
Pagi yang cerah di desa Mokem sekitar rumah Haji Jaka. Tampak Bu Hajah Putri istri Haji Jaka baru selesai berbelanja tak jauh dari rumahnya.
Setiap pagi merekah kesibukan para Ibu-Ibu adalah memilih sayuran dan ikan-ikan segar di warung-warung yang berjajar tak jauh dari rumah mewah Haji Jaka. Begitu pula Bu Hajah Putri yang kali ini sudah selesai berbelanja dan menenteng dua Kresek besar sayur mayur serta lauk pauk.
Bu Hajah Putri tampak berjalan anggun berbalut daster masa kini. Daster panjang sampai betis namun tetap modis. Bercorak bunga-bunga warna pink. Tapi beliau tetap memakai jilbab yang menutupi mahkota kepalanya tentu warna pink jua.
Sampai di dekat rumahnya Bu Hajah Putri berpapasan dengan seorang dokter langganan keluarga Haji Jaka. Namanya Dokter Dono yang terlihat tergopoh-gopoh. Berjalan bersama seorang asistennya dan tampak agak begitu ketakutan.
“Loh itu bukannya Dokter Dono ya, sama siapa dia. Mungkin asisten barunya kali ya,” gerutu Bu Hajah Putri bergegas menghampiri Dokter Dono.
“Eh Pak Dokter Dono mau ke mana buru-buru sekali. Samping Pak Dokter cantik sekali suster baru ya?” tegur Bu Hajah Putri namun Dokter Dono seakan begitu kaget saat ditegur Hajah Putri.
“Eh Bu Hajah, anu Bu Hajah, eh apa namanya ia, ini namanya Anik suster magang yang tengah membantu saya sekarang. Maaf ya Bu Hajah saya sedang terburu-buru. Mari Bu Hajah saya duluan,” jawab Dokter Dono melewati Bu Hajah Putri dengan gerusa-gerusu dan tampak sangat ketakutan. Namun entah takut dalam hal apa dan takut pada siapa.
“Mari Bu Hajah duluan,” ucap Suster Anik yang berjalan beriringan bersama Dokter Dono dan disebut suster magang.
Setelah agak lama dan Dokter Dono juga sudah terlihat menjauh dari Bu Hajah Putri. Bu Hajah Putri masih termenung di tempat. Seakan dia memikirkan sesuatu yang ganjil dan aneh.
“Kok seperti ada yang aneh ya sama Dokter Dono dan Suster Anik tadi. Tapi apa ya kok aku jadi memiliki perasaan khawatir pada mereka ya. Aku rasanya pernah menangkap hawa seperti ini. Tapi di mana ya aku lupa, ah sudahlah. Mungkin hanya perasaanku dan kekawatiranku saja,” ujar Bu Hajah Putri agak menggerutu.
“Eh Bu Hajah kenapa kok mematung saja di tengah jalan begitu?” sapa seorang Ibu tetangga yang baru saja bareng berbelanja bersama Bu Hajah Putri. Namun tadi Bu Hajah Putri pulang lebih dahulu. Sedangkan Ibu tetangga tersebut masih sibuk berbelanja.
“Eh Bu Ajeng, enggak tadi saya berpapasan sama Dokter Dono. Tapi kok rasanya ada yang ganjil, makanya aku jadi agak melamun. Tapi ya sudahlah mungkin perasaanku saja. Ayo kita pulang Bu Ajeng,” ucap Bu Hajah Putri sambil berjalan kembali mengajak Bu Ajeng pulang. Kebetulan mereka tetangga sebelah rumah.
“Oh Dokter Dono ya Bu Hajah, eh tahu enggak Bu Hajah kabarnya tentang Dokter Dono. Tapi sebelumnya maaf-maaf ini ya Bu Hajah. Bukannya saya mau mengomongkan orang atau membuat gosip ini ya. Tapi kata-katanya itu Dokter Dono gonta-ganti Suster. Ternyata dia selalu mencumbu suster tersebut dimalam hari. Makanya suster yang membantu dia pada enggak betah,” ucap Bu Ajeng agak nyinyir.
“Hehehe, jangan suka menggosipkan orang Bu Ajeng tidak baik itu,” sahut Bu Hajah Putri mengingatkan Bu Ajeng.
“Ah Bu Hajah ini seperti itu selalu kalau diomong pura-pura tidak mengerti. Ya sudah Bu Hajah saya dahulu masuk rumah. Assalamualaikum,” ujar Bu Ajeng memasuki halaman rumahnya.
