TOH Level Up

TOH Level Up
Vs Gorila Coklat



“Apa yang kalian lakukan wahai pemuda-pemuda dari ras manusia. Kenapa kalian mengintai kami dari atas tebing?” ujar sesosok gorila sang pemimpin dari ribuan kera yang terus bergerak menuju kota Jombang.


Sosok Gorila berwujud besar dengan wajah ganas dan memakai jubah emas tersebut bahkan bisa melayang di udara. Hal ini menandakan kalau gorila tersebut bukanlah makhluk sembarangan.


Sambil membawa gada saktinya, sang gorila menatap Sarmat dan Mustaji yang tengah kaget. Sebab menerima serangan secara tiba-tiba dari Raja monyet tersebut.


“Kami yang seharusnya bertanya kepadamu. Kenapa kau dan bangsa keramu melewati perbatasan yang kami jaga? Asal kalian tahu gunung pegat masih dalam area Lamongan yang kami jaga,” ucap Mustaji ikut melayang sejajar dengan gorila. Walau secara wujud Mustaji dan Sarmat begitu kalah besar dengan gorila dengan perbandingan terlalu jauh.


“Kami bangsa tak kasat mata jadi terserah kami mau berada di mana saja. Selain dari Maharaja kami, kami tidak akan mematuhi perintah siapa saja. Bahkan perintah Maharaja kami binasakan semua yang menghalangi perjalanan kami termasuk kalian,” ucap gorila sambil melancarkan serangan dengan cara menyabetkan gada saktinya ke arah Sarmat dan Mustaji.


“Awas Mas Mus, di belakangmu,” teriak Sarmat mengingatkan Mustaji. Bahwa arah serangan gada sakti milik gorila lebih mengarak ke Mustaji.


Brak, Dar,


Sarmat memang sempat menghindar dan berhasil mengelak dari gada sakti yang diayunkan oleh gorila. Tetapi Mustaji belum sempat menghindar dan terkena hantaman gada sakti. Sampai-sampai tubuh Mustaji melesat, terpental jauh ke sisi tebing sebelah barat. Sebab pertempuran antara Sarmat dan Mustaji melawan gorila berada di atas tebing sisi timur.


“Mati kau anak muda pemimpin ras manusia kota Lamongan. Sebab tidak ada satu manusia pun yang mampu menahan hantaman gada saktiku dan pasti akan langsung berpindah alam,” cerocos gorila begitu jemawa.


“Sial kau Raja kera! Mas Mustaji, Mas Mus apa kau baik-baik saja?” teriak Sarmat memanggil Mustaji yang sudah tak terlihat. Sebab tubuhnya seakan tertanam di permukaan tebing sisi barat.


Rupanya hantaman gada sakti gorila begitu kencang. Membuat Mustaji seakan tertelan permukaan tebing yang seluruhnya terbuat dari batu. Bahkan secara pengertian manusia dalam keadaan seperti Mustaji sudah pasti langsung mati.


“Sudahlah anak muda yang bernama Sarmat dan teman anak muda yang tadi sudah mati. Jangan kau harap temanmu tadi akan hidup. Tidak akan mungkin ada yang mampu menahan gadaku ini, hahaha,” oceh gorila begitu yakin kalau Mustaji telah mati.


“Heh, apa kau yakin, akan ucapanmu dan keyakinanmu itu gorila. Kami manusia saja tidak berhak memiliki satu tempat di bumi ini. Apa lagi membunuh satu makhluk sekali pun. Sebab semua adalah atas kepunyaan Allah dan atas Allah kematian itu terjadi. Tetapi kami akan membunuh kalian sebab kami hanya membela diri dan itu diperbolehkan,” ujar Sarmat mengeluarkan pedang angin miliknya.


Sebuah pedang angin yang selalu aktif ketika digunakan pemilik aslinya. Sebab legendanya pedang angin hanya dimiliki para tetua keturunan pusat dari organisasi laskar L.A era tua. Laskar L.A yang berpusat di kota Lamongan akan selalu menurunkan pedang angin pada keturunan-keturunannya.


“Baiklah kalau begitu aku tinggal membinasakanmu saja. Lalu aku akan membinasakan para petarung kota Jombang,” ujar gorila kembali melesat ke arah Sarmat. Begitu jua Sarmat yang melesat sambil mengayunkan pedang angin miliknya.


