TOH Level Up

TOH Level Up
Danau darah



Saat Wahyu masih tertidur di area kemudi mobil Box. Saat itu para manusia terus berjuang melawan manusia buatan. Kedua sisi saling menyerang dan saling membunuh. Tidak sedikit jumlah korban di antara kedua belah pihak.


Kali ini ada yang aneh dengan Wahyu. Sebab tidak biasanya dia lelap tertidur. Padahal sedang berkecamuk perang di sekitarnya. Bahkan cenderung Wahyu tampak cuek dan melanjutkan istirahatnya.


Tiba-tiba ada sosok manusia langit atau sosok dari klan dewa-dewi. Datang secara misterius berbentuk aura aneh. Langsung berdiri di samping pintu sebelah kemudi mobil Box.


“Langit, Langit, lihatlah bukankah kau adik kecilku yang lucu. Langit kecilku yang selalu dimanja oleh Ayah dan Ibu. Lihatlah bahkan sekarang kau masih Si Kecil yang begitu naif. Kenapa kau memilih dunia di mana manusia berada. Bukankah masih ada dunia di dimensi lain yang setara dengan klan dewa dan dewi kita?” ucap sosok tersebut sambil terus mengelus rambut Wahyu.


Bahkan saat ada sosok berdimensi kekuatan yang sangat menakjubkan di atas kepalanya. Wahyu tak jua terbangun dan ini sungguh di luar nalar dan di luar kebiasaan Wahyu. Bahkan sekecil apa pun benturan aura yang ia rasakan. Biasanya ia langsung menyadari, jikalau asa sosok lain atau petarung lain ada dalam radius jangkauannya.


Tetapi kali ini seolah Wahyu tiada terpengaruh. Akan kehadiran sosok Dewa langit yang satu ini. Bahkan ia sangat leluasa mengusap-usap rambut Wahyu berulang-ulang kali.


“Langit, Langit, kau yang selalu ambisius untuk menjadi Sang Panglima terkuat di alam dewa. Kau yang selalu berambisi menjadi Dewa perang terkuat di alam kita. Bahkan sampai menempuh reinkarnasi ratusan kali. Hanya demi untuk mendapatkan pengakuan Kakek yang hingga kini masih menjabat sebagai Panglima tertinggi. Harus rela menjadi manusia seutuhnya dan merasakan sakit serta kematian ironis kau adikku,” ucap sosok tersebut yang terus mengelus kepala Wahyu.


“Kalau demikian yang harus aku salahkan siapa? Atau Dewi Sekar itu yang harus aku salahkan. Tidak adik kecilku yang lucu yang harus aku salahkan adalah manusia. Akan aku akhiri perjuangan mereka dari rasa sakit. Akan aku bantu menyelesaikan masalahmu. Diamlah dan istirahatlah sejenak adik kecilku. Oh iya adik kita Elang bukankah dia mengikuti jejakmu. Tapi tidak masalah kehilangan satu adik. Demi membawamu pulang kembali ke alam dewa dan dewi,” ujar sosok misterius bertitel dewa langit.


Tiba-tiba sosok tersebut menghilang seketika. Namun anehnya Wahyu tidak bergeming sedikit pun. Wahyu tetap lelap dalam istirahatnya, selayaknya seseorang yang terkena ilmu sirep atau daya magis yang membuat orang tertidur pulas dengan daya tingkat tinggi.


Sosok tersebut yang memanggil Wahyu adik kecilnya. Kembali muncul dan kali ini ia muncul pas di tengah-tengah kancah peperangan antara manusia dan manusia buatan.


Tetapi sosok misterius tersebut muncul dengan posisi melayang agak jauh di atas medan peperangan. Terlihat ia sejenak memantau area peperangan yang sedang berlangsung.


“Dasar manusia bisanya hanya merusak dan membuat kerusakan di muka bumi. Sudah enak diberi bumi bukannya dirawat malah dihancurkan perlahan. Bahkan kalian membunuh sesama manusia. Biar aku akhiri tugas adik-adikku sampai di sini. Tidurlah kalian dalam kepunahan total wahai para manusia. Teknik pemusnah masal,” ucap sosok tersebut sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah ke arah area peperangan.


