
“Baiklah mari kita selesaikan dengan cepat,” ujar Wahyu kembali melayang. Namun kali ini dari tubuhnya mengeluarkan gelembung-gelembung warna hitam.
Bukan lagi gelembung warna kuning yang digunakan sebagai selimut aura di tubuhnya. Melainkan gelembung warna hitam dengan tingkatan level tiga dari kelanjutan jurus gelembung aura miliknya.
Kali ini Wahyu teramat serius untuk melawan Sultonnirojim. Sebab makhluk setengah manusia setengah jin iprit tersebut sudah sangat meresahkan. Teknik gelembung hitam membuat gerakan Wahyu semakin cepat. Dapat sekejap saja berpindah tempat dengan cepat.
“Sultonnirojim janganlah kau tinggi hati dan menyombongkan diri akan kekuatan labirinmu. Ingatlah era ini adalah era level up dan bukan lagi era TOH tua. Selayaknya dahulu saat kau melawan pasangan emas Jaka dan Dava. Kali ini aku saja sudah cukup untuk menghabisimu bersiaplah,” teriak Wahyu menatap Sultonnirojim yang tampak begitu was-was dan khawatir saat diterpa aura hitam dari Wahyu.
“Sial kalau aku melawan Wahyu kali ini. Sudah dapat dipastikan aku akan musnah dalam sekejap. Aku tiada mengira jikalau keturunan Haji Jaka itu. Sekarang teramat kuat akan aura yang dimilikinya. Pantas saja walau tanpa pemilihan atau penasbihan secara langsung. Para pemuda di kota Jombang ini secara langsung mengangkatnya menjadi ketua utama mereka,” gerutu Sultonnirojim merasa ketakutan.
“Baiklah Sulton mari bertarung denganku!” teriak Wahyu meluncur sambil melayang lurus ke arah Sultonnirojim.
Prak,
“Aduh, kenapa Mas Halilintar malah menepakku dengan pedang. Sakit tau kalau kena benaran bisa mati aku. Pedangmu terbuat dari petir loh Mas?” ujar Wahyu yang mengurungkan niatnya melaju ke arah Sultonnirojim. Sebab malah dihentikan oleh Halilintar dengan cara ditepak dengan pedang petirnya.
Andai bukan Wahyu yang ditepak oleh pedang petir milik Halilintar. Melainkan setan atau orang biasa atau pun petarung di bawah level mereka tentu sudah hancur.
“Ada apa Mas Hal, kenapa malah menghentikanku. Sebenarnya kau ini manusia apa setan, apa membela setan?” ujar Wahyu sambil menggosok-gosok rambutnya kesakitan akibat di tepak pedang petir Halilintar.
Walau yang ada di labirin Sulton di samping Halilintar hanya bayangan Wahyu bukan yang asli. Tetapi tetap saja bayangan itu dapat merasakan sakit selayaknya yang asli. Sebab setiap bayangan adalah partikel asli dari tubuh Wahyu. Tetapi apabila mereka hancur partikel itu akan terbang secepat kilat menuju tubuh Wahyu yang asli secepat kilat.
“Kau ini dari dahulu masih saja sama tabiatmu Wahyu. Memang kamu era level up ini adalah yang terkuat. Memang kamu sekarang menjadi nomor satu dan sudah dianggap pemimpin bagi seluruh pemuda di kota Jombang ini. Tapi jangan semua kau atasi sendiri begitu. Beri kesempatan mereka berkembang yang ada di bawahmu. Baru kalau mereka angkat tangan kita maju,” ucap Halilintar menasihati Wahyu.
“Inggeh Mas Hal, paham ia deh aku duduk saja di sini melihat pertandingan. Sini aku mintak rokokmu satu hayo,” jawab Wahyu malah duduk di atas satu dinding labirin dan kembali pada wujud asal tanpa level aura gelembung yang semula ia gunakan.
“Nah begitukan enak, ayo Andre lawan dah Sultonnirojim itu. Nah ini Wahyu ambil satu batang saja,” ucap Halilintar ikut duduk di samping Wahyu mengulurkan sebungkus rokok dari saku dalam jubah hitamnya.
“Sudahlah Andre pergilah sana hadapi Sulton itu. Sekarang bukan era saya lagi dan saya sekarang sudah masanya membimbing kalian yang muda. Wahyu memang ketua umum kalian, tetapi Wahyu juga tidak boleh seenaknya saja. Harus memberi kesempatan bagi kalian berkembang. Lambaikan tangan saja kalau kalian tidak mampu ya Wahyu,” ujar Halilintar menyulut satu batang rokok di tangannya.
