
Alas Pangklungan,
Mobil Bok putih masih belum beranjak dari tepi alas Pangklungan. Wahyu masih bersandar di depan kap mobil bok sembari menyulut sebatang rokok.
Mengambilnya satu batang dari satu bungkus yang ia simpan di jaket merah putih berlogo TOH. Satu bungkus rokok yang telah lama ia simpan di saku dalam sisi samping depan jaketnya.
Wahyu mengambil satu batang dan menaruhnya di antara dua bibir. Menyulutnya sejenak dengan satu korek api merek benzol. Setelah terbakar di ujungnya mengabullah asap di pagi hari batas depan hutan Pangklungan.
“Sudah lama sekali aku tidak menikmati sebatang rokok. Dahulu kita sering mengobrol berdua ya Ayah. Menikmati segelas kopi hitam sedikit gula, menikmati batang demi batang rokok dari satu bungkus di depan teras,” gerutu Wahyu mengenang masa dimanah ia masih dapat bercanda dengan almarhum Haji Jaka.
“Kau tahu saat-saat seperti itu Ayah dan Ibu selalu memarahi kita. Ibu selalu mengomel dengan kata-kata yang sama. Anak dengan Ayah sama saja kelakuannya. Sudah malam jangan suka bergadang di depan rumah cepat masuk. Begitulah omelan Ibu yang selalu aku ingat, hehe sudah lama ya Ayah,” kembali ucap Wahyu bicara dengan angin dan alam sekitarnya.
Sebab semua antek-antek Dokter Dono dan Pak Toni sudahlah terkapar. Mereka berhasil diatasi jaka dengan beberapa pukulan.
“Anak muda akhirnya kau muncul juga di sini di hutan lindung Pangklungan. Aku sudah lama menunggumu untuk segera adu tanding denganmu,” ujar Dokter Dono dengan rupa manusia, tetapi badannya tentu dari mesin-mesin dan kabel.
“Benar sekali ucap Dokter Dono, aku juga ingin sekali melawanmu anak muda. Aku sangat penasaran dengan ucapan Pak Bupati Bagus tiga tahun yang lalu. Bahwa ada nama Wahyu yang akan datang membalaskan kematian seluruh petarung kota Jombang yang ada di dalam mobil bok belakangmu itu,” ujar Pak Toni jua baru datang dengan bentuk sama dengan Dokter Dono.
“Oh jadi seperti itu sistem kerja dua robot manusia buatan Ayahku. Jangan kalian mengelak dan aku jua sudah tahu semuanya tentang kalian. Walau mungkin memang Ayah gugur akibat istilah kata senjata makan tuan. Tetapi aku tahu semua tentang kalian para manusia robot,” ucap Wahyu tersenyum sinis.
“Hahaha, ternyata benar kata Pak Haji Jaka dan Pak Bupati Bagus. Kami tidak akan mampu melawan satu anak dari keturunan mereka. Tetapi kami bukan lagi ciptaan dua orang tersebut. Kami telah didaur ulang dan disempurnakan oleh dua orang ini. Mereka yang telah membuat kami menjadi rupa mereka. Padahal mereka ini tahu untuk membuat kami persis seperti mereka. Tentu mereka harus mengorbankan nyawa mereka. Dasar manusia-manusia bodoh,” ucap Dokter Dono dalam rupa robot.
Dokter Dono menghempaskan tubuh Dokter Dono dan tubuh Mr. Toni yang asli. Sebenarnya mereka adalah robot gagasan Haji Jaka dan Pak Bupati Bagus. Dalam pembuatan pertama robot-robot akan digunakan untuk menyelamatkan manusia dan akan digunakan untuk tentara bantuan.
Apabila manusia kembali di serang oleh kaum setan dan sejenisnya. Tetapi ada satu orang pembantu Haji Jaka dan Pak Bupati Bagus dalam membuat robot-robot tersebut.
Mencuri bagan dan rancangan serta cara-cara untuk membuat robot. Dia adalah Dokter Dono itu sendiri yang kini telah mati akibat robot yang ia modifikasi sendiri dari rancangan Haji Jaka dan Pak Bupati Bagus.
