
Setelah meninggalkan Bargo dan kembali melanjutkan perjalanan. Seruni dan Ambon ternyata belum menyadari jikalau mereka tengah dibuntuti beberapa orang pembawa. Kelompok yang membuntuti mereka adalah kelompok Ki Codet.
Kelompok Ki Codet adalah kelompok pembunuh bayaran yang selalu membantai orang-orang tak bersalah dan hanya mementingkan uang saja. Selama ini mereka selalu berpihak kepada para dukun pembawa setan atau yang sering disebut manusia pembawa kodam.
Apalagi Ki Codet memiliki anak yang sama bejatnya, sama bengis dan liciknya dengan Si Ayah. Namanya Bang Ireng begitulah para anak buahnya memanggil dirinya. Sebab kulitnya yang begitu hitam mungkin hanya gigi dan matanya saja yang putih.
“Sebentar Nona Sari kita berhenti dahulu,” pinta Ambon menghentikan rombongan klan Kardi untuk menuju pusat kota Jombang.
“Ada apa Kang Mas Ambon? Bukankah sebentar lagi kita sampai. Kenapa kita berhenti di sini dan ini adalah satu tempat pemakaman kota Jombang. Tentu sangat riskan bagi rekan-rekan kita yang kebanyakan belum berpengalaman dalam pertempuran,” ujar Seruni mendekati Ambin yang sangat waspada dan merasa agak khawatir.
Seruni yang paham akan gelagat aneh Ambon kembali bertanya dengan pertanyaan menjurus akan kekhawatiran, “Kang Mas Ambon ada apa? Sepertinya Kakang menghawatirkan sesuatu.”
“Ada aura jahat yang teramat besar mengikuti kita Nona. Sejak kita meninggalkan Bargo tadi, aku merasakan ada aura hitam dari beberapa orang yang terus mengikuti kita. Tetapi aku belum dapat memastikan aura hitam yang begitu mengerikan ini milik siapa atau milik kelompok mana?” ucap Ambon masih meneliti sekitar area pemakaman dimanah mereka berhenti.
“Nona Seruni tolong perintahkan teman-teman untuk tetap waspada. Sebab bisa saja musuh menyerang secara tiba-tiba dan dari arah yang tidak dapat kita prediksi,” imbuh Ambon meminta Seruni untuk memerintahkan rekan-rekan klan Kardi tetap waspada.
“Baik Kakang, kalian semua tetap waspada. Jangan lengah bisa saja musuh tiba-tiba datang secara tiba-tiba!” seru Seruni.
“Baik Nona Seruni,” jawab para anggota klan Kardi secara serempak. Lalu mereka membuat formasi waspada dengan cara saling mengawasi satu dengan yang lainnya.
Kabut area pemakaman mulai menebal. Gerimis masih terus jatuh sejak pertama terjadinya perang dua tahun silam dan tiada jua pernah berhenti. Bahkan di beberapa titik sekitar aliran sungai di daerah-daerah pedalaman desa tepi kota Jombang. Banyak yang ter dampak banjir akibat air sungai yang meluap.
Bau anyir darah khas pemakaman mulai terasa menyengat di bawa oleh kabut tebal. Semakin lama kabut semakin tebal dan semakin banyak menyelimuti area pemakaman. Angin malam hampir pagi mulai terasa membawa dingin. Bahkan nyanyian pohon bambu di sekitar pemakaman. Menambah kesan angkernya area pemakaman tersebut.
Geresek, geresek,
Tanpa disadari oleh anggota-anggota klan Kardi yang tengah terfokus pada area sekitar mereka. Sehingga mereka tiada sadar akan bahaya yang muncul dari bawah-bawah kaki mereka.
Geresek, geresek,
Suara-suara aneh kembali muncul dan semakin kerap terdengar. Seolah ada makhluk di dalam tanah yang hendak keluar menuju ke permukaan.
Benar juga di beberapa titik area pemakaman. Tepatnya di atas kuburan-kuburan yang berjajar rapi. Tanah-tanah kuburan tersebut mulai terbelah dan mengeluarkan asap.
“Woi musuh, ada musuh, ada musuh!” teriak beberapa anggota klan Kardi yang mulai menyadari. Jikalau ada sosok-sosok mayat hidup yang keluar dari dalam kuburan di sampingnya.
