TOH Level Up

TOH Level Up
Diskusi ranjang bambu



Mbah Raji tampak asyik dengan alunan lagu lama yang keluar dari suara radio lama di depannya. Mbah Raji malam ini tengah duduk di atas ranjang kecil yang ia buat sendiri.


Ranjang kecil persegi panjang berukuran tak lebih dari dua meter kali satu setengah meter tersebut dibuat sedemikian rupa. Berasal dari anyaman bambu yang ia ambil dari hutan bambu miliknya tak jauh dari halaman belakang rumahnya.


Rumahnya jua masih tergolong rumah lama berdinding separuh bambu separuh anyaman bambu. Menghadap ke selatan pas menghadap luasnya persawahan desa Badas utara.


“Rupanya ada tamu yang datang,” gerutu Mbah Raji sambil menyeruput secangkir kopi di depannya sebelah radio. Rupanya Mbah Raji sudah tahu jikalau Dewa dan Halilintar hendak bertamu malam ini. Bahkan kedatangan Dewa dan Halilintar dibarengi oleh beberapa pemuda generasi tiga TOH lainnya.


“Assalamualaikum tetua utama TOH,” ucap Halilintar mengaturkan salam awal kedatangan. Sebab Halilintar yang paling tua di antara jajaran TOH generasi ketiga.


“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Tumben anak-anak muda kesatria Jombang datang berkunjung ke gubuk reot Pak Tua yang sudah tua renta ini. Ada apakah gerangan sehingga seluruh generasi ketiga TOH berkumpul di rumahku?” jawab Mbah Raji memandang banyaknya pemuda yang datang ke gubuk tuanya.


“Ah Mbah Raji tentu menguji kami. Bukankah Mbah Raji adalah salah satu tetua utama kami. Bukankah Mbah Raji adalah salah satu petinggi utama kami. Sudah barang tentu Mbah Raji sudah tahu akan maksud dan tujuan kami datang kemari?” ucap Halilintar menaiki ranjang dari bambu dan ikut duduk bersila di samping Mbah Raji.


“Hehehe, kalau memang sudah waktunya terjadi dan itu adalah garis takdir. Bagaimana pun jua usaha kalian menggagalkannya. Perang terakhir kami para tetua pasti akan terjadi. Bukankah kalian sudah memahami yang tua akan selalu diganti dengan yang muda,” kelakar Mbah Raji mulai memberi jawaban dengan penuh teka-teki seperti biasanya.


“Kakek ini selalu saja memberi kami teka-teki yang selalu sulit untuk kami uraikan jawabannya. Maksud Kakek Raji bagaimana dengan peperangan akhir bagi para tetua?” Dewa malah bertanya balik dan menggaruk-garuk kepala tanda belum mengerti sepenuhnya.


“Dewa, Dewa, ada siang tentu ada malam, ada laki-laki tentu ada perempuan. Seperti halnya ada kehidupan pasti ada kematian. Semuanya telah dituliskan sebagai lembaran perjalanan takdir hidup manusia. Maka sudah hukum alam kalau yang tua akan selalu diganti oleh yang muda,” oceh Mbah Raji mulai menuruni ranjang kecil dari bambu buah tangannya. Lalu masuk ke dalam rumah dengan gerakan cepat.


Lalu keluar lagi membawa nampan berisi lima gelas kopi. Setelah menaruhnya di atas ranjang kecil pada bagian yang kosong. Mbah Raji kembali lagi ke dalam rumah dengan membawa nampan kosong yang isinya telah ia letakkan.


Begitu terus berulang-ulang secara cepat hingga semua pemuda kebagian secangkir kopi. Padahal jelas-jelas Mbah Raji hanya memiliki lima cangkir kopi.


Sebab biasanya hanya lima pemuda yang bertandang ke rumah Mbah Raji. Tetapi kali ini ada lima puluh lebih pemuda dari ring satu golongan atau generasi tiga bertamu ke rumah beliau.


“Tapi aku masih penasaran, maksudnya apa Mbah dengan ucapan-ucapan Mbah. Apa akan ada perang lagi, apa masih ada setan-setan lagi yang akan menyerang kota Jombang?” ucap Alak namun tetap menyeruput kopi hitam yang masih panas di depannya.