Tetapi belum sampai mereka beradu senjata saktinya. Belum jua mereka berdekatan, masih sedikit lagi bertemu pada satu titik. Mustaji kembali muncul secara tiba-tiba di depan Sarmat. Sambil menyepak gorila dengan telak dan membuat Sarmat mengerem laju serangannya.


Brak,


Dar,


Kali ini tendangan atau sepakan Mustaji dapat melemparkan tubuh gorila yang begitu besar. Bahkan gorila sampai membentur batu besar. Hingga batu besar tersebut hancur berantakan.


“Jangan meremehkan para petarung di dalam kota Jombang. Kami saja selalu kalah apabila berhadapan dengan mereka. Apalagi kalian mungkin dengan satu tetua muda era level kali ini saja. Kalian bisa dihabisi seluruhnya, jangan meremehkan kami setan!” teriak Mustaji tampak begitu emosi.


“Alhamdulillah Mas Mus kau masih selamat. Aku kira aku sudah kehilangan teman untuk mengontrol kembali perbatasan kota Lamongan,” ujar Sarmat berwajah sedih.


“Kau ini sama saja mendoakan Masmu ini mati ya. Sini aku pukul kau, memang Masmu ini bisa mati begitu saja hanya dengan serangan seperti tadi,” ujar Mustaji memukul kepala Sarmat tapi tak sepenuh tenaga.


“Aduh sakit Mas!” celetuk Sarmat.


“Apa kalian sudah puas bermain? Apa kalian sudah selesai bercanda. Kalau sudah selesai biar aku yang kembali menyerang kalian,” ucap gorila yang sudah kembali melayang di antara Sarmat dan Mustaji.


Tiba-tiba ia melepas seluruh perlengkapan jubahnya yang terbuat dari emas. Rupanya jubah tersebut begitu berat. Sampai-sampai saat dijatuhkan di atas permukaan atas tebing yang seluruhnya terbuat dari batu retak dan amblas beberapa senti meter.


“Waduh kami takut sekali, hehe!” celetuk Mustaji mulai mengintimidasi gorila.


“Eh Mas Mustaji begini, kalau kita meladeni gorila ini terus. Tentu ada kesempatan bagi prajurit kera di bawah itu untuk terus bergerak ke dalam kota Jombang,” ucap Sarmat yang khawatir akan pasukan kera yang rupanya telah masuk kota Jombang separuhnya.


“Benar juga katamu Sarmat, apa kita tinggal saja gorila coklat ini. Kita berpindah ke perbatasan pas di balik bukit gunung pegat di area selatannya. Bisa-bisa kalau kita biarkan para prajurit kera itu masuk kota Jombang. Nanti para tetua kota Jombang menganggap kita tak membantu mereka,” ujar Mustaji sambil bergaya berpikir.


Sedangkan gorila yang sudah menyerang beberapa kali ke arah Mustaji dan Sarmat. Malah dikejutkan oleh teknik transparan milik Sarmat dan Mustaji. Sehingga ayunan gada sakti gorila kali ini selalu menembus tubuh Sarmat dan Mustaji. Tanpa mengenai tubuh mereka dan hanya melewati begitu saja.


“Eh Pak Gorila ada apa? Sebentar dulu kami sedang berunding. Jangan menyerang dahulu, kami sedang memutuskan akan terus melawanmu atau membinasakan rakyatmu,” ucap Mustaji seakan mengejek gorila yang terus memukul ke arah Sarmat dan Mustaji tapi tidak mengenai mereka.


“Kurang ajar kalian, apa kalian benar-benar manusia? Atau kalian sejenis astral seperti kami,” ujar gorila yang sudah kelelahan mengayunkan gadanya. Walau jubahnya yang berat sudah dilepaskan dan ayunan gadanya sudah bertambah cepat tetapi sama saja. Sebab kali ini yang digunakan oleh dua kesatria petinggi Laskar Lamongan atau Laskar L.A tersebut adalah teknik transparan.


“Menyerah, sudah menyerah? Apa kau sudah menyerah Pak Gorila?. Sekali lagi deh serang kami ayo,” ucap Sarmat ikut mengejek gorila yang tampak kebingungan dan kehabisan akal menyerang dua pemuda utama kota Lamongan tersebut.


Tetapi tiba-tiba tanpa diperintah pasukan kera yang ada di bawah tebing. Bergerak secara cepat menuju kota Jombang. Ada teriakan-teriakan kematian di perbatasan di arah desa perbatasan yang dilewati pasukan kera.