“Argtz, tolong, tolong...!” terdengar teriakan beberapa anggota yang tiba-tiba berteriak lalu hilang entah ke mana.
“Tidak, tidak, kawan, woi setan!” kembali terdengar teriakan dari salah satu pemuda klan Kardi. Betapa tidak ia berteriak, sebab teman di sampingnya tengah digeret masuk ke dalam lubang kuburan yang tiba-tiba terbuka.
Lebih mengerikan lagi setelah pemuda tersebut diseret masuk ke dalam kuburan oleh salah satu setan. Lalu dari dalam lubang kuburan terdengar suara jeritan bercampur suara seolah ada yang tengah makan di dalam jamuan mewah. Lalu tulang-tulang di keluarkan melalui lubang kuburan tersebut.
Bahkan tulang-belulang bekas pemuda klan Kardi yang diseret masuk ke dalam lubang kuburan. Masih ada sisa-sisa daging menempel di beberapa bagian tulang dengan bercak darah segar menyelimuti.
“Kurang ajar! Menghindar-menghindar, menjauh dari makam,” teriak Seruni memerintahkan rekan-rekannya untuk menghindar dari makam. Agar mereka tak ikut menjadi korban setan-setan yang telah dibangunkan.
Tiba-tiba dari balik kabut di sisi timur, agak ke utara di balik rimbunnya hutan bambu. Ada dua sosok manusia menampakkan wujudnya. Dialah sosok Codet dan anaknya Ireng yang telah membangunkan setan-setan yang keluar dari dalam kuburnya.
Bahkan setelah dua sosok manusia pembawa setan tersebut keluar. Muncullah para anak buah keduanya yang ternyata sudah mengitari area kuburan dan kini klan Kardi seakan terkepung di dalam area pemakaman tersebut.
“Welcome, welcome, selamat datang para kesatria tanah Banjar Dowo. Selamat datang di daerah kekuasaan kami wahai para anak kekuatan Megaluh dari klan Kardi. Apa kabar lama kita tak bertemu Ambon?” ucap Ki Codet bertepuk tangan sambil berjalan ke arah Ambon dan Seruni bersama Ireng anaknya.
“Eh Dek Seruni lama kita tidak berjumpa ya Dek. Apa kabar Dedek sayang, apa kau sudah mempertimbangkan tawaranku untuk menikah dan menjadi ratu di perguruan hitam tanah kuburan?” ucap Ireng yang memang sudah dari lama mengincar Seruni untuk dijadikan istrinya.
“Rupanya kau Ki Codet dan aku sudah menduganya dari awal. Kalau kalianlah yang tengah membuntuti kami dari awal kami meninggalkan Bargowo beberapa saat yang lalu,” jawab Ambon menatap Ki Codet yang sudah berdiri di depannya saling berhadap-hadapan.
“Aku tak akan mau menjadi istri pemelihara setan di tubuhnya. Aku tak akan pernah mau menerima lamaranmu itu pemilik setan!” ucap Seruni menolak dengan tegas untuk ke sekian kali lamaran Ireng.
“Manis sekali kau Dek Seruni aku jadi semakin cinta. Wajahmu semakin mulus dan ayu. Bahkan bodimu semakin hari semakin seksi saja aku lihat. Aku jadi semakin ingin menikmatinya,” celetuk Ireng yang tiba-tiba mengelus pipi Seruni.
Seketika Seruni menepis tangan Ireng dan meludahi wajahnya. Seketika itu juga seluruh pasukan padepokan pekuburan milik Ki Codet mengeluarkan pedang dari sarungnya.
“Sabar anak-anak tenang-tenang jangan terburu-buru. Kau anakku jangan begitulah dan jangan terburu nafsu. Siapa saja wanita yang diperlakukan seperti itu tentu tidak akan sudi. Benarkan begitu nona Sari yang memiliki badan indah seindah gitar Spanyol. Jangankan anakku, aku saja ingin menikmatinya,” tutur Ki Codet yang sebenarnya hanya bosa-basi saja menceramahi anaknya yang sesungguhnya Ki Codet sama bejatnya dengan Ireng.