
Malam sudah hampir selesai dan kota Jombang masih tengah berkecamuk akan perang. Namun perang di tahap akhir sebab kesatria lima kota telah meringsek masuk hampir ke tengah kota.
Para Raja setan sudah banyak yang tumbang. Mungkin hanya tinggal kroco-kroco setan setaraf prajurit saja yang masih terus dibasmi oleh para anggota dari ke lima kota.
Tampak dari kejauhan rombongan dari kota Mojokerto. Pemuda Majapahit sudah hampir sampai di tengah kota. Tengah berjalan cepat agar lekas mengambil bagian. Dalam apel akbar yang kembali di gelar.
Setelah sekian lama pertemuan lima kepala ketua utama lima kota kembali diadakan di era level up. Saprol tampak tak sabar memimpin rekan-rekannya.
Sementara itu fajar hampir menggelincir. Pertanda sudah usai pertempuran maha dahsyat. Sebuah pertempuran tiga tahun yang memakan banyak korban antara manusia melawan bangsa setan. Bahkan era tua habis tertebas dan gugur dengan cara mengerikan.
“Mas Bos tunggu sebentar, apa benar-benar sudah berakhir perang kali ini. Apa benar demikian adanya? Tapi kok aku merasa hambar. Seakan ini semua baru saja dimulai, seakan ada bahaya besar baru yang akan menghadang,” ucap salah satu rekan Saprol menghentikan sejenak langkah Saprol.
“Benar aku juga merasa demikian, Eporia kali ini bukankah terlalu dini. Seakan kita teramat mudah memenangkan perang di era kita. Walau korban dari orang tua kita sudah banyak berjatuhan. Tetapi saat Wahyu datang dan semua bergerak menuju pusat kota Jombang. Seakan semua setan terlalu gampang dilenyapkan,” jawab Saprol melanjutkan perjalanannya.
Sisi utara agak condong ke barat. Ada dua kesatria dari tanah basah rawa-rawa. Mereka adalah Mustaji dan Sarmat dari Laskar L.A kota Lamongan. Terus bergerak dan terus menebas setan yang ada di depan mereka.
“Sarmat kok ada yang mengganjal ya dari akhir perang ini. Apa kau merasa sama denganku? Seakan ada hal lain di lain hari yang harus kita hadapi dan membuat efek besar di masa depan,” ujar Mustaji agak resah dengan firasatnya.
“Benar Mas Mus seperti aneh saat ini. Apa tidak terlalu mudah kita memenangkan perang begitu saja. Memang sih pasangan emas kota Jombang Si Wahyu dan Elang sangat superior. Tapi apakah tidak timpang kita menang begitu saja?” ujar Sarmat agak berpikir. Tapi mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju pusat kota.
Arah selatan Fahmi dan Alak terus menghunuskan pedangnya dari sisa-sisa terakhir para setan yang ia lalui. Jack juga tampaknya menikmati dengan jurus-jurus gambar peledaknya.
“Jack tampaknya kau sangat menikmati sekali perang kali ini?” ucap Fahmi menatap Jack dengan bangga.
“Benar Mas, tapi sempat terlintas di benakku. Apa nanti di masa depan masih ada lagi perang kejam seperti di masa kita ini. Apa musuhnya masih sama manusia melawan setan atau bahkan melawan manusia sendiri?” ucap Jack kembali menggulung kertasnya menjadi gulungan besar lalu menaruhnya di belakang punggung.
“Benar Jack aku merasa aneh kali ini. Seakan perang kita kali ini memang sengaja dibuat untuk sebuah perang besar dikemudian hari. Sebab aku merasa terlalu mudah bagi kita untuk memenangkan perang. Walau telah banyak korban yang berjatuhan. Tapi tetap saja aku memiliki dugaan seperti itu,” jawab Alak.
Langit yang sudah mulai terang pertanda pagi hampir hadir. Atas awan jua masih ada dua masih ada dua pejuang tangguh yang masih memantau terus keadaan perang. Tapi kali ini mereka turun jua memenuhi panggilan rapat akbar tengah kota.