“Alak kau akan tahu nanti, bahkan peran kalian berdua akan vital di masa depan. Mungkin tiga tahun lagi kalian yang akan memimpin klan Raji dan mungkin saja nama kalian akan dikenal sebagai kembar emas dari selatan,” jawab Mbah Raji kembali duduk bersila di depan Alak di samping Dewa dan Halilintar.


“Dewa dan kau Halilintar, yang hari ini menjadi ketua pemuda. Mungkin saja tiga tahun lagi kalian berdua akan menjadi tetua utama,” ujar Mbah Raji menatap Dewa dan Halilintar. Sedangkan pemuda yang lain tampak duduk-duduk di sekitar gubuk Mbah Raji mendengarkan diskusi lima ketua pemuda yang tengah duduk di atas ranjang kecil bersama Mbah Raji.


“Mbah janganlah kau menakut-nakuti kami. Mungkin kami berlima ini sudah pernah ikut dalam perang dan sudah tahu akibat dan konsekuensi perang bagaimana. Tapi lihatlah mereka di belakang kami. Wajah mereka masih begitu polos dan belum pernah sama sekali mengalami peliknya kondisi perang,” ujar Halilintar.


“Bukan menakut-nakuti Halilintar, tetapi aku bicara apa adanya. Setelah Haji Kasturi wafat, sebelumnya Haji Kasturi Sang Guru besar TOH itu pernah berpesan pada saya. Generasi kami adalah generasi kedua. Lalu ingatlah ada satu peristiwa besar yang akan menghabiskan generasi kedua dalam peperangan. Perang tersebut tak bisa dicegah, karena sudah takdirnya. Sebab perang itu adalah sebuah hukum alam pergantian dari yang tua menuju yang muda,” ucap Mbah Raji.


“Kalau aku mengerti apa yang Mbah bicarakan, sungguh mengerti akan maksud dan arti yang tersirat. Tetapi apa memang tak ada jalan mencegah perang itu terjadi Mbah? Apabila memang harus terjadi. Apa tidak bisa kejadian habisnya generasi dua itu dibatalkan?” timpal Halilintar agak berwajah khawatir.


“Hanya Allah yang dapat menghapus takdir. Karena Allah yang menulisnya, tapi entah takdir bisa diubah atau tidak. Jelasnya saranku berdoalah agar firasat Haji Kasturi dan filingku tiada jadi kenyataan,” jelas Mbah Raji memandang luas para pemuda. Seakan ia tak tega kalau para pemuda di depannya yang rata-rata berusia di bawah dua puluh harus berperang.


“Kalau benar perang terjadi, apa pemuda-pemuda pilihan dari Jombang yang ada di luar kota Jombang tidak ikut serta. Sebab saya pernah bermimpi Mbah, saya dan Mas Wahyu bersama-sama membangun kembali kota Jombang dari keruntuhan total?” sela Elang yang jua ikut datang ke gubuk Mbah Raji.


“Nak Elang yang penting kuatkan hatimu. Dewa dan Halilintar kalian juga mulai sekarang harus bisa tanpa orang tua kalian. Sudah barang tentu kami yang tua suatu nanti. Entah akibat perang atau secara alami akan tetap kembali pulang pada kampung halaman di atas sana. Jadi bagi kalian berlima mulai saat ini pimpinlah adik-adik kalian dengan benar. Bawa mereka ke gerbang masa kejayaan yang pernah kami raih,” ujar Mbah Raji tampak berkaca-kaca seakan tiada tega melihat para pemuda penerusnya.


“Walau perang itu memang harus terjadi Mbah. Sekuat tenaga kami para pemuda generasi ketiga akan tetap menjaga kalian para tetua generasi kedua,” ujar Fahmi menekat bulatkan semangat.


“Benar Mbah kami akan selalu ada di samping kalian sekuat tenaga kami. Karena kalianlah yang membuat kami menjadi sekarang ini. Karena kalianlah kami mampu menjaga kestabilan kota Jombang ini,” timpal Halilintar.


Mbah Raji menatap para pemuda dengan bangga. Tetapi ada desir jeritan di hatinya yang tak sampai sanggup ia utarakan. Bahwa sebenarnya ia tahu dan sudah melihat masa depan kota Jombang di tiga tahun ke depan.