Seketika langit berubah menjadi merah kehitaman. Langit menjadi aneh bagaikan lautan darah. Ada petir di setiap awan merahnya dan ada hujan serta angin kencang menyertai dentuman petir.


Tiba-tiba dari kedua telapak tangan sosok dewa kakak dari Wahyu. Keluar hawa panas aneh yang berurutan terus-menerus ke bawah. Selayaknya gelombang elektro magnetik tapi begitu keras.


Dar, Duar,


Tiba-tiba semuanya hancur di bawah sosok dewa langit kakak dari Wahyu tersebut telah musnah. Semuanya termasuk seluruh divisi TOH dan manusia buatan yang tengah berperang.


Bukan hanya manusia dan manusia buatan yang musnah. Bahkan tumbuhan, hewan serta seluruh ekosistem dalam radius lima kilo meter musnah seketika akibat teknik pemusnah milik dewa langit kakak dari Wahyu tersebut.


“Nah kalau seperti ini sudah beres. Akan aku bawa pulang kau mainan kecilku,” ucap sosok misterius tersebut yang tiba-tiba sudah membawa Wahyu di tangannya dan terus melayang melesat ke atas langit begitu cepat. Lesatnya bahkan seperti bintang jatuh di tengah malam buta begitu cepat.


“Apa-apaan ini, apa yang sebenarnya terjadi. Allahuakbar ke mana semua orang, bukankah beberapa saat lalu ini adalah medan perang. Kenapa sekarang menjadi sebuah danau darah? Tidak, tidak mungkin. Apa ini semua, apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Gombloh yang sebenarnya tak mati saat bertarung melawan para setan di sisi barat kota Jombang. Bahkan ia baru datang berniat membantu divisi lain yang sedang bertempur.


Tetapi yang ia dapati sejauh mata memandang hanya danau seluas lima kilo meter yang berisi darah. Bahkan semua tak ada yang tersisa kecuali hanya genangan darah.


“Mas Dava di mana Kau, Wahyu, Elang, kalian di mana?” teriak Gombloh yang di barengi beberapa petarung dalam divisinya meneriakkan beberapa nama. Berharap masih ada harapan atau jawaban dan berharap ini sungguh tidak nyata.


Tetapi semua sama saja tiada yang menyahut. Hanya suara gemuruh guntur di atas danau dengan arak-arakan awan merah dan hujan dan angin yang mendesir.


“Apa semua sudah berakhir, apa semua sudah binasa, apa semua sudah musnah. Kalian tolong jawab aku, tolonglah jangan bercanda. Aku hanya anggota TOH level di bawah kalian yang memiliki teknik-teknik setara raja. Kenapa jadi seperti ini tolong jelaskan padaku? Aku tidak mengerti,” ucap Gombloh duduk lunglai bersimpuh seraya meneteskan air mata.


“Pak sudahlah kami sudah menyusuri tepian danau darah ini. Bahkan luasnya bisa mencapai lima kilo meter diameternya. Tapi kami tidak satu pun menemukan manusia di sepanjang tepian danau darah ini. Bahkan jejak mereka tidak kami temukan. Semua bagai tenggelam dalam danau darah ini,” ucap salah satu anggota divisi Gombloh melaporkan hasil penelusurannya.


“Tidak aku tidak mau seperti ini. Kota Jombang ini masih membutuhkan kalian. Tolong jawab aku, atau aku akan mencari kalian hingga ke dasar danau. Benar aku akan terjun dan menyelam. Mungkin mereka sedang bertarung di dasar danau,” oceh Gombloh hendak meloncat ke arah danau.


“Pak jangan Pak, jangan melakukan hal itu. Kita belum tahu apa ini dan apa isi danau ini. Apakah ini semacam teknik ilusi musuh atau sungguh terjadi. Apa di dalam ada klan atau bangsa setan terkuat. Kita belum tahu jangan nekat Pak,” ucap salah satu anggota divisinya memegangi Gombloh menghalanginya agar tak meloncat ke arah danau.


“Lalu apa sebenarnya yang terjadi, tidak...!” teriakan Gombloh begitu pilu tapi danau darah tetap menjadi danau darah.