Mereka adalah Dewa dan Halilintar yang selalu mengendarai kendaraan utama mereka. Halilintar tetap dengan awan petirnya dan Dewa tetap dengan kapak sakti miliknya.
“Mas Halilintar kita bergegas menuju ke tempat Wahyu. Aku melihat dia masih bertarung di sana. Tapi kok aneh ya, Wahyu bertarung dengan sosok Wahyu sendiri. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Firasatku tidak enak. Lekas Mas jangan sampai ketua utama kita Si Wahyu terbunuh. Bukannya kerugian besar kalau dia terbunuh. Kita baru saja mengukuhkan kemenangan. Jikalau Wahyu mati, bukan tidak mungkin kemenangan berbalik jadi kekalahan,” ucap Dewa.
“Benar karamu Dewa, tapi Wahyu yang satunya siapa ya? Kalau dilihat secara penerawangan. Wahyu itu tetap memiliki bayangan seperti halnya manusia. Apa ini kok ada yang janggal,” jawab Halilintar tetap melaju ke arah pusat kota dimanah Wahyu bertarung.
“Pak Bahyu maaf, apa kali ini kita juga mengikuti rapat akbar. Sebab sisi utara sudah ada Laskar L.A yang menghadirinya dengan Mustaji dan Sarmat yang telah bergerak dari sisi gunung pegat,” ucap salah satu anak buah Bayu dari kancah organisasi kota Gresik.
“Seperti kata Wahyu keponakanku itu beberapa saat lalu. Dia bilang kepadaku untuk datang sebagai keluarga. Sayangnya Ormas Mataraman tak ambil bagian kali ini. Mereka rupanya tengah mengalami kehancuran total di kota Madiun. Bagaimana lagi semua berlangsung begitu cepat. Mungkin besok kita bisa lekas bergerak ke kota Madiun. Tapi semua tetap dalam keputusan Wahyu tentunya. Sebab dia pemegang komando utama lima kota kali ini,” ujar Bayu masih dalam bentuk manusia bersayap.
Sementara itu di atas bukit Tunggorono. Pasangan era tua yang masih hidup yang kali ini menjadi satu legenda hidup. Lurah Dava dan Ibu Sari masih berdiri di atas tebing bukit Tunggorono.
“Dek kau tahu ini bukanlah akhir. Dokter gila itu masih terus bersiasat dan semoga para pemuda era level up itu tahu akan Dokter Dono. Dialah manusia gila Si Dokter Dono yang harus bertanggung jawab atas kehancuran total kota Jombang tiga tahun ini,” ujar Lurah Dava yang sebenarnya sudah tahu tentang Dokter Dono.
“Kenapa Mas tak mengatakannya saja kepada Wahyu? Jikalau ada manusia berkepala iblis seperti Dokter Dono. Seorang manusia yang dengan teknologi ciptaannya dapat membangkitkan iblis-iblis yang membantai semua orang itu,” ujar Ibu Sari yang tengah memeluk Lurah Dava.
“Aku rasa biarkan mereka tumbuh secara alami Dek. Seperti kita dahulu yang tumbuh menjadi sekarang ini ditempa secara alami. Aku ingin kota ini memiliki para pejuang yang tangguh secara alami bukanlah instan langsung jadi. Sebab para robot itu telah diciptakan ribuan jumlahnya. Manusia buatan itu telah disiapkan oleh Dokter Doni dari sel-sel korban termasuk Mas Jaka dan yang lain,” ucap Lurah Dava.
“Lalu kita harus bagaimana Mas?” ucap Ibu Sari.
“Seperti kata Petapa tanpa nama, walau mereka sakti melebihi era tua. Tetapi tubuh mereka tetap dalam wadah anak muda. Tugas kita diselamatkan oleh Petapa tanpa nama adalah membimbing mereka. Mengingatkan mereka jikalau ada perang besar lain dikemudian hari. Mengingatkan mereka jangan sampai lengah dan bersuka cita atas kemenangan hari ini,” jawab Lurah Dava.