali Konto



Gemercik aliran kali Konto sudahlah tidak bening lagi. Walau keruh, keruhnya sudahlah tak berwarna air sungai secara umum.


Seakan aliran sungai yang sering disebut dengan nama kali Konto. Kali ini, malam ini berwarna merah kehitam-hitaman.


Sesuai warna darah alami dari tubuh manusia. Ada jua campuran warna hijau kehitam-hitaman. Kalau warna seperti ini tentu darah dari bangsa siluman.


Arena perang kali Konto kali ini bukanlah di tengah sungai seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi di tepian sisi barat walau kadang merembet sampai tengah sungai.


Mayat-mayat dari pemuda karang taruna desa Mojokembang yang sudah terlatih dan sebelumnya telah dilatih oleh para petinggi TOH. Terus berjuang menghadapi satu bangsa berlabel siluman beruk.


Beruk sendiri secara segi umum atau pengertian umum. Sejenis hewan gaib di tepi sungai dan selalu berkelompok. Wujudnya seperti kucing namun agak besar. Cenderung seperti macan tapi bertubuh kecil selayaknya anjing.


Legenda di tanah Jawa tentang Beruk adalah hewan yang sangat gaib. Mereka hidup berkelompok, tapi tidak pernah diketahui orang di mana rumah atau persembunyian atau habitat mereka. Tetapi apabila satu beruk diganggu dan mereka melolong dengan suara kucing yang khas. Maka akan datang puluhan beruk lainnya.


Raja Diraja Beruk bernaka Raja Ramones malam ini memimpin ratusan pasukannya. Melawan divisi tiga kembar dari karang taruna desa Mojokembang binaan Haji Jaka.


Tiga kembar anak kedua dari legenda Hasan dan Nurma tersebut memang dipilih sebagai ketua Karang Taruna. Karena menuruni kekuatan dari Ayah dan Ibunya.


Ayahnya Almarhum Hasan Jaelani dahulu adalah salah satu punggawa kuat dari TOH di masa kepemimpinan Haji Kasturi. Nyai Nurma Yanti Sang Ibu dahulu adalah dukun wanita terkenal ahli teluh dan ilmu pelet dari desa Mojokembang.


Maka dari itu tiga kembar Yana, Yanu dan Yayan. Menuruni teknik-teknik gaib dan kecakapan para orang tuanya. Kali ini mereka memimpin empat puluh pemuda karang taruna desa Mojokembang. Melawan bangsa siluman beruk yang berjumlah ratusan.


Walau separuh lebih pasukan divisi karang taruna sudah banyak yang gugur. Begitu jua dengan pasukan bangsa siluman beruk. Tetapi pertarungan masih terus berlanjut dengan sengit.


“Assalamualaikum Panglima karang taruna desa Mojokembang. Saya datang menggantikan ketua Santo untuk mengabarkan berita. Mana dua adikmu Panglima karang taruna?” ucap Yanto menemui Yayan yang tengah terus bertarung di tengah aliran kali Konto.


“Waalaikumsalam, mereka sedang berjuang mati-matian mempertahankan desa Mojokembang di sisi lain. Berita apa yang kau bawa kawan? Baikkah atau justru burukkah. Memang ke mana Mas Santo kok kamu yang menggantikan tugasnya,” jawab Yayan masih terus menebas beberapa pasukan beruk dengan pedang apinya.


“Mas Santo telah gugur di medan perang area pasar Ngoro. Berita kali ini tak ada kabar baik dari setiap lini kota Jombang. Beberapa saat lalu memang ada divisi kita yang sempat memenangkan pertarungan dengan salah satu bangsa setan. Tetapi mereka kalah kembali dan pemimpinnya gugur sudah,” jawab Yanto.


“Innalillahi Wainna Ilaihi Raziun, kalau begitu katakanlah tentang beritanya. Entah itu seburuk apa pun akan kami terima,” ujar Yayan menatap Yanto penuh rasa haru atas kematian Santo kakaknya Yanto.