“Dasar Bu Ajeng, Astagfirullah Hal Azim, jadinya saya mendengar gosipkan,” gerutu Bu Hajah sambil menutup pagar depan berlalu ke dalam rumah menuju dapur untuk segera memasak.
Setelah beberapa menit berselang dan kini Bu Hajah tengah di balik meja dapur. Bu Hajah Putri tampak asyik memotong sayuran wortel untuk dimasak sebagai campuran sayur sop.
Cetek, ceklek, cleek,
Wortel telah terpotong-potong rapi beberapa bagian oleh pisau dapur yang di pegang Bu Hajah Putri. Tetapi Bu Hajah Putri masih saja tidak bisa menghilangkan rasa kecurigaan pada sosok Dokter Dono dan suster magangnya.
Tanpa sengaja melewati dapur hendak menunu kamar mandi. Seketika berhenti saat melihat sang istri memotong sayuran sambil melamun.
“Ehm, ini kebiasaan ini Umi, suka melamun kalau memotong sayuran. Kalau jari-jarinya kena pisau bagaimana?” ujar Haji Jaka berjalan ke arah Bu Hajah Putri. Namun sambil mengendap-endap lewat belakang Bu Hajah Putri.
“Biar saja aku kageti saja sekalian. Hem suruh siapa masak sambil melamun. Aku saja kerja depan laptop sambil melamun dimarahi habis-habisan kemarin,” gerutu Haji Jaka memiliki ide jail untuk membuat istrinya kaget.
Plak, plak,
Tiba-tiba tangan Haji Jaka menabok bokong Bu Hajah Putri dua kali. Membuat Bu Hajah Putri seketika kaget dan celakanya. Jari telunjuk Bu Hajah tergores belati dapur sedikit.
“Astagfirullah, Abah...!” teriak Bu Hajah Putri berteriak. Sambil memasukkan jari telunjuk pada mulut Haji Jaka.
“Hayo isap darahnya, tanggung jawab Abah. Telunjuk Umi tergores pisau ini sakitkan. Ayo tanggung jawab sampai darahnya terus enggak berhenti awas ya. Pokoknya nanti malam tidak ada jatah begituan!” oceh Bu Hajah Putri yang tengah memasukkan jari telunjuknya di mulut Haji Jaka.
“Sini-sini sayangku pakai hansaplas plester. Masak di masukkan mulut Abah tidak sopan. Kalau nanti kita punya menantu bagaimana? Jadi Umi mengajarkan hal tak baik pada menantu kita nanti,” ucap Haji Jaka membalut luka di telunjuk Bu Hajah Putri dengan Hansaplas plester.
“Habis Abah suka begitu mengageti Umi. Abah juga mengajarkan tidak baik hayo. Masak bokong umi ditabok, kalau dilihat orang tidak baik. Masak seorang Haji Jaka pemimpin silat gaib terhebat dan terbesar di lima kota bisa berbuat begitu,” timpal Bu Hajah Putri namun kali ini agak berintonasi manja.
“Wong anak ganteng kita saja sudah lama enggak pulang. Mana ada kita punya anak mantu Abah. Eh ia Abah tadi Umi berpapasan sama Dokter Dono dan suster barunya. Tapi kelihatannya dia tengah terburu-buru yang buat Umi penasaran hawanya seperti dahulu kita berperang sangat ngeri,” ujar Umi Putri menjelaskan bahwa ia baru saja berpapasan dengan Dokter Dono.
“Umi mesti begitu selalu ingin tahu urusan orang lain. Mungkin saja Dokter Dono memang sedang terburu-buru. Mungkin ada pasien yang memang sedang butuh penanganan cepat. Jangan suka suudjon sama orang lain Umi tidak baik. Kita berpikir positif saja biar kita juga sehat,” jawab Haji Jaka yang telah selesai membalut luka di telunjuk Bu Hajah Putri.
“Tapi, tapi, tapi,” belum jua Umi kembali berkata melanjutkan kecurigaannya pada Dokter Dono.
Haji Jaka sudah menggendongnya dan membawanya pergi dari dapur. Kali ini Haji Jaka menggendong Umi Putri di bagian depan.
“Eh Abah mau ngapain, Abah eh, eh masih pagi Abah,” ucap Umi Putri agak meronta-ronta meminta diturunkan dari gendongan.
“Sudahlah dari pada Umi gibah terus hari ini menambah dosa. Lebih baik kita wujudkan sunah Nabi kita,” ujar Haji Jaka membawa Umi Putri ke arah kamar utama.
“Eh itu kompornya masih menyala Abah,” ujar Umi Putri masih meronta-ronta.
“Sudah mati sendiri nanti itu otomatis kompormu,” ujar Haji Jaka seraya menutup pintu kamar.