“Benar itu Andre apa kata Mas Hal, aku kan juga ingin mengetahui seberapa kuat segel tangan dewa kematian milikmu. Sebab aku tahu teknik yang diciptakan oleh Om Lukman itu sanggatlah dahsyat kekuatannya. Pergilah kami memantau dari kejauhan dan tenang saja kami tak akan meninggalkanmu,” ujar Wahyu mengerlingkan mata sambil mengambil sebatang rokok dari sebungkus yang diulurkan Halilintar.
“Eh apa bayangan juga bisa merokok Wahyu?” tanya Halilintar menatap Wahyu yang sebenarnya hanya bayangan bukan asli. Tapi bertingkah laku selayaknya yang asli.
Sedangkan Andre sedang kebingungan. Mencoba mengumpulkan ketenangan agar tiada grogi. Beberapa kali dia terlihat menghirup napas panjang lalu kembali menghembuskannya.
Tiba-tiba saat Andre menghirup napas panjang. Sultonnirojim datang menyeruduk secara meluncur dari depannya. Sehingga Andre ikut terseret oleh hantaman kepala Sultonnirojim agak jauh. Ternyata Sulton juga sudah mengeluarkan beberapa setan gentayangan peliharaannya.
Akhirnya benar-banar kali ini perang dimulai kembali di atas labirin Sulton. Perang antara pasukan Sultonnirojim melawan para kesatria pilihan klan Lukman. Serangan kelompok setan Sulton yang secara tiba-tiba. Membuat kaget kelompok Lukman hingga berjatuhan kembali ke dalam labirin.
“Memang benar tidak apa Mas Hal membiarkan Andre dan teman-temannya bertarung melawan Sulton dan ratusan setan peliharaannya itu. Kita tahu kalau klan Lukman memang sangat kuat. Bahkan mereka bisa berubah menjadi harimau bila mereka mengerti. Saat mereka mampu mengaktifkan mata harimaunya. Tapi mereka minim pengalaman loh Mas Hal. Baru kali ini mereka mengikuti perang,” ujar Wahyu sambil menghisap satu batang rokok yang telah menyala ujungnya di permukaan bibirnya.
Sedangkan Andre kelihatan tampak kewalahan untuk bangun kembali dari jatuhnya. Andre tampak kelabakan kembali menerima serangan Sultonnirojim bertubi-tubi. Sementara anggota klan Lukman yang lain jua agaknya beberapa ada yang sudah babak belur.
“Lihatlah mereka lucu para klan Lukman itu. Begitulah kelemahan anak muda sekarang Wahyu. Mereka hanya gugup sebenarnya tanpa menyadari kualitas dalam diri sebenarnya. Aku rasa hanya masalah waktu saja untuk mengaktifkan kemampuan mereka sebenar-benarnya. Mereka jua butuh lawan yang tangguh untuk itu,” jawab Halilintar duduk berjongkok sambil melihat Andre yang tengah ditindih batu besar oleh Sultonnirojim dan hanya terlihat tangannya saja bergerak-gerak kesakitan.
“Tapi kita jua jangan terlalu keras dong Mas Hal sama mereka. Soalnya kali ini benar-benar perang Andre itu bisa saja terbunuh oleh Sulton. Sebab Andre belum jua menghilangkan kegugupannya,” ucap Wahyu melemparkan kerikil ke arah Sulton yang hendak menebas tangan Andre. Sehingga Sultonnirojim yang terkena lemparan kerikil Wahyu. Seketika terlempar jauh ke dinding sebelah kanan dari awal berdiri.
“Sudahlah Wahyu biarkan para pemuda klan Lukman itu berusaha semaksimal mereka. Bila memang sudah mentok tak bisa baru kita turun. Sulton itu satu tebas saja hancurkan,” ucap Halilintar.
Terlihat Andre mengangkat batu besar yang menindihnya. Tapi urung mengangkat Sulton sudah melontarkan kembali batu-batu besar ke arahnya. Sehingga Andre kembali tertimpa batu-batu besar.
“Ayo Andre kamu bisa...!” teriak Wahyu menyoraki Andre membuat pemuda klan Lukman yang lain malah heran dengan perilaku pemimpin utama mereka dan Halilintar yang menyadari itu tertawa terbahak-bahak.