“Kabar yang saya bawa atas semua kematian petinggi terutama dua petinggi utama kita. Haji Jaka bersama Umi Putri dan Lurah Dava bersama Ibu Sari. Mereka meninggal secara mengenaskan dan jasad mereka menghilang entah ke mana,” ucap Yanto ikut menghajar beberapa pasukan siluman beruk.


“Woi Yana dan Yayan lihatlah adik kalian satu ini. Tubuhnya sudah meregang nyawa dan tak mampu lagi bergerak di genggamanku. Menyerahlah kalian para pemuda Mojokembang. Kalau kalian menyerah kami akan membunuh kalian secara singkat. Tidak akan kami menyiksa kalian terlebih dahulu sebelum kematian,” ujar Ramones dengan memegang Yanu yang sudah tak bernapas lagi.


“Tidak Yanu adikku, Mas Yayan, Yanu Mas!” teriak Yana di ujung yang lain berlari ke arah Ramones dengan kemarahan memuncak. Bahkan teknik api amarah yang diajarkan oleh Haji Jaka. Tampak menyelimuti tubuh Yana sambil berlari di atas aliran kali Konto ke arah Ramones.


“Yana jangan gegabah jangan terburu nafsu. Raja Ramones bukan tandinganmu Adikku. Berhentilah Yana jangan kau teruskan kita serang bersama-sama. Jangan kau mengambil keputusan sendiri,” teriak Yayan meneriaki Yana yang terus berlari ke arah Ramones.


Tetapi Yana sudah dibakar amarah memuncak. Yana sudah kadung mendekat ke arah Ramones dengan api amarahnya.


“Datanglah Yana kepadaku dan akan aku antarkan kau menemui Yanu kakakmu yang sudah berganti alam di tanganku. Yayan saksikanlah kematian demi kematian Adikmu di tanganku,” teriak Ramones berlari menghadang Yana.


Tiba-tiba saat keduanya bertemu dan beradu pedang. Bahkan posisi Yana dan Ramones sudah saling melewati dan membelakangi.


Bruk,


Kepala Yana terputus sudah dari badannya. Jatuh hanyut bersama aliran sungai Konto. Jua badannya jua ikut hanyut bersama aliran kali Konto.


Yana menangkap jasad Yana dengan isak tangis. Sebab sebelumnya jasad Yanu jua telah ia tangkap dari aliran sungai Konto. Lalu membawanya ke tepian sungai penuh rasa kesedihan yang mendalam.


“Tenanglah kalian di sini sebentar adik-adikku. Akan aku balaskan kematian kalian dan aku akan kembali untuk memakamkan kalian dengan layak,” ujar Yayan meletakkan jasad Yana di samping jasad Yanu di tepi sungai.


“Panglima bagaimana ini? Para petinggi sudah banyak yang gugur. Pasukan dari divisi kita semakin lama semakin berkurang. Semula kita seratus orang lebih dan kini tinggallah empat puluh jumlahnya,” ucap salah satu punggawa karang taruna desa Mojokembang di bawah komando Yayan sekarang.


“Baiklah Yayan aku akan coba mencari bantuan terdekat. Agar ada yang membantu kalian di area kali Konto ini. Semoga aku bertemu satu pasukan di dekat-dekat sini dan mereka tidak sedang bertempur. Lalu akan aku ajak mereka kemari,” ucap Yanto berpamitan pada Yayan.


“Baiklah terima kasih sudah memberi kabar kepada kami. Semoga kau menemukan satu pasukan dari pihak TOH di dekat-dekat sini. Semoga saat menemukannya semua belum terlambat kawan,” jawab Yayan.


“Baiklah aku pergi kawan jaga dirimu baik-baik. Kita berjuang sampai titik darah penghabisan menjaga kota ini dari kehancuran. Assalamualaikum,” ucap Yanto bergegas pergi meninggalkan arena pertarungan medan area kali Konto.


“Baiklah Ramones mari kita beradu ilmu dengan sebenar-benarnya kesatria. Marilah kita beradu kekuatan selayaknya kesatria sejati,” ujar Yayan berdiri kembali dan mulai menerapkan teknik api amarah sesuai yang diajarkan Sang Guru besar mereka Haji Jaka pemimpin utama yang telah gugur sebelumnya dan mulai melesat ke arah Ramones.