Tiba-tiba aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Aura tersebut membentuk sebuah rupa naga hingga utuh membentuk naga hitam mengerikan. Naga Sekinteng atau Raja naga hitam adalah makhluk terkuat yang dimiliki Wahyu dalam tubuhnya.
“Maaf ya Mas Sekinteng, aku jadi memanggilmu untuk keluar,” ucap Wahyu yang sudah mengubah bola matanya menjadi hitam semua.
“Wahyu sudah lama sekali kau tak memanggilku. Padahal Ayahmu Raja Dewa menyegel aku di dalam dadamu untuk melindungimu. Tetapi kau tak pernah sekali saja memanggilku keluar untuk bertarung. Aku mengira kau sudah melupakan hari dimanah kita bertemu. Saat kau masih begitu kecil di alam kayangan dahulu,” ujar Naga Sekinteng terbang melingkari tubuh Wahyu.
“Hehe, Mas Raja Naga Sekinteng maaf dan kali ini aku adalah manusia bukanlah Dewa kecil temanmu bermain dahulu. Jadi maaf kalau kekuatan dan tenagaku tak seperti di alam kayangan dahulu,” ujar Wahyu tersenyum pada Raja Naga Sekinteng.
“Kau masih saja bodoh dan lugu seperti dahulu Dewa kecilku, hahaha. Mana ada Dewa berinkarnasi menjadi manusia yang utuh menjadi manusia. Tetap saja kau adalah Dewa dan kau masih bisa sesuka hati membangkitkan kekuatan Dewamu Wahyu. Dasar kau padahal kau adalah Wachid dan kau adalah Jaka dan kau adalah Wahyu. Masih saja berkata kesedihan akan kematian sosok Jaka,” oceh Raja Naga Sekinteng.
“Sudahlah biar semua itu menjadi rahasia kita di alam klan dewa dan dewi. Mari kita selesaikan tugas kita di sini sebagai manusia,” jawab Wahyu malah bercanda dengan Raja Naga Sekinteng yang dahulu adalah Naga di alam kayangan.
“Woi apakah kalian sudah selesai bercandanya. Kalau kalian sudah selesai bernostalgia biar kami yang menyerang,” ucap satu robot berwujud Pak Toni. Rupanya Pak Toni dalam wujud robot telah memanggil satu prototipe hewan pemanggilan. Kali ini yang dikeluarkan adalah sebuah bentuk raksasa dari mesin dan jua berbentuk robot.
“Naga hitam halah aku pernah menghancurkannya dan baiklah kali ini akan aku keluarkan kembali. Ganggalion keluarlah kau cacing robotku,” ujar Dokter Dono melemparkan satu kapsul kecil. Sebagai tempat atau wadah robot pemanggilan yang diciptakan Dokter Dono yang asli.
Kali ini Wahyu dan Naga Sekinteng harus menghadapi dua lawan sekaligus. Wahyu melawan dua robot manusia dan Raja Naga Sekinteng melawan dua hewan robot pemanggilan raksasa.
“Serang dan hancurkan Wahyu dengan Naganya!” ucap Dokter Doni dalam wujud manusia robot. Mengomando hewan raksasa berupa robot raksasa dan Ganggalion yaitu cacing robot raksasa untuk menyerang Wahyu.
“Jangan salah kau manusia robot aku bukanlah naga hitam milik Bagus. Aku adalah Raja Naga Sekinteng dari alam kayangan. Jangan kau remehkan aku makhluk yang hanya diciptakan makhluk rendahan!” teriak Raja Naga Sekinteng secara sistematik terbang menghancurkan dua makhluk robot di depannya secara telak.
“Ingat para manusia robot buatan masa ini adalah masa level up. Kami bukanlah para orang tua atau leluhur kami. Kami adalah hal baru dan kekuatan kami jua baru. Maaf aku terlalu cepat menebas, sehingga tak memberi tahu kalian berdua. Kalau tubuh kalian sudah terbelah beberapa bagian,” ucap Wahyu yang sudah melewati Dokter Dono dan Mr. Toni dalam wujud robotnya.
Bahkan setelah Wahyu menyarungkan pedang bintang yang sebenar-benarnya pedang yang selalu ia bawa sebagai dewa. Dua musuhnya yakni Dokter Dono dan Mr. Toni telah hancur seketika.